Doa dari Tanah Leluhur untuk Sang Ketua dan Pendamping Hidupnya

Catatan Matt Rey Kartorejo
ANGIN malam di Bulawan berembus lembut, membawa harum tanah yang basah oleh jejak pengharapan dan doa. Di bawah langit Kotabunan, suara zikir dan harapan bersahut-sahutan dari rumah yang bersahaja. Hari itu, Minggu, tanggal 18 Mei 2025, bukanlah hari biasa. Desa kecil ini menjadi saksi diam sebuah perpisahan sementara Samsudin Dama, Ketua DPRD Bolaang Mongondow Timur, dan istri tercinta, Rohani Mamonto, akan berangkat menunaikan panggilan ke Tanah suci.
Doa-doa mengalir, seperti sungai yang tak pernah kering. Dari mulut orang-orang sederhana yang mengenalnya bukan hanya sebagai pemimpin, tapi juga sebagai sahabat, saudara, teladan.
Di tengah acara doa selamat yang digelar dengan penuh khidmat, Irsad Modeong, seorang guru yang sudah lama menapaki jalan ilmu di tanah ini, mengangkat suara dengan penuh haru.
“Alhamdulillah, segala sesuatu kita serahkan kepada Sang Khalik, Allah SWT. Dengan izin-Nya juga, segala sesuatu bisa tertunaikan. Selamat akan menunaikan rukun Islam yang kelima, Ma cha-ca dan Pa cha-ca.”
Ucapan itu menggema, bukan hanya di ruang acara, tapi juga di dada mereka yang hadir. Di balik kata-katanya, ada cinta dan bangga yang tak terucapkan seluruhnya. Karena ketika pemimpin pergi bukan untuk mencari kekuasaan, melainkan mencari ridha Tuhan, maka ia sedang memuliakan seluruh rakyatnya.
Bustan Hasania, seorang warga desa yang dikenal bijak dalam diamnya, menyambung:
“Semoga tiba dengan selamat di Tanah Suci,” katanya lirih, namun pasti. Seolah kata-katanya membawa jaminan dari langit.
Lalu Ria Mangkay, Kepala Sekolah SDN 1 Bulawan, ikut menyampaikan harapannya.
“Alhamdulillah. Selamat menjalankan ibadah haji, semoga tiba di tanah suci dengan selamat dan selalu dalam lindungan Allah SWT.”
Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar ucapan. Ini adalah pelepasan jiwa. Ketika dua insan yang telah mengabdi, kini menunaikan panggilan Tuhan, seluruh desa pun ikut serta dalam rombongan batin mereka. Doa-doa itu tidak hanya membekali perjalanan fisik, melainkan juga menenun jubah spiritual yang menyelimuti langkah mereka di Arafah, Mina, dan Masjidil Haram.
Samsudin Dama dan Rohani Mamonto bukan hanya pergi sebagai pasangan suami istri, tapi sebagai duta dari tanah kecil bernama Bulawan, membawa harapan, mengantar doa, dan kembali kelak, insyaAllah, dengan cahaya yang lebih terang dalam jiwa.
Dan Bulawan, akan menunggu. Dengan setia dan doa yang tak pernah putus. (*)



