Menyapa Laut, Tawa Si Kecil di Antara Ombak

Catatan: Matt Rey Kartorejo
MINGGU 6 Oktober 2024, aku diajak putriku mandi di pantai. Sore itu, langit mulai memerah, perlahan mentari beranjak tenggelam di balik cakrawala. Suara deburan ombak yang tenang menyambut kedatangan kami di pantai Kotabunan Selatan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara.
Aku menggandeng tangan anakku, Misel, yang sejak tadi tak henti-hentinya tersenyum penuh semangat. Kami duduk sejenak di atas pasir lembut, sembari memandang ke arah pulau Nenas.
Pulau Nenas atau Bombuyanoi menjadi kebanggaan publik Bolaang Mongondow Timur, utamanya masyarakat Kotabunan. Pulau ini terkenal dengan hamparan pasir putihnya yang lembut.

Tak jauh dari tempatku duduk, terdengar tawa riang anak-anak yang bermain di tepi air. Mereka berlari tanpa beban, menghindari ombak kecil yang datang. Tawa dan jerit ceria mereka menyatu dengan suara debur ombak.
Misel mulai mengambil kacamata air miliknya. Sepertinya ia sudah tak sabar bermain air. Tak lama, bocah yang akrab disapa Iceng ini mendekatiku dan mengajak bermain air.
“Manjo Pa’ somo mandi!”
Kami pun segera melepas sandal di tepi pantai, dan aku membiarkan Misel berlari-lari kecil mendekati ombak yang lembut menyentuh pasir. Sesekali ombak kecil menyentuh kakinya, ia terkikik, melompat menjauhi air, lalu kembali mendekat dengan tawa riang. Suara tawanya bergema bersama suara angin yang berembus lembut.

Aku menatap putriku itu dengan perasaan hangat di dada. Bagiku tak ada kebahagiaan yang lebih besar dari melihat buah hati tertawa lepas, bebas, dan penuh keceriaan.
Aku melangkah mendekatinya, dan tanpa ragu-ragu, kami mulai bermain air bersama. Sesekali, Misel akan mencipratkan air ke arahku, sementara aku pura-pura terkejut, menambah riuh gelak tawa kami berdua.
Misel kemudian memintaku untuk mengajarkannya berenang. Meski sudah diajarkan beberapa kali, namun ia belum bisa. Ia terus berusaha menggerakkan kaki dan tangannya agar bisa berenang, tapi belum bisa juga. Akhirnya ia naik sedikit di bibir pantai dan bermain ombak.

Beberapa jam berselang matahari kian merendah, sinarnya berubah menjadi jingga keemasan, memantul di permukaan laut yang berkilauan.
Dari kejauhan, tampak seorang bocah lelaki berlari menuju bibir pantai. Kaisar Elsarawi Dama nama bocah itu. Ia datang bersama tante dan neneknya. Misel mendekat dan memanggil Kaisar. Mereka akhirnya mandi bersama. Kaisar terlihat begitu ceria. Ia tertawa sembari berlari di bibir pantai.

Setelah puas bermain air garam, aku mengajak Misel untuk kembali ke rumah.Terlihat pantai Kotabunan Selatan yang tadinya dipenuhi keriuhan mulai sepi, menyisakan jejak-jejak kaki kecil di pasir basah.

Sementara anak-anak di sebelah kami mulai dipanggil orang tua mereka untuk pulang, namun tak satu pun dari mereka tampak kecewa. Mereka pulang dengan wajah ceria, membawa kenangan yang penuh tawa dan kebahagiaan.
Di momen itu, aku menyadari betapa berartinya waktu yang kuhabiskan bersama Misel. Sederhana, namun penuh sukacita.
Hari itu bukan hanya tentang bermain air atau menikmati pemandangan indah, tapi juga tentang menciptakan kenangan berharga bersama buah hati tercinta.
Sekira Pukul 17 30 Wita, kami berdua berjalan pulang dengan perasaan senang. “Hari Minggu depan ulang mandi di sini ne Pa,” pinta bocah bernama lengkap Misel Virginia Kartoredjo. (*)



