Akhir Pekan di Tanjung Kotabunan Selatan

0
88

Jarum jam menunjukkan pukul 16.51 Wita, tiba-tiba Resta anakku memanggil ku untuk mandi di pantai Tanjung Kotabunan. Resta yang baru umur 3 tahun lebih itu, tertarik dengan pantai Tanjung Kotabunan Selatan. Sepertinya Resta kerap melihat orang-orang yang menikmati air garam pada sore hari di lokasi itu.

Aku bergegas untuk berangkat ke Tanjung Kotabunan Selatan. Jarak rumahku ke Tanjung Kotabunan Selatan kurang lebih dua kilometer. Dengan menggunakan sepeda motor matik, aku dan Resta menuju ke tanjung.

Setibanya di pesisir Kotabunan Selatan, aku dan buah hati disambut gemuruh ombak. Bibir pantai yang begitu indah, membuat Resta tak tahan untuk mandi. Ia langsung menarik tanganku.

Sore itu begitu banyak pengunjung yang berasal dari seputaran Desa Kotabunan dan Bulawan Bersatu. Ada juga sebagian berasal dari desa-desa tetangga.

Foto: Dewan Paputungan yang membawa mainan anak-anak untuk ditawarkan ke pengunjung.

Ketika aku menuruti kemauan anakku untuk manti di pantai, aku melihat Dewan Paputungan. Dia adalah  temanku di Komunitas Momais.

Pria yang akrab disapa Dewan itu merupakan warga masyarakat Desa Bulawan, Kecamatan Kotabunan. Dengan wajah tersenyum, Dewan menawarkan permainan anak-anak berupa ban yang terbuat dari karet. Orang Kotabunan bisa menyebut (Benen). Dewan juga menawarkan rompi untuk dipakai berenang. Anakku meminta untuk memakai benen yang mirip bebek. “Wan, brapa kalu mo sewa tu benen.” (Wan berapa kalau disewakan benennya). 

Pertanyaan yang aku layangkan dijawab oleh Dewan.

“Lima belas ribu sampe puas,” jawab Dewan spontan.

Aku Pun langsung mengambil benen tersebut dan kuberikan kepada Resta. Resta begitu bahagia. Kelihatan ia  bermain dengan asyik di atas benen yang aku sewa dari Dewan.

ADA SUARA KERAS MEMANGGIL

Lagi asik-asiknya melihat buah hatiku bermain benen, tiba-tiba suara yang tidak asing di telingaku memanggil.

Baca Juga:   Pemdes Bulawan Terus Lakukan Antisipasi penyebaran Covid-19

Andriiii! Aku menoleh ke arah suara itu, ternyata Paman Utung. Paman Utung adalah penasehat Komunitas Momais. Ternyata paman juga sedang asik menikmati air laut di pantai Tanjung Kotabunan Selatan bersama temannya. 

Foto: Pengunjung yang datang di Pantai Tanjung Kotabunan Selatan. (Foto Andri Mohama).

Sore itu, Pantai Tanjung Kotabunan Selatan banyak sekali pengunjung. Deburan ombak menambah suasana tambah meriah. Hamparan pasir hitam membuat para pengunjung ingin berlama-lama di lokasi itu. Dewan terus menawarkan permainan air miliknya, aku dan Resta terus mencelupkan badan di air, begitu juga Paman Utung.

RESTA DIAWASI ISTRIKU

Resta terus menikmati air laut yang segar. Riak ombak terus menyapa para pengunjung yang datang. Resta yang sedang asik mandi tidak menghiraukan deretan gelombang yang menghantam bibir pantai. Tiba-tiba istriku muncul, karena saat aku dan anakku pergi ke Tanjung Kotabunan, istriku lagi menyelesaikan pesanan kue ulang tahun. Istriku mengatakan, nanti selesai bikin kue baruia akan menyusul aku dan anakku.

Fera nama Istriku. Ia menatap Resta yang sedang asik mandi. Aku pun langsung menyuruh istriku untuk mengawasi anakku yang lagi asik bermain benen dan menghampiri Paman Utung yang baru usai mandi.

Paman sedang asik bercerita dengan seorang polisi, namanya Irwan Mokodompit dan disamping nya ada Ade Herly, Sekretaris Dewan (Sekwan) Kabupaten Boltim. Pak Irwan dan pak Sekwan datang dengan membawa anak-anaknya untuk mandi di Pantai Tanjung Kotabunan.

Foto: Paman Utung sedang bercerita dengan pak Irwan. (Foto Andri Mohama).

Sang surya mulai kembali ke peraduan. Orang-orang yang datang ke Tanjung Kotabunan, mereka membawa keluarga dan anak-anak, ada juga yang datang bersama teman-teman dan melakukan kegiatan bakar-bakar ikan di pingir pantai.

Aku, Paman Utung, Pak Irwan, dan Pak Sekwan, duduk di pasir pantai sambil bercerita tentang politik, vaksin, dan indahnya Pantai Tanjung Kotabunan.

Baca Juga:   Berlatih Berbagi Momais
Foto: Resta lagi asyik mandi di pantai Tanjung Kotabunan.

Matahari mulai istirahat, senja akan berganti malam. Paman Untung berdiri dan berpamitan untuk pulang, pak Sekwan dan pak Irwan juga berdiri dan beranjak. Semntara aku sendiri berdiri dan menghampiri istri dan anakku untuk mengajak mereka pulang karena sudah tidak lama lagi akan memasuki waktu Magrib.

Foto: Resta anakku. (Foto Andri Mohama).

“Minjo somo pulang dari sadiki lagi somo Magrib kong anak lagi so dingin.” ( ayo kita pulang karena sedikit lagi sudah hampir Magrib dan lagian anak sudah kedinginan).

Ajakkan istriku itu langsung kurespon.

Akhirnya Aku, istriku, dan anakku Resta pulang ke rumah. 

Penulis: Andri Mohama