
Catatan: Matt Rey Kartorejo
PAGI itu, langit Dusun 4 seolah membuka dirinya lebih lebar dari biasanya. Matahari naik pelan, angin berhembus lembut, seakan semesta turut merestui sebuah hajatan yang tak sekadar perayaan, tapi juga pengabdian.
Di tanah yang jauh dari riuh ibukota, di desa bernama Bulawan Satu, Kecamatan Kotabunan, seorang lelaki bernama Uan Lahati telah menjelma menjadi suluh kecil yang menerangi sekitar. Ia bukan pejabat, bukan pula tokoh panggung. Ia hanyalah seorang warga biasa, seorang ayah muda yang hatinya tak hanya besar untuk anaknya, tapi juga untuk anak-anak lain yang mungkin tak seberuntung putranya, Saifan Kamil Lahati.
Hari itu, Jumat, 30 Mei 2025, Uan akan menggelar tasyakuran aqiqah bagi putra tercintanya. Namun, ia tak ingin hari itu berlalu hanya sebagai momen pribadi. Maka digandengnya makna itu dengan kegiatan yang lebih luas: sunatan massal gratis untuk masyarakat. Bukan hanya untuk warga desanya, tetapi juga terbuka bagi anak-anak dari desa tetangga, hingga dari Kecamatan Tutuyan pun turut hadir.
“Acara ini sudah saya niatkan sejak tahun lalu,” ucap Uan kepada media dengan suara bersahaja. “Tapi waktu itu banyak hal yang harus saya selesaikan. Baru sekarang bisa saya laksanakan.”

Tak ada kemewahan yang mencolok. Tapi ada cinta yang nyata, ada ketulusan yang mengalir dalam bentuk tenda sederhana, deretan kursi plastik, dan senyum-senyum gugup anak-anak kecil yang menunggu giliran.
Awalnya, Uan memperkirakan hanya sekitar 50 hingga 75 anak yang akan ikut serta. Namun Tuhan sering kali menakdirkan lebih dari yang kita perkirakan. Lebih dari 100 anak hadir, dan tak satu pun ditolak. “Kalau seratus atau dua ratus pun datang, tidak masalah,” ujarnya dengan semangat yang menghangatkan pagi.
Dan bukan hanya sunat yang mereka dapat. Setelah selesai, setiap anak menerima bingkisan, termasuk sejumlah uang tunai sebagai bentuk apresiasi. “Abis sunat, kase doi lagi,” kata Uan dengan logat khas yang membuat semua orang yang mendengar ikut tersenyum.
Kegiatan itu pun menarik perhatian berbagai pihak. Salah satunya adalah Andika Abdullah, tokoh muda dari Kecamatan Kotabunan yang datang bukan sebagai tamu kehormatan, tapi sebagai bagian dari masyarakat yang peduli. “Apa yang dilakukan Pak Uan sangat istimewa,” ujarnya. “Bukan hanya sunatan massal, tapi juga penuh perhatian dan penghargaan bagi anak-anak.”

Andika menyebut bahwa kegiatan semacam ini seharusnya menjadi sorotan pemerintah. Bukan karena kemewahannya, tapi karena ketulusannya. “Kegiatan ini lahir dari masyarakat, digagas oleh pribadi yang sadar akan kebutuhan sekitarnya. Pemerintah semestinya tidak hanya menonton, tetapi mendukung dan mencontoh,” tambahnya dengan nada tegas namun santun.
Sebagai pemuda, Andika juga mengajak generasinya untuk tidak lagi apatis. Ia percaya bahwa tugas pemuda bukan hanya menggulirkan ide di media sosial, tetapi hadir di tengah masyarakat dengan tangan yang terulur dan hati yang siap menyambut.
“Kami hadir bukan untuk mencari nama. Kami hadir agar adik-adik tidak takut. Kami temani mereka. Kami buat mereka tersenyum,” pungkasnya, mata sedikit basah menahan haru.
Hari itu, Bulawan Satu menjadi tempat berkumpulnya keberanian dan keikhlasan. Anak-anak yang tadinya takut, kini pulang dengan senyum. Para orang tua yang semula cemas, pulang dengan doa. Dan Uan Lahati? Ia tak meminta pamrih, tak mengejar nama. Ia hanya menjalankan niat yang lama tertanam dalam dada: berbagi dengan sesama, di hari yang penuh makna.
Di tanah di mana embun masih jatuh pelan-pelan, di mana ayam masih bersahut di pagi hari, semangat gotong royong dan kasih sesama masih hidup. Dan selama masih ada orang-orang seperti Uan, selama masih ada pemuda seperti Andika, negeri ini tak akan pernah kehilangan harapan.
Karena di sudut-sudut kecil yang tak diliput dunia, cinta sejati sedang bekerja dalam diam. Dan mungkin, di sanalah Tuhan paling sering menoleh. (*)



