FEATURE

Bohabak Bersaksi, Pemimpin Itu Bernama Papa Chaca

Langkah yang Menyapa Tanah, Nama yang Jadi Doa

Catatan: Matt Rey Kartorejo

Di BAWAH langit Boltim yang biru berkilau, angin pagi membawa kabar tentang seorang lelaki bersahaja yang langkahnya tak pernah jauh dari denyut nadi rakyat. Dialah Haji Samsudin Dama, ST., ME., yang oleh rakyat dipanggil penuh sayang: Papa Chaca.

Minggu, 24 Agustus 2025, hari itu, mentari belum condong ke barat saat Papa Chaca menapakkan kaki di tanah Bohabak, tepatnya di Desa Bulawan, Kecamatan Kotabunan, desa yang sunyi tapi sarat makna. Tanpa dentang gendang atau hiruk pikuk protokoler, ia datang bukan sebagai pejabat tinggi, melainkan sebagai saudara.

Ia menyusuri jalanan sempit, menyalami tangan-tangan yang lelah tapi tulus, menyapa anak-anak yang tertawa tanpa prasangka, dan bertukar sapa dengan para ibu yang memasak dengan cinta untuk perayaan Pengucapan Syukur.

“Mendekatkan kebaikan, menjauhkan dari segala beban,” ucapnya lirih, nyaris seperti doa yang mengambang di udara. Kata-kata itu meluncur dari mulutnya seperti aliran sungai yang jernih, mengalir ke hati siapa pun yang mendengar.

Di rumah-rumah warga yang ia kunjungi, tidak ada sekat. Dinding politik runtuh, digantikan oleh jembatan silaturahmi yang kuat. Ia duduk di kursi plastik bersama warga, menyicipi hidangan sederhana, dan mendengarkan kisah-kisah kehidupan yang kadang getir, kadang manis, tapi semuanya jujur. Dalam mata warga, tergambar rasa hormat yang tak dibuat-buat. Sebab Papa Chaca bukan hanya hadir; ia menyimak, ia merasa.

Usai dari Bohabak, langkahnya berlanjut ke Pogogutat Keluarga Uyo Mamonto – Boderingan di Desa Bulawan Dua. Suasana kekeluargaan menyambutnya dengan hangat. Di tengah tawa dan nyanyian, ia tak sekadar menjadi tamu, melainkan bagian dari pelukan bersama yang tak mengenal perbedaan.

Momen-momen itu tak tertinggal dalam diam. Papa Chaca membagikannya di media sosial miliknya, bukan untuk pamer, tapi sebagai cermin kebersamaan yang layak dirayakan. Seperti air yang menyejukkan, unggahan itu mengalir deras dan menyentuh hati warga dunia maya.

“Selalu merakyat,” tulis Anugrah Asroma.

“Semoga sehat selalu Papa Chaca,” doa Na Mokodompit, mengalir lembut seperti bisikan kasih.

Komentar-komentar itu, sederhana tapi dalam, adalah suara rakyat yang menemukan cerminan harapan dalam sosok pemimpinnya. Sosok yang tak sekadar duduk di kursi empuk parlemen, tapi rela berjalan menembus terik dan hujan untuk menyapa, mendengar, dan hadir.

Papa Chaca bukan hanya nama di atas kertas suara. Ia adalah langkah yang menyapa tanah, suara yang mengisi ruang sunyi, dan peluk yang menghapus jarak antara rakyat dan pemimpinnya.

Di antara ribuan nama dan gelar, mungkin hanya segelintir yang menjelma jadi doa. Dan hari itu, dari Bohabak hingga Bulawan Dua, rakyat berbisik dalam hatinya,

“Sehat selalu, Papa Chaca. Sebab selama engkau dekat, harapan pun tak pernah jauh.” (*)

BERITA TERKAIT

Back to top button