Kisah Keteguhan dan Keberanian Kapolres Golfried di Jalan Pengabdian
Dari Samudera, Densus, Hingga Totabuan yang Damai

Kapolres Boltim, AKBP Golfried Hasiholan Pakpahan, Sst. S.H., M.Si., M.Mar Eng./Foto: Istimewa
Catatan: Matt Rey Kartorejo
Selasa, 26 Agustus 2025
Di BAWAH langit yang tak pernah berhenti menorehkan kisah manusia, ada seorang lelaki yang meniti jalan pengabdian dalam diam, di antara riuh gelombang dan hiruk pikuk tugas negara. Namanya: Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Golfried Hasiholan Pakpahan, Sst. S.H., M.Si., M.Mar Eng.
Ia bukan sekadar nama panjang yang berderet gelar akademik, melainkan sebuah cerita perjalanan yang ditempa waktu, pengorbanan, dan kerinduan yang kerap tertahan di antara jarak dan kewajiban.
Pria kelahiran Jakarta Pusat, 6 Oktober 1976 ini, memulai jejaknya di tubuh Kepolisian Republik Indonesia pada tahun 2003. Di situlah langkah pertama ia pijakkan, di laut lepas, bersama Polisi Air Mabes Polri. Laut adalah halaman pertamanya: luas, biru, sekaligus penuh misteri. Dari tahun 2003 hingga 2009, ia mengabdi di Pol Air, menapaki hari-hari panjang di atas dek kapal, menantang ombak, menegakkan hukum di samudera.
Namun laut bukanlah satu-satunya medan. Di tahun 2009, ia kembali menekuni dunia pendidikan, melanjutkan studi magister di Universitas Indonesia hingga 2011. Lalu, jalannya membawanya ke medan lain yang lebih sunyi, lebih penuh rahasia, dan seringkali berselimut bahaya: Densus 88. Selama lebih dari satu dekade, hingga Maret 2025, ia menjadi bagian dari pasukan yang berdiri di garis terdepan menghadapi ancaman teror.
Sejak awal pengabdiannya, ia ditempatkan sebagai perwira bantu di kapal polisi 510 Antareja, wilayah Kalimantan Barat. Di situlah ia belajar, bahwa pengabdian bukan hanya tentang seragam dan pangkat, melainkan tentang meninggalkan kenyamanan pribadi demi tegaknya sebuah amanah.
“Suka dukanya banyak,” ujarnya lirih, ketika mengenang kembali perjalanan panjangnya. “Ada masa-masa ketika harus berbulan-bulan meninggalkan keluarga karena tugas BKO. Ada pula saat-saat di Densus, di mana setiap langkah berarti menjauh dari anak dan istri demi keselamatan negeri. Tapi ada bahagia juga, saat bisa pulang, duduk bersama keluarga, mendengar tawa anak-anak, dan sekadar berbagi cerita.”

Kisahnya bukan hanya tentang meninggalkan, tetapi juga tentang menemukan. Dari laut ia menemukan arti keteguhan. Dari Densus, ia menemukan arti keberanian. Dari keluarga, ia menemukan alasan untuk terus pulang, meski harus menempuh jalan panjang penuh risiko.
Jejak Kasus dan Pengabdian
Di Pol Air, ia pernah berada di garda depan menangkap kapal-kapal asing yang nekat mencuri ikan di perairan Indonesia. Dari Thailand hingga Cina, laut kita pernah menjadi arena pengawasan yang ia kawal dengan keteguhan.
Di Densus, ia mencatatkan jejak di berbagai operasi penting. Dari menggagalkan upaya orang-orang yang hendak bergabung dengan kelompok ISIS, hingga penangkapan intelijen asing di Bandara Soekarno-Hatta. Semua itu, katanya, bukan sekadar catatan keberhasilan, melainkan bukti bahwa negeri ini selalu memerlukan penjaga di setiap pintu gerbangnya.
Inovasi di Ujung Timur Totabuan
Kini, di tahun 2025, takdir menempatkannya di sebuah tanah yang tenang namun tetap memerlukan pengayoman: Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).
Di ujung timur Totabuan itu, ia datang bukan hanya sebagai Kapolres, melainkan juga sebagai sosok yang membawa gagasan.
“Inovasi saya sederhana,” katanya. “Punish and reward. Yang berprestasi akan dihargai, yang melanggar akan diproses sebagaimana mestinya.”
Baginya, kepolisian bukan hanya mesin penegak hukum, tetapi juga ruang pembelajaran bagi setiap anggotanya.
Ia pun menaruh perhatian pada akar persoalan yang kerap mencuat di Boltim. Baginya, masyarakat Boltim pada dasarnya ramah, baik hati, dan menjunjung tinggi persaudaraan. Namun, ada pula sisi gelap yang lahir dari kebiasaan sebagian kecil oknum: minuman keras lokal. Dari situlah banyak persoalan sosial berawal, dari kekerasan hingga pelecehan.
Meski begitu, tugas di Boltim baginya seperti menemukan halaman baru yang lebih tenang. Lelaki berdarah Batak ini merasa nyaman berada di tengah masyarakat yang menyambut dengan senyum hangat.
“Selama bertugas di Bolaang Mongondow Timur, saya merasa damai,” ucapnya dengan nada syukur. “Orang-orang di sini ramah, penuh persaudaraan, dan itu yang membuat saya betah.”

Siapa sangka, seorang perwira yang telah melintasi laut luas, menghadapi ancaman teror, dan menempuh jalur pengabdian penuh bahaya, kini mendapati kenyamanan di sebuah kabupaten kecil yang masih hijau, masih sederhana, tetapi kaya akan kehangatan.
Ada satu sisi lain yang mungkin tak banyak diketahui: Kapolres Golfried Hasiholan ternyata memiliki suara emas. Di sela tugas yang padat, ia bisa melantunkan nada, seakan menyingkap wajah lain dari seorang penegak hukum. Mungkin di situlah ia menemukan cara menjaga keseimbangan, di antara kerasnya tugas dan lembutnya jiwa.

Sebuah Jalan Panjang
Hidupnya adalah mozaik: Jakarta, laut, kampus, operasi rahasia, hingga Boltim yang teduh. Semua menorehkan warna, semua meninggalkan jejak. Di balik dua melati di pundaknya, tersimpan cerita tentang keberanian, pengorbanan, dan cinta yang tak pernah padam kepada keluarga maupun negeri.
Mungkin begitulah hakikat seorang pengabdi. Ia hadir bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk sesuatu yang lebih besar: masyarakat, bangsa, dan negara. Dan di setiap langkahnya, terselip doa-doa dari orang-orang tercinta yang menanti kepulangannya.
Kapolres Golfried Hasiholan Pakpahan adalah satu dari sekian banyak wajah pengabdian yang jarang disorot. Namun, kisahnya mengajarkan satu hal: bahwa pengorbanan, meski sunyi, selalu bermakna. (*)



