Feature

Mereda Penat di Gunung Baru Tobongon

Oleh: Matt Rey Kartorejo

MINGGU 17 Desember 2023, langit di Timur Totabuan kelihatan cerah. Cuaca pada hari itu cukup bersahabat. Pada pukul 08.00 Wita, aku dan teman-teman jurnalis berkunjung ke rumah salah satu kawan yang berada di Kecamatan Tutuyan. Seorang lelaki umur 23 tahun ikut bersama para pewarta. Ia ikut lantaran ada hal yang harus dituntaskan pada hari itu. Nama laki-lalki itu adalah Rajul Bonde. Ia asal Desa Toraut, Kecamatan Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara.

Pagi itu, kami berencana akan pergi ke perkebunan Bolango yang ada di Desa Tobongon, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Tujuan kami akan mengambil beberapa perkakas mesin.

Setelah semuanya sudah siap, kami menuju ke tempat yang sudah direncanakan beberapa hari sebelumnya.

Menggunakan mobil Gran Max Silver. Rinto Lakoro yang jadi pengemudi. Aku duduk di tengah, dan Rajul Bonde tepat di samping kiri saya.

Sampai di Ibukota Boltim, kami mampir di salah satu rumah makan yang berada di Jalan Trans Sulawesi Lingkar Selatan Desa Tutuyan. Di sana kami memesan beberapa piring Bubur Manado (Tinutuan). Tak lama kemudian, pesanan mulai tersaji di atas meja. Kami pun langsung menikmati lezatnya Tinutuan dengan beberapa penganan yang dibuat dari jagung muda. Usai sarapan pagi, beberapa menit kemudian kami melanjutkan perjalanan.

*Terperangah Saat Menatap Gunung Baru Tobongon*

Sekira pukul 11.00 Wita, kami sampai di lokasi Gunung Baru, perkebunan Bolango, Desa Tobongon. Setelah memarkirkan mobil, kemudian melihat pemandangan di sekitar lokasi.
Usai menatap pemandangan indah Gunung Baru, sontak terdiam ketika menatap jalan yang terjal. Medannya juga sangat ekstrem. Teman-teman terperangah, sebab barang-barang yang akan diambil berada di bawa jurang yang curam.

Teman-teman lain hanya terkekeh, sementara aku terperangah ketika melihat medan yang akan dilalui. Hati terus membuncah.

Astaga! Dolong skali ini jurang. Mo ambe bagimana dang tu alat-alat?”

Pertanyaan itu langsung dijawab oleh salah seorang yang berada di lokasi Gunung Baru. Ia penduduk Desa Modayag. “Boleh mo ambe tu alat. Klu orang baru di sini memang mo takage karna memang dolong skali ini jurang. Tapi klu torang, sobiasa,” kata seorang pria yang akrab disapa Om.

Akhirnya mau tidak mau, kami turun ke bawa di pandu oleh Om, dan 2 orang temannya.

Ketika bergerak ke bawa, Rinto Lakoro sangat kesulitan. Ia turun perlahan lantaran jalan sedikit licin dan curam.

Tak lama, kami sampai di tempat yang dituju. Berhenti sejenak lalu mulai membawa barang-barang serta mesin disel.

Kala itu kami sangat kesulitan ketika mengangkut mesin disel. Jalan berliku dan menanjak membuat proses membawa mesin makan waktu berjam-jam. Dengan tekad yang kuat, kami yakin bisa melakukan hal itu.

Melalui semak belukar serta kondisi jalan yang licin, semakin menambah beban sehingga setiap kaki-kaki harus menapak dengan kuat agar tidak terjatu. Meski penat melanda, kami tetap semangat.

Setelah mesin berhasil ditenggar, kami menghilangkan penat sejenak di bawa pohon pada pukul 14.52.Wita. Sambil menikmati roti isi coklat, lalu bercerita tentang politik dan metode mengolah emas. Cerita asal usul Rajul Bonde juga ikut tersaji. Dengan basa-basi, lelaki paru baya asal Desa Bongkudai Baru menanyakan asal usul Rajul Bonde. Rajul menjawab apa yang ditanya pria yang akrab disapa Papa Nefy itu. Hari itu kami larut dalam kebersamaan.

Setelah berbincang ringan, pada pukul 15.08 Wita, kami melanjutkan pekerjaan sebab masih ada satu barang yang akan dipindahkan ke tempat parkiran mobil.

Untuk meringankan beban, kami menggunakan tali pengikat. Aku dan Rinto berada di tanjakkan dan menarik beban, sementara teman-teman lainnya berada di bagian bawah dan mengangkat sambil mendorong.

Meski sudah kecapean, api semangat teman-teman terus berkobar. Dengan hitungan 123, beban perlahan-lahan terangkat. Akhirnya pada jam 15.34 Wita, kami menggapai puncak. Semua barang berhasil diangkat.

Ini baru sejarah,” cetus Rinto Lakoro sembari menghembuskan nafas panjang.

Ini kua tu karja,” timpal Rajul Bonde seraya tersenyum.

Setelah semua barang dan alat-alat mesin sudah berada di dalam mobil, pukul 16.00 Wita kami kembali ke Desa Kotabunan. Letih sudah pasti, namun semua itu terbayar dengan tercapainya tujuan.

Pesan dari cerita ini, suatu pekerjaan berat akan terasa lebih ringan jika dikerjakan bersama-sama. Kata orang arif, “Sendiri kita hanya bisa melakukan sedikit, bersama-sama kita bisa melakukan banyak hal.”¬† (*)

 

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button