HiburanMinahasa RayaPendidikanRagamTerkini

Sukses Gelar FFW, Pukkat Tuai Apresiasi

Minsel, Timurtimes.com – Festival Film Wanua’ (FFW) menghentak wilayah Selatan tanah Minahasa. Para sineas, komunitas film, pencinta film di Minahasa raya, sederet pejabat pemerintah kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), hingga masyarakat dari berbagai kalangan usia, bersua di Wale Petaupan, Roong (Desa) Wuwuk, Kecamatan Tareran, 11 Februari 2023. Event yang diorganisir Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (Pukkat) ini menuai reaksi positif berbagai kalangan.

Irawati Usman dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVII, Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Ronald Paath, S.Pt., M.Si., Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu yang mewakili Bupati Minsel, tampil untuk memberikan sambutan dan pujian. Beragam kalimat dukungan dan penguatan mengalir dari Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Minsel, Dr. Fietber Soleman Raco, S.Pd., M.Si. Apresiasi juga datang dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Minsel, melalui Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan James Mawikere, S.E., M.Si., Hukum Tua (Kepala Desa) Wuwuk, Masri Mamesah, termasuk tokoh pemuda Sulawesi Utara, Donny Rumagit, S.Pt., S.H., yang turut memberi dukungan dan semangat bagi para sineas muda yang hadir.

Rangkaian acara pemutaran film, diskusi dan apresiasi bagi para sineas serta komunitas film di Tanah Minahasa yang dipandu Director Komunitas Penulis Mapatik, Rikson Karundeng ini, ikut menghadirkan sejumlah narasumber untuk mengulas tema diskusi “Wanua: Pusat Kreativitas Para Sineas dan Komunitas Film di Sulawesi Utara”. Dua orang sineas yang memilih kampung sebagai pusat kreativitas, Joacquin Rumagit dan Indra Lumantow, serta pemerhati film yang juga wakil rakyat di DPRD Sulawesi Utara, Sandra Rondonuwu, S.Th., S.H.

Ketua Pukkat, Dr. Denni Pinontoan, M.Teol., berterima kasih dan memberi apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini.

“Terima kasih untuk pemerintah daerah Minahasa Selatan, para pejabat yang sudah hadir dan memberikan apresiasi secara langsung. Terima kasih untuk para sineas, terlebih Joacquin Rumagit dan Indra Lumantow, Ibu Sandra Rondonuwu yang sudah berbagi pengalaman, pengetahuan yang sangat memotivasi dan memberi inspirasi bagi para generasi muda. Terima kasih untuk Pak Hukum Tua Masri Mamesah, seluruh perangkat dan masyarakat desa Wuwuk, bahkan Wuwuk raya, yang sudah memberikan dukungan nyata,” ucap Pinontoan.

Ia mengatakan Festival Film Wanua merupakan rangkaian sejumlah kegiatan. Mulai dari sosialisasi dan pendataan sineas, komunitas film dan karyanya, penulisan buku profil filmmaker dan komunitas film, serta materi karyanya, pemutaran film dan diskusi keliling di enam lokasi berbeda di tanah Minahasa, hingga seminar film yang membahas tentang proses kreatif, isi dan tema film.

Dijelaskan, Festival Film Wanua yang diorganisir Pukkat ini didukung sepenuhnya oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi RI lewat Program Sinema Mikro, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Dana Indonesiana.

“Kegiatan festival film yang ditunjang oleh Kemendikbudristek dan LPDP ini menjadi wadah ekspresi, apresiasi dan edukasi,” ucapnya.

Pinontoan juga menjelaskan kenapa secara spesifik festival film ini diberi tema ‘Festival Film Wanua’. Menurutnya, ‘wanua’ dalam pengertian tradisi orang-orang Minahasa menunjuk pada kampung atau desa, sebagai suatu kesatuan adat yang dialami secara spiritual dan sosial.

“Pada komunitas wanua, tou atau manusia, dan sumber daya alam yang berfungsi secara praktis untuk kehidupan, yaitu dalam bentuk wale atau papan, kan atau pangan dan karai atau sandang, membentuk suatu praktik dan etik. Secara teknis, tema ini menunjuk pada ruang lingkup dan materi film,” paparnya.

Ketua Panitia Festival Film Wanua, Yonatan Kembuan, M.Teol., menjelaskan lebih lanjut jika Festival Film Wanua ini sebenarnya sudah didahului dengan berbagai publikasi, sosialisasi, dan workshop film, di sejumlah wanua atau roong di Minahasa.

“Sejak bulan Juli 2022, Pukkat sudah mulai dengan publikasi. Bekerja sama dengan Smartphone Movement dan Komunitas Penulis Mapatik, kami juga menggelar workshop film kepada para pemuda dan remaja di kampung-kampung. Itu sekalian sosialisasi, mengajak para filmmaker dan komunitas film di Minahasa untuk bergabung dan membawa karya filmnya, kemudian kita putar dan tonton bersama,” ungkap Kembuan.

Dijelaskan juga, puluhan komunitas film yang sudah mendaftar secara resmi untuk terlibat dalam rangkaian Festival Film Wanua, telah melalui beberapa tahapan. Mulai dari pendaftaran secara langsung ke Pukkat atau melalui website resmi https://festivalfilmwanua.com.

“Jadi, filmmaker dan komunitas yang terlibat, mereka sudah mengisi formulir pendaftaran. Kemudian ada proses kurasi. Film yang sudah dikirimkan, diseleksi oleh penyelenggara festival berdasarkan kriteria yang ada. Film terpilih yang kemudian diputar dalam roadshow pemutaran film Festival Film Wanua,” papar Kembuan.

Pantauan di lokasi kegiatan, sepanjang acara Festival Film Wanua berlangsung di Wale Petaupan Desa Wuwuk, beragam apresiasi mengalir dari sejumlah kalangan yang hadir. Mereka menyebutkan, sejak lama festival film seperti ini baru pertama kali mereka saksikan di wilayah Minahasa Selatan. (Etzar Frangky Tulung)

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button