Feature

Kisah Warga Bulawan Dua Meninggalkan Tanah Totabuan

Oleh: Djumadi Bawenti


MINGGU 5 Maret 2022, warga Desa Bulawan Dua, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), berkisah tentang pengalamannya di dunia tukang. Hairun Kadir namanya.

Saat ditemui, pria yang akrab disapa Hairun itu sedang asyik duduk di samping rumahnya sambil mengangkat kaki sebelah kanannya. Warga dusun satu ini menceritakan tentang pengalamannya pada tahun 90-an.

Dikatakannya, pada tahun 1998 dirinya sudah melakoni profesi sebagai tukang bangunan. Meski pendapatan perhari sangat minim, tapu ia mengaku cukup untuk biaya hidup keluarga.

“Waktu itu gaji tukang baru 14000 rupiah, tapi gaji itu cukup untuk menafkahi istri dan anakku Jodi,” ujar Hairun.

Pada tahun 2007, Hairun meninggalkan Tanah Totabuan. Ia merantau ke Kota Ternate Maluku Utara, untuk mencari nafkah demi keluarga yang ia cintai.

“Aku meninggalkan Tanah Totabuan, pergi merantau ke negeri jirah Kota Tarnate, untuk mencari nafkah. dengan tujuan bekerja bangunan. Saya membawa anak dan istriku,” tutur Hairun.

Sesampainya di Kota Ternate, Hairun dan keluarga kecilnya masih melanjutkan perjalanan menuju ke Desa Pala Jawa. Perjalanan kali itu cukup melelahkan, maklum baru kali itu Hairun dan keluarganya melakukan perjalanan panjang.

“Sesampainya di Desa Pala Jawa, aku dan keluargaku beristirahat di mes yang sudah disediakan. Aku melihat istri dan anakku sangat lelah karena baru kali ini melakukan perjalanan panjang. Keesokan harinya aku langsung kerja bangunan.

Seiring waktu berjalan, akhirnya bangunan yang dikerjakan di tempat itu, selesai.

“Saya dan keluargaku kemudian pindah ke Desa Bukit Tinggi. Aktivitas yang aku lakukan seperti biasa, kerja bangunan demi menafkahi keluargaku.
Hari demi hari aku lewati tidak ada kata menyerah, karena aku pikir aku dan keluargaku hidup di Rantau orang,” ungkap Hairun.

Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa sudah setahun Hairun berada di perantauan, Dia kemudian mengajak anak dan istrinya untuk kembali menginjakkan kaki di Tanah Totabuan.

TINGGAL DI RUMAH SEDERHANA, HAIRUN MENGAKU BAHAGIA BERSAMA KELUARGA

Hairun dikenal pekerja keras. Berkat kerja kerasnya, ia sekarang bisa membangun rumah. Meski rumah miliknya itu hanya berukuran 6X7 meter, Hairun mengaku sangat senang dan bisa hidup bahagia bersama keluarga.

“Sambil menunggu pekerjaan, aku meluangkan waktu untuk membersihkan halaman rumah walaupun hanya sederhana berukuran  6×7, keluargaku hidup bahagia dan itu hasil keringatku sendiri,” ucapnya.

Sekarang ini hairun hanya berharap ada yang mau memberikan bantuan, sebab dia masih kekurangan peralatan tukangnya.

Tak terasah sudah berjam-jam aku mendengar kisah Hairun, waktunya aku pamit kepada Hairun dan bergegas pergi. Sesampainya di rumah, kisah Hairun Kadir saya tulis mudah-mudahan ada hikmahnya. (*)

 

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button