FEATURE

Samsudin Dama dan Makna Pamit Seorang Hamba

Catatan: Matt Rey Kartorejo

TIMURTIMES.COM, Boltim – Pada Sabtu yang bening, 24 Mei 2025, ketika embun masih menggantung di ujung-ujung daun dan langit Bolaang Mongondow Timur belum sepenuhnya membuka matanya, seorang putra daerah bersiap memulai perjalanan yang bukan hanya lintasan geografis, melainkan ziarah batin menuju keabadian.

Samsudin Dama, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Boltim, berdiri di ambang kepergian dengan balutan putih di hati, menggenggam erat tangan sang istri tercinta, Ibu Rohani Mamonto. Di dada mereka, doa mengalir seperti sungai yang mengalir tenang, menyejukkan segala yang keras dan gersang.

Tak ada gegap gempita seremoni, hanya desir angin dan langit yang mengisyaratkan restu. Keberangkatan ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi pemurnian jiwa meninggalkan sorot lampu sidang, suara debat, dan hiruk kekuasaan, menjadi seorang hamba yang kembali  di hadapan Tuhannya.

Sebelum rombongan diberangkatkan menuju Embarkasi Balikpapan, pagi itu Samsudin dan Rohani terlebih dahulu melaksanakan tugas yang mengandung kasih dan kepedulian. Mereka mendampingi Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling, dan tokoh ulama Hi. Jafar Alkatiri, mengunjungi para calon jemaah haji, khususnya dari Bolaang Mongondow Raya. Di sana, di antara koper-koper yang telah tertata dan wajah-wajah yang memantulkan cahaya harap, Samsudin hadir bukan sebagai pejabat, tapi sebagai saudara yang menguatkan.

Samsudin Dama bersama Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling./Foto: Rinaldi Lendongan

Ia menyapa satu per satu, menyalami tangan-tangan renta yang masih gemetar karena haru, dan menepuk bahu para pemuda yang hendak menjejak tanah suci untuk pertama kali. Tidak ada batas, tidak ada jarak, hanya peluh dan air mata yang menjadi saksi bahwa ibadah adalah jembatan dari manusia kepada sesamanya, sebelum sampai kepada Tuhan.

Saat hendak beranjak, Samsudin menatap Gubernur dengan mata yang tak hanya membawa pamit, tapi juga doa. Ia menunduk, lalu berkata pelan, namun dalam:

“Izin pamit. Kami mohon doa restu. Semoga perjalanan ini dipayungi keselamatan dan kami kembali dengan jiwa yang lebih suci.”

Suara itu menyusup ke relung-relung yang mendengar. Ia tidak berbicara sebagai Ketua DPRD, tapi sebagai hamba Allah yang tahu bahwa segala kuasa di dunia tak berarti di hadapan Sang Penguasa Alam.

Istri Samsudin Dama, Rohani Mamonto, foto bersama Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling./Foto: Rinaldi Lendongan

Langkah kaki pun mulai bergerak, namun sejatinya perjalanan telah dimulai sejak niat itu terucap dalam hati. Di langit yang mulai membuka warna-warna fajar, seolah doa-doa dari tanah Boltim terbang pelan, mengikuti kepergian Samsudin dan Rohani menuju tanah haram. Seperti aroma hujan yang mengendap dalam tanah, kepergian mereka menyisakan harapan dan teladan: bahwa kekuasaan sejati adalah kerendahan hati, dan pengabdian tertinggi adalah ketika seseorang rela melepaskan segalanya demi menemui Tuhan, dalam sunyi, dalam sujud, dalam cinta yang tak bersyarat. (*)

BERITA TERKAIT

Back to top button