Bolmong RayaFeature

Kisah Kakek 45 Tahun Menginjakkan Kaki di Tanah Totabuan

Penulis: Sunadio Djubair

 


MENJADI perantau bukanlah hal yang ringan, terkadang tersekat dengan keluarga dan harus menyesuaikan dengan lingkungan baru, suasana baru, dan budaya baru.

Ketika merantau kita bakal tahu berjuang itu apa, proses itu apa, kehidupan itu apa, dan menjadi kuat itu seperti apa.

Berpisah dengan keluarga memang sangat berat, namun bagi Jabar Ahula, keluar dan merantau di negeri orang ia bisa tahu bagaimana menjalani hidup dan kehidupan.

Sejak usia sepuluh tahun, pria kelahiran Sangihe 1945 ini meninggalkan tanah kelahirannya menuju Kota Bitung, Sulawesi Utara. Di Bitung ia tinggal dengan keluarga di pulau Lembe tepatnya di Desa Batu lubang. Di sana, ia tak memilih pekerjaan, sehingga apa saja yang boleh dikerjakan ia lakukan asalkan menghasilkan uang.

Dua tahun kemudian, Jabar Ahula bekerja di pelabuhan Bitung sebagai buru bagasi. Di usia yang masih sangat muda itu, ia gunakan untuk bekerja demi mendapatkan pundi-pundi rupiah. Tidak ada waktu berpangku tangan. Menurut Jabar, tinggal di negeri orang harus bekerja agar mendapatkan uang untuk menyambung biaya hidup.

“Umur 12 tahun saya kerja di pelabuhan memikul barang-barang,” ujar Jabar saat berbincang-bincang pada Selasa 26 Juli 2022.

Puluhan tahun ia menggeluti pekerjaan sebagai buru bagasi. Kadang jika belum ada job, ia mencari pekerjaan sampingan sebagai nelayan.

Setelah Jabar Menikah, ia tetap bertahan di Desa Batu Lubang. Aktivitasnya sehari-hari seperti biasa, kerja di pelabuhan dan menaklukan laut. Hasil dari pernikahannya dikaruniai tiga orang anak laki-laki.

Pada tahun 2005, awan duka menyelimuti keluarga Jabar. Ibu dari anak-anaknya meninggal dunia. Hatinya sangat terpukul, namun ia menerima kenyataan itu dengan penuh kesabaran.

Baca Juga:   Peringatan HUT KORPRI ke-51, Besok Pemkab Boltim Gelar Upacara

“Istri saya meninggal tahun 2005. Anak saya tiga orang semuanya laki-laki. Yang satu menikah di Desa Paret Timur,” kata Jabar.

Berkelana ke Negeri Seibu Danau

Setelah kepergian mendiang istri tercinta, Jabar mulai terpisah dengan keluarganya. Anak-anaknya telah menikah dan tinggal dengan istri mereka. Anak sulungnya kawin di Desa Paret Timur, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).

Kala itu, pria yang akrab disapa Papa Latif ini merasa sangat kesepian. Ia kemudian diajak anak sulungnya untuk menjajakan kaki ke Tanah Totabuan Timur.

Sebelum memutuskan berkelana ke negeri ‘Seribu Danau’, Jabar masih enggan meninggalkan kampung halamannya. Namun, setelah terus diajak anaknya, akhirnya ia menuruti kemauan anaknya dan berlabuh ke Bolaang Mongondow Timur.

Menjalani hidup baru di Boltim, benar-benar di luar dugaan. Rindu akan kampung halaman sudah tidak terbayangkan. Ia sudah betah di negeri para Bogani dan tidak ada lagi niat kembali ke kampung halamannya.

“Anak saya bilang pindah sini jo (Desa Paret Timur), sehingga saya mengikuti ajakan anak saya. Kebetulan anak saya kawin di sini. Sekarang saya sudah nyaman tinggal di sini dan tidak ada niat lagi kembali ke Bitung,” ucap pria 77 tahun ini.

Jabar sedikit berkisah tentang kedatangannya pertama kali ke Boltim. Kata dia, saat meninggalkan Kota Bitung, ia merasa sangat kesulitan mencari pekerjaan. Alasan Ia mencari pekerjaan, lantaran tidak mau merepotkan anaknya.

Ia kemudian kembali melaut. Jika cuaca buruk, Jabar kerja di kebun tetangganya.

“Waktu dari Bitung, mencari pekerjaan sangat sulit. Akhirnya saya kembali kerja memancing ikan dan kadang kerja di kebun orang asalkan menghasilkan uang,” tutur pria yang sudah mempunyai 8 orang cucu ini.

Baca Juga:   Bupati Sachrul Pimpin Upacara Bendera Peringatan HGN ke-77

Pengalaman pahit ketika melaut, pria berdarah Sangihe ini pernah perahunya tenggelam lantaran diterjang ombak, terpaksa tali sauh perahu dipotongnya agar tidak terlalu fatal.

“Pernah perahu saya tenggelam waktu memancing karena ombak besar. Saya potong tali jangkar kemudian air didalam perahu saya keluarkan. Saya hanyut dibawa arus sampai di Pulau Nenas,” kenang Jabar.

Beruntung saat kejadian itu, ia tidak khilaf, sehingga ia selamat dari tingginya gelombang dan derasnya arus.

Sekitar tuju tahun menetap di Boltim, Jabar sudah merasa nyaman. Pekerjaan sebagai nelayan tidak lagi ia lakukan. Di usia senja, anaknya meminta agar tidak perlu bekerja. Permintaan itu sebagai bentuk perhatian anak terhadap orang tua.

Tetangga Jabar juga sayang kepadanya. Kerap ada yang menemuinya memberikan uang utuk beli obat.

Pensiun dari pekerjaan sebagai pengail, kini Jabar diberikan pekerjaan oleh Sangadi (kepala desa) Paret Timur. Ia menjaga mobil-mobil pengangkut pasir di pesisir Paret Timur.

“Sekarang saya bekerja menjaga mobil-mobil yang masuk mengangkut pasir di sini (Paret Timur). Dengan pekerjaan ini saya sudah sangat bersyukur. Saya tinggal di sini sudah betah dan tidak mau lagi pulang ke kampung halaman saya,” ungkap Jabar Ahula sembari tersenyum. (Young)

 

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button