Pengakuan Sang Guru dan Hati yang Memilih Memaafkan

Catatan: Matt Rey Kartorejo
Di SEBUAH sudut sunyi Bolaang Mongondow Timur, di antara deretan pepohonan yang tak bersuara dan dinding sekolah yang menjadi saksi, tersimpan kisah tentang luka yang dipeluk dengan ketegaran, dan maaf yang tumbuh perlahan seperti embun pagi di ujung daun.
Adalah seorang anak perempuan, masih duduk di bangku Sekolah Dasar, yang semestinya menjalani masa kecilnya dengan tawa dan keceriaan. Namun, nasib menulis episode kelam dalam harinya: menjadi korban perundungan oleh oknum guru. Dan lebih menyakitkan lagi, kejadian itu berlangsung dalam pengawasan yang semestinya menjaganya, pengawasan seorang guru yang kala itu dianggap abai.
Ketika kejadian itu terungkap, seisi sekolah terhenyak. Orang tua siswa, yang awalnya tak menyangka anaknya memikul beban sebesar itu, datang dengan hati yang remuk redam. Mata mereka menyimpan amarah, tapi juga kekhawatiran. Mereka ingin keadilan, tentu saja, namun lebih dari itu, mereka ingin anaknya kembali pulih, bukan hanya secara fisik, tapi juga jiwa yang telah tercabik.
Pihak sekolah merespons. Digelarlah mediasi, digalanglah niat baik. Dalam pertemuan yang berlangsung dalam suasana yang berat, sang guru yang menjadi sorotan berinisial NP akhirnya menyatakan permohonan maaf. Dengan suara parau dan mata yang berkaca, ia mengakui kekeliruannya.
“Saya mohon maaf karena tujuan saya bukan hanya seorang siswa tapi semua tapi salah satu siswa merasa dialah yang saya bilang begitu. Saya sungguh menyesal.”
Kata-kata itu, meski sederhana, terasa seperti lembaran baru yang dibuka perlahan. Orang tua korban, yang datang membawa bara, akhirnya luluh oleh kejujuran dan ketulusan yang ditunjukkan. Mereka mendengar, merenung, lalu memilih jalan yang tak mudah: memaafkan.
“Kami kecewa, tentu saja. Tapi kami percaya setiap manusia bisa khilaf. Dan ketika ada yang datang dengan tulus meminta maaf, kita harus memberi ruang bagi perbaikan,” tutur mereka kepada wartawan TimurTimes, Kamis (29/5/2025).
Dalam keheningan yang menyusul, guru-guru lain ikut menyatakan tekad untuk lebih peka, lebih hadir, lebih peduli. Mereka tahu, dunia anak-anak adalah dunia yang rapuh, dunia yang bisa rusak hanya karena satu detik kelalaian.
Maaf memang tidak menghapus luka, tapi ia bisa menjadi awal dari penyembuhan. Dan di sekolah itu, di hari itu, maaf menjadi jembatan yang menghubungkan dua sisi: mereka yang terluka dan mereka yang menyesal.
Kini, sekolah lebih peka dan akan terus mencegah perundungan terulang. Ibu guru NP pun tetap mengajar, namun dengan mata yang kini lebih awas, dan hati yang lebih peka.
Di tanah Boltim, kisah ini akan tercatat bukan sebagai aib, melainkan sebagai pelajaran. Bahwa di balik luka, ada cahaya pengampunan yang bisa tumbuh — jika kita cukup berani untuk jujur, cukup tulus untuk meminta maaf, dan cukup kuat untuk memaafkan. (*)



