FEATURE

Bukit Tobongon dan Nyanyian Legalitas yang Terlantun Pelan

Langkah-Langkah Kecil di Jalan Curam Harapan

Catatan: Matt Rey Kartorejo

HARI itu, Kamis 31 Juli 2025, waktu menunjuk pukul 11.03 WITA. Denting sunyi siang yang hangat dipecah oleh dering telepon. Di layar ponsel, nama Mikdat Ligawa tertera. Sebuah nama yang tak pernah menelepon tanpa maksud. Aku tekan tombol hijau.

“Perintah?” tanyaku tanpa basa-basi.

Dari ujung suara terdengar mantap, “Hari ini kita ke Tobongon. Abis Salat Zuhur kita akang berangkat.”

“Oke,” jawabku singkat. Lalu sambungan diputus, seperti perintah yang telah ditunaikan.

Tanpa banyak ragu, kubereskan kemeja dan helm. Sepeda motor tua kugiring ke jalan, menuju rumah Mikdat. Angin siang menampar pelan wajahku, membawa serta aroma tanah yang sedang mengering. Di rumah Mikdat, tak lama kemudian kawan-kawan datang satu per satu. Kami lalu masuk ke dalam mobil Toyota Avanza miliknya, seperti pasukan kecil yang tahu arah namun belum tentu tahu ujung kisahnya.

Di Purworejo, di seberang Rumah Sakit Pratama, kami singgah di rumah makan. Makan siang yang hangat, sepiring nasi, sepotong ayam Lalapan, dan canda sederhana. Selepas itu, menjelang pukul empat sore, kami lanjutkan perjalanan menuju lokasi tambang di Desa Tobongon. Tujuannya jelas, menyemai benih kesadaran pada tanah yang telah lama menghidupi dengan segala risikonya.

Jalan menanjak di lokasi tambang emas Tobongon./Foto: Momais

Jalan menanjak menyambut kami. Mobil menahan napas di setiap tikungan. Kami turun dari mobil dan berjalan kaki. Di bawah pohon aren, kami berhenti. Bayangan pohon memeluk kami dalam teduh. Mikdat bersuara, “Bajalang plang-plang jo.” Kami tergelak, sejenak lupa bahwa tujuan belum juga kami capai.

Seorang lelaki muda di pinggir jalan memberi arah. Katanya, “Sedikit lagi sampai.” Langkah kaki kami lanjutkan, hati kami ringan, meski tas hitam terasa berat oleh harapan dan tanggung jawab.

Hingga terlihat tenda hijau berdiri kukuh, bagai penjaga sunyi di tengah hutan. Kami berhenti di sana. Waktu menunjukkan pukul 16.30 WITA. Di antara pepohonan dan suara burung yang tak banyak, kami berkumpul bersama para penambang.

Hendra Abarang, Pimpinan APRI Boltim, duduk di hadapan mereka. Suaranya dalam dan teguh.

“Kami datang bukan untuk melarang, tapi mengajak. Bentuklah badan hukum, koperasi, atau komunitas. Supaya ada payung, supaya aman.”

“Urus cepat RMC. Agar kerja bapak-bapak tak dihantui bayang-bayang razia dan ketakutan,” tambahnya.

Puluhan pasang mata menatap, ada yang ragu, ada yang mengangguk pelan. Namun suasana terasa hangat, bukan kaku. Sekira lima belas menit kami berbagi pesan, dan setelahnya, kamera kami berbicara. Dokumentasi dibuat sebagai bukti perjalanan ini bukan hanya angan.

Pimpinan APRI Boltim melakukan kunjungan sosialisasi kepada para penambang lokal terkait pentingnya membentuk Responsible Mining Community./Foto: Momais

Matahari mulai turun ke balik perbukitan. Aroma kopi hitam menyambut dari bangku kayu. Kami duduk. Gula tak banyak, tapi hangatnya mengisi celah obrolan.

“Kase abis jo tu kopi,” kata Hendra.

“Hai, sadikile kua masih panas ini,” jawab Jumadi sambil tergelak.

Setelah tegukan terakhir, kami bergegas turun. Jalan curam menuntut kehati-hatian, dan dalam diam, kami semua mengerti: kerja hari itu belum selesai, tapi sudah berarti.

Di kaki gunung, kami bertemu sosok familiar, duduk di bak mobil pik up hitam. Seorang teman lama, kini dikenal sebagai pengusaha sukses.

“Ado, ada di sini katu,” seru seseorang.

Kami disambut dengan kopi kedua, dan sebatang rokok yang menyala di sela jari beberapa dari kami. Hendra hanya meminta air mineral, seperti biasa. Di bawah langit yang mulai gelap, kami berbincang lagi, tertawa pelan, membicarakan tambang, hidup, dan nasib yang terkadang keras seperti batu di dalam tanah.

Kondisi jalan di tambang Tobongon./Foto: Momais

Waktu berlalu cepat. Kami pamit dan melanjutkan perjalanan ke rumah Erwin Mamonto, teman baik lainnya. Di sana, cerita berlanjut. Seakan malam belum cukup panjang untuk menampung tawa dan kisah-kisah kecil yang akrab.

Hendra bangkit mencari mushola untuk menunaikan salat Magrib. Setelah ia kembali, kami bersiap pulang.

“Torang somo pulang, Win. Nanti baku dapa ulang,” ucap Mikdat. Suara itu seperti janji. Bukan sekadar janji untuk bertemu, tapi janji untuk terus melanjutkan langkah.

Di dalam mobil, jalanan pulang terasa lebih sunyi, lebih dalam. Tapi dada kami penuh. Sosialisasi sudah dilakukan. Tak ada yang kurang. Harapan kami sederhana: agar para penambang tak hanya menggali tanah, tapi juga menggali masa depan yang lebih pasti, lebih aman, dan lebih manusiawi.

Kami tak tahu kapan kembali ke sana. Tapi Tobongon telah meninggalkan jejaknya di hati kami: jejak harapan, dan jejak tanggung jawab. (*)

BERITA TERKAIT

Back to top button