FEATURE

Di Bawah Kubah Masjid Annur, Doa Mengalun ke Langit

Samsudin dan Rohani: Dari Tanah Timur ke Tanah Suci

Catatan: Matt Rey Kartorejo

DALAM keheningan pagi yang syahdu, Masjid Annur di Desa Bulawan Satu, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, menjadi saksi bisu sebuah peristiwa penuh makna. Di bawah naungan langit yang seolah turut mendoakan, sepasang insan, Samsudin Dama dan istrinya tercinta, Rohani Mamonto, berdiri teguh dalam haru dan harapan. Jumat, 23 Mei 2025, menjadi tanggal yang kelak akan terpatri dalam ingatan, bukan hanya bagi keduanya, tapi juga bagi masyarakat yang mencintai mereka.

Di dalam masjid yang bercahaya lembut oleh mentari pagi, Imam dan para Pegawai Syar’i memimpin doa-doa yang melangit. Jemari terangkat, mata terpejam, dan hati menunduk dalam kekhusyukan. Alunan zikir dan harapan mengalir, meminta perlindungan dan kelancaran untuk perjalanan suci yang akan ditempuh oleh Samsudin dan Rohani ke Tanah Haram. Mereka akan menunaikan rukun Islam yang kelima, menuju Baitullah, tempat yang dirindukan setiap insan beriman.

Wajah-wajah yang hadir memancarkan ketulusan. Beberapa mata berkaca-kaca, seolah tak sanggup menyimpan haru. Doa-doa yang terucap bukan sekadar ucapan, melainkan pancaran kasih dan persaudaraan yang tulus. Ini bukan sekadar pelepasan, ini adalah penghantaran cinta dari kampung halaman kepada dua warganya yang terpilih mengemban amanah spiritual tertinggi: menunaikan haji.

Momen ini tak luput dari perhatian keluarga yang mengunggahnya di media sosial. Secepat angin, kabar itu menyebar dan mengundang gelombang doa dari warganet yang turut merasakan keharuan. Untaian kalimat-kalimat doa membanjiri kolom komentar—sebuah bukti bahwa cinta tak hanya hadir dalam pelukan, tapi juga dalam kata yang tulus dari kejauhan.

“Semoga selalu diberikan kesehatan, kelancaran menjalankan ibadah, selalu dalam lindungan Allah SWT, dan kembali menjadi haji yang mabrur, Pa Chaca Ma Chaca. Aamiin ya Rabbal Alamin,” tulis Ira Dama dengan nada penuh kasih.

Disusul oleh Rahma Lasapa Dama, “Amin ya Rabbal Alamin.”

Musniati Potabuga Dama pun menambahkan, “Alhamdulillah. Semoga perjalanan hajinya lancar, diberi nikmat kesehatan dan keselamatan, semoga tetap dalam lindungan Allah SWT dan kembali dengan selamat di tengah-tengah keluarga. Semoga menjadi haji dan haja yang mabrur. Aamiin, Aamiin Ya Rabbal Alamin.”

Tak ada yang lebih indah dari melihat cinta dan keimanan berpadu dalam doa. Perjalanan ini bukan sekadar lintas geografis dari Bulawan Satu ke Makkah, tapi juga sebuah pengembaraan batin, menuju penyucian diri, menuju pemaknaan hakiki akan kehidupan.

Semoga Samsudin Dama dan Rohani Mamonto kembali membawa berkah bagi tanah kelahiran mereka. Sebab sejatinya, setiap langkah di tanah suci adalah langkah yang membawa cahaya, dan setiap air mata yang tertumpah di sana adalah air mata yang akan menumbuhkan kedamaian saat kembali pulang. (*)

BERITA TERKAIT

Back to top button