Bianca dan Firji, Warna Baru di Peta Prestasi Sulut
Jejak yang Tak Terhapus dari Pelataran Sejarah

Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus bersama Wakil Gubernur Victor Mailangkay menyambut Bianca Alessia Christabella Lantang dan Firji Beeg dengan rasa bangga di Kantor Gubernur, Jumat (22/08/2025)./Foto: Istimewa
Catatan: Matt Rey Kartorejo
LANGIT Jakarta baru saja menyimpan nyala merah putih yang berkibar megah di pelataran Istana Negara. Namun di balik kibaran itu, ada dua jiwa muda dari ujung utara Sulawesi yang menyusuri jejaknya dengan penuh cinta dan pengabdian: Bianca Alessia Christabella Lantang dan Firji Beeg. Nama-nama ini kini tak sekadar deretan huruf mereka telah menjadi gema kebanggaan, detak jantung harapan Sulawesi Utara.
Bianca, putri lentera dari Tomohon, dan Firji, pemuda gigih dari Kotabunan, mengukir sejarah kecil yang menggema ke seluruh negeri. Mereka tidak hanya mengangkat Sang Saka di hadapan Presiden dan para pemimpin bangsa, tetapi juga mengangkat martabat daerahnya ke altar tertinggi kehormatan.
Jumat pagi, di Kantor Gubernur Sulut, suasana terasa lebih dari sekadar seremoni. Gubernur Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay menyambut mereka bukan hanya dengan bunga dan senyum, tapi dengan bangga yang nyaris tak dapat dituturkan kata. Ada tatapan haru, ada isyarat pengakuan bahwa dua anak muda ini telah menyalakan obor baru dalam hati setiap orang tua, setiap pelajar, dan setiap mimpi yang nyaris padam.
“Ini bukan hanya soal mengibarkan bendera,” ucap Gubernur Yulius, suaranya sarat makna. “Ini tentang membawa nama Sulut ke panggung impian tertinggi, tentang menunjukkan bahwa darah timur pun bisa mewarnai sejarah bangsa.”
Pemerintah tak tinggal diam. Ada komitmen, ada janji yang diteguhkan: dukungan langsung bagi mereka yang hendak melangkah ke medan pengabdian lebih luas ke Akmil, Akpol, IPDN, atau perguruan tinggi lainnya. “Rekomendasi dari Gubernur Sulut akan menjadi jalan pembuka bagi kalian. Mimpi kalian, kini adalah tugas kami pula,” ujar Yulius penuh keyakinan.
Bianca dan Firji telah menunjukkan bahwa usia muda bukan halangan untuk menjulang. Mereka bukan sekadar Paskibraka mereka adalah simbol bahwa dari tanah Sulut, cahaya terang bisa menyusup ke langit ibu kota.
Dan mungkin, suatu saat kelak, saat merah putih kembali dikibarkan, akan ada lagi anak-anak Sulut yang melangkah gagah mengikuti jejak yang telah ditoreh dua bintang ini. (*)



