APRI Boltim dan Api Kecil yang Tak Pernah Padam
Lelaki-Lelaki dari Timur yang Tak Pernah Letih
Catatan: Mat Rey Kartorejo
MINGGU pagi, 17 Agustus 2025. Mentari belum tinggi, namun sinarnya telah membakar pasir Pantai Bubuan, Desa Buyat, Kotabunan. Di tepi pantai yang bergelombang tenang itu, waktu seolah berjalan perlahan, memberi ruang bagi sekelompok manusia berseragam sederhana untuk menuliskan makna kemerdekaan lewat tindakan nyata. Mereka bukan pasukan bersenjata, bukan pula pejabat berpidato. Mereka adalah para pengurus Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, wajah-wajah dari tanah yang mengandung logam, namun tetap menjunjung nilai lingkungan dan kebersamaan.
Terik yang menggigit kulit tak menyurutkan semangat. Di bawah naungan pohon ketapang yang merunduk teduh, sebotol air mineral berpadu dengan gorengan dan sambal dari warung sederhana menjadi pengantar obrolan. Tawa lepas terdengar, membelah desiran angin laut. Ifan Paputungan duduk di sebelah, pisang goreng di tangan, tak berhenti bercerita soal batas sejarah Desa Buyat yang kerap jadi topik dalam obrolan panjang penuh nostalgia.
Jam menunjukkan pukul 08.15 WITA. Satu per satu tangan mulai bekerja. Tanpa aba-aba megafon atau suara pengeras, para pengurus APRI bergerak seperti kompas yang menemukan arah. Mereka menyusuri bibir pantai, menyisir sampah-sampah plastik yang berserakan di antara batu dan rumput yang terdampar. Beberapa menyapu, yang lain memungut lalu memasukkannya ke karung. Tak ada yang memerintah, karena di dalam tubuh yang mencintai tanah air, perintah telah datang dari hati.

Langit biru menjadi saksi. Ombak pecah di kaki pantai, dan semilir angin menjadi nyanyian alam yang menyatu dengan derap langkah para pejuang lingkungan itu. Sekitar setengah jam mereka bekerja tanpa jeda, hingga akhirnya berhenti sejenak, bukan untuk menyerah, tapi untuk menghargai letih. Di tangan mereka masih tersisa minyak dari gorengan pagi, namun tak sedikit pun melemahkan semangat untuk terus bersih-bersih.
Mata tak henti menatap pasir hitam Bubuan, yang kini mulai tampak bersih dan berkilau. Di bawah pohon ketapang, mereka kembali berkumpul. Wajah-wajah lelah itu tetap menyunggingkan senyum. Ada rasa syukur, karena di balik kerja sederhana ini, tersimpan jiwa besar yang tak sekadar mencintai alam, tapi juga mencintai negeri.
Dan seperti fragmen yang telah direncanakan dengan penuh makna, upacara bendera pun dilangsungkan. Tanpa tribun, tanpa karpet merah. Hanya pasir dan angin sebagai saksi kesakralan. Sang Merah Putih dikibarkan, dan dalam diam mereka memberi hormat, tak hanya pada selembar kain, tapi pada sejarah panjang perjuangan yang membuat mereka hari ini bisa berdiri bebas di bumi pertiwi.

Selesai upacara, tak ada sorak-sorai meriah. Hanya langkah perlahan menuju tempat duduk semula. Sebelum pulang, foto bersama diabadikan, lalu gelak tawa kembali membahana dalam suasana kekeluargaan yang hangat. Rama tama, perjumpaan dan perpisahan dalam satu waktu yang sakral.
Hendra Abarang, S.Hut., pria yang memimpin rombongan, membuka suara. Ia tak menyampaikan pidato panjang, hanya kata-kata yang lahir dari nurani. Ia menyebut kegiatan ini sebagai persembahan kecil untuk negeri, sebuah bakti sosial yang akan terus mereka jalankan tiap tahun, sebagai bagian dari rasa cinta yang tak lekang oleh waktu.
“Kami akan melibatkan karang taruna, agar gerakan ini tumbuh bersama generasi muda. Bersama APRI Boltim, kami ingin membangun semangat Boltim Bangkit,” ujarnya, sembari menatap laut yang tak pernah berhenti bergerak.

Mereka pulang tanpa medali, tanpa siaran pers nasional, tapi dengan hati yang penuh bahagia. Karena sesungguhnya, mencintai negeri tidak selalu harus dengan sorak dan senjata, tapi cukup dengan kerja tulus dari tangan-tangan yang tak takut kotor.
Merdeka bukan sekadar kata, ia adalah tindakan. Dan di Pantai Bubuan hari itu, APRI Boltim telah membuktikannya. (*)



