Dari Tribun Sederhana, Bupati Oskar Menyapa Rakyatnya
Ketika Lapangan Bergema, Rakyat dan Pemimpin Menyatu Tanpa Sekat

Bupati Oskar Manoppo saat menyaksikan Tim Modayag FC dan Sparing FC Kotamobagu di Lapangan Bogani Kotabunan./Foto: Istimewa
Catatan: Matt Rey Kartorejo
SABTU sore itu, langit Kotabunan seakan menurunkan cahaya emasnya tepat di atas Lapangan Bogani. Rumput hijau bergoyang pelan diterpa angin, sementara ribuan pasang mata sudah sejak siang menanti satu peristiwa: sepak bola yang tak hanya sekadar pertandingan, melainkan pesta rakyat yang menyatukan.
Riuh tepuk tangan menggema ketika sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Bupati Bolaang Mongondow Timur, Oskar Manoppo, melangkah tenang memasuki arena. Tak ada pagar pembatas, tak ada jarak yang menganga, ia hadir sebagai pemimpin, namun lebih-lebih sebagai seorang sahabat yang kembali pulang ke tengah rakyatnya. Suara sorak, tepukan riang, bahkan teriakan penuh bangga melambung ke udara. Lapangan itu seakan bergetar oleh gelombang kebersamaan.
Di tribun sederhana yang menepi di pinggir lapangan, Bupati Oskar duduk bersahaja. Tidak di kursi kehormatan yang terpisah, melainkan di bangku yang sama dengan masyarakat yang mencintai sepak bola. Dari sana, ia menyaksikan Modayag FC dan Sparing FC Kotamobagu saling beradu strategi, berlari tanpa kenal lelah, menjunjung sportivitas seolah tak ada yang lebih berharga daripada kebanggaan.
Sorak-sorai pecah setiap kali bola menyentuh jaring gawang. Skor 2-2 menjadi saksi bahwa permainan ini bukan sekadar adu kekuatan, melainkan juga drama yang merangkul semua rasa: harapan, tegang, bahagia, dan pasrah. Setiap detik seakan menahan napas, setiap gol menjelma dentuman genderang perang, dan setiap peluit wasit membawa gema doa dari penonton yang tak henti berteriak.
Namun, lebih dari angka di papan skor, ada kehangatan yang sulit diukur. Kehadiran seorang pemimpin di tengah rakyatnya menjelma simbol kerendahan hati. Di balik jas resmi dan jabatan tinggi, Oskar Manoppo hadir sebagai wajah yang ramah, sebagai telinga yang siap mendengar, sebagai mata yang menatap dengan penuh pengertian. Lapangan Bogani sore itu bukan sekadar arena olahraga, tetapi panggung persaudaraan.

Turnamen Bupati Cup 2025 memang lebih besar daripada sekadar pertandingan. Ia adalah jembatan yang menghubungkan desa dengan desa, jiwa dengan jiwa, dan generasi dengan generasi. Di dalamnya, tumbuh bibit-bibit muda yang berlari membawa mimpi, mengolah bola seakan mereka tengah menata masa depan. Mereka tidak hanya bermain untuk menang, tetapi juga untuk membuktikan bahwa sepak bola adalah bahasa universal, bahasa yang menyatukan siapa pun tanpa memandang asal dan latar.
Dan di tengah gemuruh itu, rakyat Boltim menemukan kembali arti kebersamaan. Mereka bersorak bukan hanya untuk tim yang didukung, melainkan juga untuk semangat kolektif yang menyala. Sebab sepak bola, pada akhirnya, bukanlah tentang siapa juara dan siapa kalah. Ia adalah tentang tangan-tangan yang saling bertepuk, senyum yang saling bersambut, serta hati yang sama-sama terpaut dalam kecintaan pada olahraga.
Ketika senja perlahan menurunkan tirainya, Lapangan Bogani masih menyimpan gema sorakan sore itu. Pertandingan usai, skor telah ditetapkan, namun getaran kebersamaan tetap tertinggal di dada setiap penonton. Dan mungkin, di antara tepuk tangan yang berangsur reda, rakyat Boltim diam-diam mengucap syukur: bahwa mereka memiliki pemimpin yang tahu cara duduk bersama, tahu cara menyatu, dan tahu bagaimana menjaga sepak bola tetap menjadi rumah persaudaraan. (*)



