Kecupan Orang Tua Pacu Beeg Kejar Cita-Cita

0
12

Oleh: Matt Rey Kartorejo


MALAM ITU bintang-bintang di langit Timur Totabuan bersinar terang. Beberapa pemuda sedang berkumpul di dapur sederhana yang berada di Desa Bulawan, Kecamatan Kotabunan.

Mereka menatap gelap yang kian pekat. Ada harapan yang jadi ekspektasi. Ada keyakinan, siapa pun bisa jadi apapun.

Senin, 23 Mei 2022, sekira pukul 23.36 Wita, di balik dinding dapur yang masih kasar, para pemuda itu serius berdiskusi. Mereka membahas tentang dunia pendidikan.

Riky, Eja, Wiranto dan Dio, asik mendengar kisah seorang pemuda asal desa Kotabunan tentang pengalamannya saat masuk pendidikan di perguruan tinggi. Laki-laki itu sempat pesimis lantaran tak diterima di kampus favoritnya. Alur yang dia tuturkan membuat sejumlah pasang mata fokus tertuju kepadanya.

Icat nama lelaki itu. Begitulah orang Kotabunan menyapanya. Ia terlahir dari keluarga sederhana. Pemuda bernama lengkap Rizad Beeg ini setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Kotabunan, memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Motivasinya melanjutkan pendidikan bukan dorongan dari kedua orang tuanya, tapi dari dirinya sendiri.

Semangat pria kelahiran Kotabunan 1996 ini semakin menggebu ketika mengetahui ibunya menyetujui ia melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Ayahnya juga demikian. Sebagai orang tua, bapaknya sangat mendukung niat baik anaknya itu dengan satu pesan, jangan menyerah dan terus berjuang demi masa depan yang cerah.

“Papa bilang kalu mo kuliah, kase klar itu kuliah,” ujar Icat.

Asa anak sulung dari buah hati Zakaria Beeg dan Fatima Noyo ini sempat sedikit tersendat. Awalnya ia mau kuliah di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Kala itu, Icat mengambil dua jurusan yakni Agri Bisnis dan Peternakan. Mengambil jurusan peternakan karena ia sangat tertarik dengan jurusan itu. Namun impiannya itu sirna. Ia tak diterima di kampus itu lantaran dianggap sebagai orang yang mampu.

“Saya lulus di Unsrat, Peternakan. Pas waktu itu saya ambil beasiswa yang kurang mampu. Waktu diwawancara saya dinyatakan lulus untuk beasiswa kurang mampu. Tapi belum sepenuhnya karena masih dilanjutkan dengan penelitian.
Waktu tim dari Unsrat turun untuk penelitian, mereka mendapati rumah saya dan langsung mengambil foto. Saya kemudian ditelpon, lalu dipanggil ke kampus dan dinyatakan masih tergolong orang mampu. Artinya saya belum bisa diterima. Akhirnya saya tidak jadi masuk di Unsrat,” ujar alumni SMAN 1 Kotabunan ini.

Ia sempat kecewa namun tak putus asa. Icat kemudian mencari alternatif lain biar boleh melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi.

BERLABUH KE IAIN MANADO

Setelah gagal masuk Unsrat Manado, kekecewaan Icat sedikit terobati. Ia mencoba mendaftar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado. Bertepatan pada waktu itu masih dibuka pendaftaran.

Keinginan Icat semakin bertambah dengan adanya dukungan dari orang di sekitarnya. Tantenya yang memotivasi sehingga mampu membuatnya lebih fokus dan yakin dengan tujuan hidup yang ingin dicapai.

“Yang mendorong saya kuliah di IAIN yaitu Ani, tante saya. Ani yang yang cerita ke papa saya soal kampus IAIN. Karena papa saya tahu kalau IAIN adalah sekolah agama, maka papa saya bilang kuliah saja di situ. Dengan catatan harus dengar-dengaran sama papa,” kata Icat.

Akhirnya Icat melanjutkan pendidikannya di IAIN Manado, mengambil jurusan Management Pendidikan Islam.

FOKUS KULIAH UNTUK MEMBAHAGIAKAN ORANG TUA

Setelah memilih kuliah di IAIN Manado, tujuan dalam hidup Icat hanya satu, fokus dan harus menuntaskan kuliah agar orang tuanya bangga.

Menurut mahasiswa yang hobi mendaki ini, untuk menggapai kesuksesan tidak ada yang tidak mungkin. Apa yang diinginkan pasti bisa tercapai, asal sabar dan selalu berusaha.

Ketika Icat masuk IAIN Manado pada 2016 silam, banyak suka duka yang ia rasakan. Kadang ada kebahagiaan ketika ia bergaul dan beradaptasi dengan orang-orang baru di kampus. Di sisi lain, ia kerap merasakan pahitnya hidup. Apalagi ketika belum ada kiriman uang dari orang tua, ditambah tugas-tugas kampus sangat menyulitkan bagi Icat.

“Suka duka saya waktu kuliah, pertama saya senang bergaul dan dapat suasana baru. Beradaptasi dengan orang orang baru membuat hati saya senang. Tapi ada juga dukanya. Misalnya kalau sudah tidak ada apa-apa, atau belum ada kiriman. Apalagi ada tugas-tugas dari kampus, itu yang saya rasa berat,” tutur Icat sedikit terkeke.

Di ujung waktu pendidikannya, Icat hanya ingin bersungguh-sungguh menjalani semester akhir. Pesan papanya masih tertanam rapi di taman hatinya.

Meski banyak kesulitan yang dihadapi, baginya bukan sesuatu yang harus diratapi, tapi membuat ia semakin gigih dan kuat. Ia pun optimis bisa menuntaskan kuliahnya.

“Saat sekarang saya hanya fokus kuliah. Dan saya yakin akan menuntaskan kuliah. Sebab kalau tidak menuntaskan kuliah kemudian pulang kampung, saya juga yang malu. Orang tua juga menanggung malu. Jadi, biar lama, asalkan kuliah saya selesai,” ucap pria yang sangat menyukai warna biru ini.

Icat berjanji akan membanggakan orang tuanya. Ia berharap kesuksesan selalu menyertainya biar kedua orang tuanya bangga.

“Papa bilang kase klar itu kuliah. Itu yang kita salalu inga. Kita bilang pa papa, iyo, deng kita akan berusaha supaya orang tua nda mo kecewa,” ucap anak sulung dari dua bersaudara ini.

Kata Icat, cinta dan kasih sayang orang tuanya sangatlah besar dan tidak dapat tergantikan dengan cara apapun, sehingga ia akan terus berusaha semampunya untuk membahagiakan mereka.

“Saya selalu berusaha untuk terus bisa membahagiakan orang tua. Dengan memberikan perhatian lebih maupun dukungan, itu sudah sangat membahagiakan orang tua saya. Dan mudah-mudahan orang tua saya selalu diberikan kesehatan,” ucap Rizad. (*)