Feature

Cerita Masri Hala, Sosok Sangadi Visioner

Oleh: Mat Rey Kartorejo

RABU  7 Juni 2023, cuaca di Desa Bulawan, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), cukup bersahabat.
Kaki gunung Tongsile yang biasanya tertutup awan hitam kelihatan cerah.

Kala itu aku dan Rinto Lakoro sedang berbincang di rumahku. Tak lama, ia mengajakku pergi ke kediaman Sangadi (Kepala Desa) Bukaka, Masri Hala.

Di sana, kami berniat akan pergi ke Desa Bukaka untuk menemui sejumlah aparat desa. Tujuannya memastikan pelaksanaan kerja bakti untuk perbaikan ruas jalan Kotabunan-Bukaka yang sudah rusak parah.

Sebelum berangkat, kami sempat menikmati kopi hitam di kediaman Sangadi. Menghabiskan beberapa batang rokok lalu bertolak menuju desa Bukaka menggunakan sepeda motor.

Aku berboncengan dengan Rinto Lakoro, sementara Sangadi Bukaka, Masri Hala, mengemudi motornya sendiri.

Selang beberapa menit, hawa dingin khas pegunungan mulai terasa. desa Bukaka sudah di depan mata. Suara keluh dari Rinto Lakoro terdengar dari belakang. Sepertinya ia merasa kedinginan.

“Pedingin skali eh. Dapa lupa bawa jeket,” kata Rinto.

Mendengar ucapan itu, aku hanya melempar senyum. Masri yang menatapku dari belakang juga ikut tersenyum sembari tertawa.

Setelah menyusuri jalan yang berlubang dan menanjak, kami pun tiba di desa Bukaka.

Rumah Juanda Malintoi yang jadi tujuan pertama kami. Ia merupakan Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat (Kaur Kesra) di desa tersebut.

Sebelum menemui Kaur Kesra, Sangadi Masri terlebih dahulu mengantar mantan Sekdes Bukaka ke rumahnya yang ia boncengi saat bersua di jalan.

Usai membawa eks aparat desa Bukaka itu, motor kembali mengarah ke rumah Kaur Kesra.

Tampak Sangadi Masri Hala saat mengantar mantan Sekdes Bukaka. (Foto Rinto Lakoro)

Setelah mengucap salam, tak lama pria yang akrab disapa Papa Ula itu keluar dari dalam rumah dan mempersilahkan masuk.

“Mari masuk,” ajak Papa Ula.

Sekira sepuluh menit berbincang di rumah Kaur Kesra, kami kemudian menemui Kaur Pemerintahan, Asrun Timbalo.

Ketika sampai di kediaman Asrun, ia tak berada di rumah. Di sana hanya ada istri dan anaknya.

Kami memutuskan untuk menunggunya, sebab ada hal penting yang akan disampaikan.

“Sadikileh Papa Alul mo pulang,” ujar Istri Asrun, sembari menawarkan kopi hitam. Tak lama, empat gelas kopi hitam mulai tersaji di atas meja.

Sangadi Masri kembali melanjutkan perbincangan dengan Kaur Kesra ditemani Rinto Lakoro. Ia mendesak agar jalan Bukaka harus diperbaiki sebab sudah banyak masyarakat yang mengeluh.

Menurut Masri, jalan yang menjadi akses utama masyarakat Bukaka itu harus dilakukan penambalan agar pengguna jalan, utamanya para petani tidak kesulitan ketika mengangkut hasil pertanian.

Kondisi jalan Bukaka yang sudah rusak. (Foto Mat Rey)

Sangadi Masri, Kaur Kesra, dan Rinto masih berbincang. Aku kemudian keluar dan melihat telaga kecil di samping rumah bapak Asrun. Ikan mas yang bermain di dalam telaga membuat suasana hati jadi tenang. Mataku terus menatap ikan yang bermain di atas air.

Telaga ikan itu dikelilingi oleh pemandangan alam yang menakjubkan, seperti perbukitan hijau, pepohonan, dan langit biru yang cerah. Pemandangan ini menciptakan suasana yang menenangkan dan membuat aku merasa terhubung dengan alam.

Suara gemericik air, semilir angin di sekitar telaga ikan, membuat bunyi-bunyi alam ini memberikan sentuhan harmonis dan alami nan menambah suasana damai.

“Marijo mo sepanas sadiki supaya sadap,” kata Masri sambil menunjukkan kopi hitam.

Aku kemudian masuk di ruang dapur dan menyeruput kopi yang sudah tersaji sambil menikmati sebatang rokok.

Kolam ikan milik Asrun Timbalo. (Foto Mat Rey)

Sekira pukul 16:40 Wita, bapak Asrun belum juga muncul, cerita tentang cuaca Bukaka pun mulai mencuat. Rinto yang duduk pas di depan ku merasakan segarnya udara di desa Bukaka.

“Di sini bagus karena belum ada polusi. Udaranya masih segar,” ujar Rinto.

Sekitar 20 menit kami berbincang, bapak Asrun yang kami tunggu akhirnya muncul kemudian duduk bersama kami.

Sangadi Masri langsung menyampaikan maksud dan tujuannya.

Ia mengatakan bahwa akhir pekan para aparat desa Bukaka akan melakukan kerja bakti. Mendengar ucapan Sangadi, bapak Asrun menyampaikan beberpa saran dan masukan.

“Kalu boleh hari Minggu jo karna kita masih mo batanam milu di kobong,” kata Asrun.

Saran salah satu aparat desa itu ditepis oleh Sangadi.
Ia mendesak agar kerja bakti harus dilaksanakan pada akhir pekan.

Dengan bebagai pertimbangan, rencana kerja bakti akhirnya mendapat kesepakatan dan akan dilaksanakan pada hari Sabtu.

Menurut Masri, ruas jalan Kotabunan Bukaka sudah sangat memprihatinkan sehingga pelaksanaan kerja bakti harus cepat dilakukan sebab hal itu sangat penting.

“Yang urgen hari ini adalah jalan,” ujar Masri.

Pada pukul 17:45 Wita, empat gelas kopi telah habis. Tak lama kami  berpamitan. Tujuan terakhir menemui Sekretari Desa (Sekdes) Bukaka, Moh. Rivghandi Paputungan.

Saat menuju rumah Sekdes, azan mulai berkumandang. Kaur Kesra yang tadinya bersama dengan kami sudah tidak ikut sebab ia mau menunaikan salat Magrib.

Sesampainya di wisma Sekdes, hari mulai gelap. Sangadi Masri dan Rinto duduk bersama Sekdes, aku masih melihat telaga di depan rumah. Tak lama aku duduk bersama mereka.

Dalam perbincangan yang singkat itu, Sangadi hanya memastikan rencana kerja bakti pada akhir pekan. Sekdes pun sepakat dengan rencana Sangadi Masri. Usai menyampaikan maksud dan tujuan, tak disangka istri Sekdes menyajikan empat gelas kopi hitam.

“Minum dulu,” pinta Istri Sekdes.

Akhirnya rencana untuk pulang diurungkan dan masih menikmati kopi.

Sedikit basa-basi, aku melayangkan pertanyaan kepada Sekdes tentang jumlah Kepala Keluarga (KK) di desa Bukaka. Setelah dijawab semua pertanyaanku, kemudian cerita dilanjutkan Sangadi Masri. Ia melayangkan pertanyaan terkait masyarakat yang pindah dan meninggal serta yang baru tinggal di desa Bukaka.

Menurut Masri, Hal itu harus diutarakan sebab data tersebut sangat penting.

“Saya yakin satu saat akan ditertibkan data itu sampai ke kabupaten,” ujar Masri.

Masri terus membicarakan tentang data di desa, aku kemudian beranjak dari tempat duduk melihat sebuah lesung batu yang ada di samping rumah Sekdes.

Situs peninggalan masa lampau itu memiliki tinggi mencapai 60 cm dan diameter 70 cm.

Usai mengambil setumpuk dokumentasi, lalu bertanya kepada Sekdes tentang asal-usul lesung batu tersebut.

Sekdes mengatakan lesung itu
ditemukan pada 2015 silam oleh kakeknya. Ia pun sedikit mengurai asal-usul lesung batu itu.

Sekdes berujar lesung tersebut pertama kali ditemukan di lokasi pembangunan Balai Beni Ikan (BBI).
Saat itu alat berat hendak mengangkat lesung tersebut, namun tidak bisa terangkat. Operator ekskavator berteriak meminta kakeknya untuk melihat sesuatu yang ditemukannya dalam tanah. Ketika itu, hampir satu jam berlalu, lesung batu ini tidak bisa terangkat dari tanah.

Si Kakek pun mendekat lalu melihat. Ternyata itu adalah lesung terbuat dari batu. Kemudian kakek Sekdes berdoa meminta kepada leluhur untuk diberi izin mengangkat batu itu.

“Ekskavator ada angka, nda ta angka. Waktu itu ada bakarja di BBI.
Tete kasana tete kira ular ternyata lesung. Jadi cuman tete ada babicara-bicara akang, baru itu lesung ta angka,” papar Sekdes.

Lesung batu di desa Bukaka. (Foto Mat Rey)

Usai mendengarkan cerita panjang lebar dari Sekdes Bukaka tentang lesung batu, kami cepat-cepat menghabiskan kopi sebab hari sudah gelap. Tak lama, kami berpamitan dan kembali ke Desa Bulawan.

Meski baru menjabat sebagai pucuk pimpinan di Desa Bukaka, Masri Hala mulai berpikir kedepan demi kemajuan desa yang ia pimpin. Ia merupakan pemimpin visioner, inovatif, serta punya kepedulian tinggi terhadap masyarakat. “Teruslah berkiprah Sangadi untuk kemajuan Bukaka Village.” (*)

 

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button