Landjar: Jangan Pernah Membusukan Nama Orang Lain

TIMURTIMES.COM, Boltim – Pekik Amalia Ramadhan S. Landjar terdengar di seantero jagad Timur Totabuan. Isu lahan yang dimainkan para oknum-oknum yang tidak se arah dalam Pilkada Boltim, memantik Nona Amalia melontarkan ungkapan bernada tegas.
Dengan intonasi tinggi, ia mengatakan jangan pernah membusukan nama orang lain, sebab lahan yang sudah diberikan mantan Bupati Sehan Landjar, tidak akan pernah diambil kembali.
“Saya hanya menegaskan kepada kita semua bahwa hari ini isu yang dimainkan adalah isu lahan-lahan yang sudah diberikan bupati Guhanga (Sehan Landjar,red) bahwa kalau tidak mo bapilih, tidak mo iko arus, dorang mokase kaluar. Woi! Jangan pernah membusukkan nama orang lain,” kata Amalia.
“Kami Secara pribadi, secara keluarga, tidak pernah dididik apa yang sudah diberikan mo ambe ulang, tapi bagimana caranya ngoni buka ngoni pe mata deng ngoni buka ngoni pe mata hati. Kalau mo bajual calon, bajual dengan gaya dan cara masing-masing tidak usah mempolitisir apa yang sudah diberikan,” tegas Amalia.
Disebutkan pula bahwa hari ini isu yang dimainkan soal dukungan bagi paslon Arus, katanya, Amalia “main dua kaki”. Hal itu langsung ditepis Nona Amalia.
“Dan sampai hari ini isu yang dimainkan bahwa Amalia main ‘dua kaki’ cuman partai yang ada di sini, tapi saya pe diri dan keluarga Landjar mendukung di tempat lain. Bapak ibu saya ingatkan sekali lagi, sebelum saya menerima ketua partai, saya sudah dididik kalau so itu, itu. Nimboleh badua kaki. Patah kalu patah, mati kalu mati, tetap Arus,” ungkap Amalia.
“Dan saya menitipkan salam dari ayah handa Bapak Sehan Salim Landjar. Beliau menitipkan kepada simpatisan dan militansi, jangan terpengaruh dengan isu di luar. Eyang bilang iko pa Amalia dimana depe jantung di situ dia moba pilih,” pungkasnya.
Kampanye yang sehat dan beretika seharusnya tidak melibatkan serangan pribadi, fitnah, atau penyebaran berita bohong tentang lawan politik hanya demi memenangkan dukungan bagi calon tertentu. Praktik semacam ini tidak hanya merusak integritas demokrasi, tetapi juga memecah belah masyarakat dan menciptakan ketidakpercayaan publik.
Politik yang sehat seharusnya berfokus pada gagasan, program kerja, dan solusi konkret untuk permasalahan yang dihadapi masyarakat, bukan pada menyerang pribadi atau menyebarkan kebencian.
(*)



