Bolmong RayaFEATURE

Iksan Pangalima dan “Senandung” Tanggung Jawab dari Balik Podium

Iksan Pangalima saat dilantik sebagai Pj Sekda Boltim./Foto: Diskominfo Boltim

Catatan: Matt Rey Kartorejo

TIMURTIMES.COM – Hari itu, langit Boltim seperti menahan nafasnya. Udara pagi membawa bisikan doa-doa, dan cahaya yang menembus jendela Aula Kantor Bupati mengiringi langkah seorang lelaki bersahaja ke altar pengabdian. Dalam suasana yang khidmat dan sarat haru, Iksan Pangalima resmi dilantik sebagai Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, sebuah peristiwa yang bukan sekadar seremoni, tetapi momentum kelahiran tanggung jawab yang agung.

Dari balik podium, suara Bupati Oskar Manoppo menggema pelan namun tegas, menyerahkan tongkat estafet administratif kepada pria yang telah mengabdikan hidupnya pada birokrasi. Sederhana namun kuat, itulah aura yang terpancar dari Iksan, sosok yang selama ini dikenal bukan hanya karena jabatan, melainkan karena ketulusan dalam menjalankan tugas negara.

Jejak yang Diam Tapi Dalam

Iksan bukan nama yang tiba-tiba muncul dari kabut politik. Ia adalah mata air yang jernih, mengalir sejak lama dalam tubuh pemerintahan. Berawal sebagai staf fungsional, ia menapaki tangga pengabdian dengan langkah tenang namun pasti. Setiap keputusan, setiap dokumen yang ia tandatangani, mengandung niat lurus seorang abdi negara yang menjadikan pelayanan sebagai jalan sunyinya.

Dua dekade lebih ia mengarungi samudra birokrasi. Dalam diam, ia menata sistem. Dalam kesederhanaan, ia membangun kepercayaan. Dari ruang-ruang rapat hingga jalan-jalan desa, Iksan hadir bukan sebagai atasan, melainkan sebagai rekan kerja yang tak sungkan mengulurkan tangan.

Tantangan Adalah Panggilan Jiwa

Kini, ketika ia berdiri di garis depan sebagai Penjabat Sekda, tugas-tugas berat telah menantinya seperti kabut pagi yang perlahan menyingkap. Stabilitas pemerintahan pasca Pilkada adalah tantangan pertama. Ia tak hanya harus menjadi jembatan yang kokoh antara eksekutif dan legislatif, tapi juga menjadi kompas yang menunjukkan arah dalam koordinasi lintas sektor.

Bupati Oskar menyebut jabatan ini sebagai ujung tombak, dan Iksan memahaminya bukan sebagai beban, melainkan kehormatan yang harus dijalankan dengan kepala tegak dan hati rendah.

Pemimpin yang Tak Hanya Terlihat, Tapi Hadir

Di mata para kolega, Iksan adalah mata air ketenangan. Seorang pemimpin yang tak melontarkan banyak kata, tapi hadir dalam tindakan. Ia lebih memilih turun langsung ke lapangan, menyapa pegawai satu per satu, mendengarkan tanpa menghakimi, dan mengambil keputusan dengan nurani.

“Pak Iksan bukan hanya ada di kertas struktur, tapi juga hadir di setiap proses kerja,” ujar seorang ASN dengan mata yang berbinar saat menceritakan pengalaman bersamanya.

Nilai-Nilai yang Menyatu dalam Langkah

Gaya kepemimpinan Iksan tidak sekadar soal teknis pemerintahan. Ia membawa ruh kekeluargaan dalam setiap rapat, dalam setiap notulen. Suasana kerja yang hangat, suasana kantor yang hidup, itulah yang ia bangun tanpa harus membuat kebijakan keras.

Satu nilai yang selalu ia jaga adalah keterbukaan. Ia mendengar dengan sabar, menimbang dengan adil, dan bersikap dengan tegas namun manusiawi.

Komitmen yang Bukan Hanya Slogan

Dalam pidato singkat usai pelantikan, Iksan tidak berapi-api. Suaranya pelan, namun menyentuh: “Saya tidak bisa bekerja sendiri,” katanya, seakan menyapu ego dan membuka pintu kolaborasi.

Ia menegaskan komitmennya pada reformasi birokrasi yang tidak hanya mengatur, tapi juga melayani. Digitalisasi, transparansi, dan efisiensi bukan sekadar kata-kata, melainkan tekad yang akan ia jalankan dalam kesenyapan tugas sehari-hari.

Harapan yang Mengalir Bersama Waktu

Harapan masyarakat Boltim kini menggantung pada pundak yang telah teruji. Mereka melihat sosok Iksan bukan sebagai pejabat sementara, tapi sebagai figur pemersatu, pelayan publik sejati yang mampu menenangkan gejolak birokrasi dan mempercepat denyut pembangunan.

Dukungan datang tak hanya dari balik meja pemerintahan, tapi juga dari suara rakyat yang lirih: mereka yang ingin perubahan, namun tetap menghargai proses.

Dan di tengah semua itu, Iksan tetap Iksan. Bekerja tanpa gemuruh, namun meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu. (*)

BERITA TERKAIT

Back to top button