Feature

Hujan Menahanku di Teras Rumah

Penulis: Andri Mohama


Jarum jam menunjukan pukul 21.00 Wita. Adzan isya sedang berkumandang, tiba-tiba handphone ku berbunyi tanda pesan whatsapp masuk. Ku buka pesan itu, ternyata Matt Rey Kartorejo teman saya yang mengirim pesan tersebut.

“Andri, kamari di rumah torang mo bekeng diskusi ringan tentang Momais. (andri kemari di rumahku kita akan melakukan diskusi ringan tentang Momais).” Nama Komunitas Momais diambil dari bahasa Mongondow yang berarti Menulis.

Aku membalas pesan tersebut, “Ok nanti abis mandi kita ka’ rumah.” ( Iya nanti selesai aku mandi baru aku  ke rumahmu).

Usai membalas pesan dari teman ku itu, ku ambil handuk dan masuk kamar mandi. Selang beberapa menit, aku keluar dari kamar mandi. Kuganti bajuku, lalu aku bersiap-siap pergi ke rumah Matt Rey dengan menunggangi sepeda motor matic jenis Honda Scoopy.

Sesampainya di rumah pria yang akrab disapa Matt Rey itu, sosok Dio Jubair salah satu teman sesama Komunitas Momais sedang duduk di kursi ukir berwarna coklat yang ada di teras rumah.

Aku turun dari motor matic dan melayangkan pertanyaan kepada Dio. “mana Matt dang?” (Mattnya mana).

Dio pun menjawab “Ada di blakang.” (lagi ada di belakang).

Mendengar jawaban Dio, aku  langsung duduk di sampingnya dan bercakap-cakap tentang kejadian banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra).

Asik berbincang dengan Dio, Matt Rey keluar dari dalam rumah menyapa kami. Sedikit bercanda, ia mengeluarkan suara candaan dengan bahasa Mongondow yang kerap ia gunakan ketika saya datang ke rumahnya.

“Dega niondon utatku?”

Sambil tersenyum, aku menjawab, “Iyo kasiang so dari tadi.” (iya kasihan sudah dari tadi).

Matt Rey duduk di depan pintu samping rumahnya, aku dan Dio di kursi ukir berwarna coklat, kami pun mulai bercanda dengan candaan khas masing-masing karakter dengan suara sedikit riuh.

“Ngana nda singga pa Gafur di tampa ba gunting pa dia?” (kamu tidak mampir ke tempat gunting Gafur). Pertanyaan itu Dio layangkan kepada ku.

“Nda no soalnya depe tampa gunting ada tutup.” (Tidak soalnya tempat guntingnya lagi tutup).

Pertanyaan itu ternyata disimak oleh Matt Rey. Sambil mengotak-atik handphonenya mencari musik yang akan diputar di speaker mini berwarna biru miliknya, ia menyuruh agar teman sesama Komunitas Momais Gafur Sarundayang, harus dijemput. Dengan memakai sepeda motor metik ku, Dio bergegas menjemput Gafur. Tidak lama kemudian Dio dan Gafur tiba di rumah Matt Rey yang terletak di Dusun lll Desa Bulawan, Kecamatan Kotabunan.

MENULIS BERITA, CERITA SEJARA DAN MUSIK SLOW

Berita yang jadi tanggung jawab kami setiap hari, mulai ditulis. Ditemani alunan lagu bernuansa slow dari grup band Naff, menambah semangat kami menulis.

Gafur yang duduk di depanku menulis sebuah cerita tentang sejarah Masjid pertama di Kecamatan Kotabunan, Matt Rey sendiri sedang berbincang dengan istrinya, sementara aku dan Dio menulis berita pemerintahan.

Malam itu cuaca sepertinya tidak bersahabat. Hujan yang turun tiba-tiba, membasahi pekarangan rumah. Kami tetap duduk di teras samping rumah berwarna kuning.

Foto: Halaman rumah Matt Rey.

Meski dingin malam mulai menusuk, kami terus membuat berita dan beberapa tulisan naratif.

Suasana sedikit hening, dari kejauhan, suara anak perempuan yang bernama Misel Virginia Kartoredjo terdengar. Ia
langsung duduk di antara aku dan Dio.


Kehadiran anak dari pasangan Matt Rey dan Risma Dama itu menambah suasana malam itu lebih berwarna.

Malam semakin larut hujan pun belum redah, Dio yang begitu peka dengan suasana, berinisiatif membuat kopi hitam. Tak lama kemudian, empat cangkir kopi hitam tersaji. Misel Virginia Kartoredjo sepertinya sudah sangat ngantuk dan langsung masuk kamar untuk tidur, sementara kami terus membungkukkan badan dengan memegang android masing-masing.

Usai menulis berita serta beberapa tulisan naratif, kami sedikit berbincang menunggu hujan reda, namun butiran air hujan terus membasahi pekarangan rumah.

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 Wita. Aku memutuskan untuk pulang ke rumahku. Gafur ikut dengan ku karena rumahnya searah dengan rumahku.

“Kita somo pulang ne so jam satu ini.” (Aku pulang ya sudah jam satu).

Matt Rey, dan Dio menjawab Ucapanku kemudian berdiri dan masuk ke dalam rumah. BERSAMBUNG.

 

 

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button