Minahasa RayaRagam

Digagas Waraney Wuaya dan Tou Mu’ung Wuaya, Sekolah Adat ‘Kawasaran’ Sukses Digelar

Tondano, Timur times.com – Sekolah adat ‘Kawasaran’ sukses digelar. Agenda yang digagas oleh dua sekolah adat yakni Waraney Wuaya dan Tou Mu’ung Wuaya ini, berlangsung di Pa’dior, Pusat Kebudayaan Sulawesi Utara, Desa Pinabetengan, Kabupaten Minahasa, mulai Jumat (2/9/2022) sampai Sabtu (3/9/2022).

Terpantau media ini, kurang lebih 50 sarian (pemimpin) dan penggerak kawasaran dari berbagai pelosok daerah di se-Sulawesi Utara (Sulut), duduk bersama berbagi cerita.

Rinto Taroreh, penggerak Sekolah Adat Waraney Wuaya menuturkan, tema khusus dalam sekolah adat kali ini adalah ‘Kawasaran: Menjadi Kelung um Banua (pelindung negeri)’.

“Berbagai pengetahuan, hingga pengalaman dan tantangan soal Kawasaran jadi bahan diskusi,” kata Taroreh ketika diwawancarai usai kegiatan.

Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2020 kategori pelestari oleh Presiden Republik Indonesia ini berpendapat, tradisi Kawasaran jelas berbeda dan memiliki ciri khas di masing-masing wanua atau roong (kampung). Namun, ada yang sama dalam visi para penggeraknya yakni upaya melestarikannya dalam berbagai ruang hidup.

“Kita memang berbeda, memiliki ciri khas masing-masing, tapi punya visi yang sama yaitu bagaimana membangun kawasaran dan menjaga konsistensi perjuangan itu,” aku Taroreh.

Sang mestro kawasaran Sulut ini pula mengatakan, ruang belajar ini sangatlah penting dan adalah tanggung jawab bersama dari tou (orang) Minahasa sebagai sarana edukasi.

Seperti biasa dalam kegiatan-kegiatan sekolah adat, kunci kesuksesan kegiatan ini adalah ‘rukup’. Sebuah tradisi warisan leluhur Minahasa.

“Kegiatan ini boleh digelar karena rukup. Samua yang datang, beri apa yang ada dari masing-masing secara sukarela. Rukup memang luar biasa. Ya, tradisi saling baku tongka (saling menopang) yang diwariskan para leluhur,” kunci Taroreh.

Diketahui kegiatan sekolah adat ini membahas sejumlah materi tentang Kawasaran, yang dipantik oleh beberapa narasumber. Materi Sejarah Kawasaran (Rikson Karundeng), Kawasaran dan Tradisi Pelindung Negeri (Maestro Kawasaran Rinto Taroreh), Foso dan Kawasaran (Rikson Karundeng dan Rafael Taroreh), Sombol-Simbol dalam Kawasaran (Rikson Karundeng dan Gerard Tiwow), Sastra Kawasaran (Fredy Wowor, Sarian Supit Karundeng), Musik Kawasaran (Andre Lengkong dan Inri Lengkong), Jurus-Jurus Kawasaran (Gravit Toalu). (Etzar Tulung)

Baca Juga:   Dispora Sulut Sukses Gelar Bimbingan Pelatihan Bagi Wirausaha Muda

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button