Pelatihan Gizi Bencana 2025 Ditutup, Bupati Oskar Tekankan Sinergi Lintas Sektor

TIMURTIMES – Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Oskar Manoppo, S.E., M.M., secara resmi menutup kegiatan Pelatihan Gizi Bencana (End User) Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Boltim bekerja sama dengan Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Manado.
Penutupan kegiatan berlangsung di Hotel Aston Manado, Sabtu (27/9/2025), dengan dihadiri jajaran tenaga kesehatan, fasilitator, serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.
Pelatihan ini menjadi salah satu upaya nyata pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi situasi darurat, khususnya dalam penanganan gizi masyarakat ketika bencana alam melanda. Kabupaten Boltim sebagai daerah rawan bencana, baik banjir, tanah longsor, hingga potensi gempa bumi, membutuhkan tenaga kesehatan yang sigap, terlatih, dan mampu memberikan layanan gizi secara cepat, tepat, serta efektif.
Kegiatan yang berlangsung selama beberapa hari ini diikuti puluhan tenaga kesehatan dari berbagai puskesmas dan fasilitas layanan kesehatan di Boltim. Para peserta mendapatkan materi seputar strategi penanganan gizi dalam kondisi darurat, teknik distribusi logistik pangan bergizi, hingga tata laksana gizi untuk kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan lansia.
Selain itu, simulasi lapangan juga diberikan agar para peserta mampu mengaplikasikan teori yang didapat ketika menghadapi bencana nyata. Diharapkan, dengan bekal ilmu tersebut, setiap tenaga kesehatan dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga kualitas kesehatan masyarakat di situasi kritis.
Master of Training (MOT) Hellen Bujung, M.A.P., bersama jajaran Bapelkes Manado, turut mendampingi jalannya pelatihan. Kehadiran mereka memberi dukungan teknis sekaligus memastikan bahwa materi yang disampaikan sesuai dengan standar nasional dalam penanganan gizi bencana.
Dalam sambutannya, Bupati Oskar Manoppo memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia menegaskan, keberhasilan penyelenggaraan kegiatan ini bukan hanya dilihat dari kelancaran acara, tetapi terutama dari manfaat ilmu yang akan diterapkan di lapangan.
“Saya ingin mengajak seluruh pihak untuk terus bekerja sama, bergandengan tangan, dan memperkuat sinergi dalam membangun sistem kesiapsiagaan bencana yang tangguh dan responsif terhadap kebutuhan gizi masyarakat,” ujar Oskar di hadapan peserta.
Bupati menambahkan, pengalaman belajar yang diperoleh para tenaga kesehatan tidak boleh berhenti di ruang pelatihan semata. Menurutnya, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana ilmu tersebut diimplementasikan ketika masyarakat benar-benar menghadapi situasi darurat.
“Dengan mengucapkan Alhamdulillahirabbil’alamin, kegiatan Pelatihan Gizi Bencana tahun 2025 secara resmi saya nyatakan ditutup. Semoga ilmu dan pengalaman yang diperoleh dari pelatihan ini dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Kabupaten Bolaang Mongondow Timur,” tutupnya.
Bupati menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus berupaya meningkatkan kapasitas SDM di sektor kesehatan, termasuk dalam bidang gizi dan penanganan darurat bencana. Program pelatihan semacam ini akan dijadikan agenda berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak peserta dari berbagai lapisan, mulai dari tenaga medis, aparat desa, hingga organisasi masyarakat sipil.
Menurutnya, kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak bisa ditanggung oleh pemerintah semata. Butuh sinergi lintas sektor agar sistem penanganan bencana di Boltim benar-benar tangguh.
“Ketangguhan masyarakat hanya bisa dibangun jika semua elemen, baik pemerintah, tenaga kesehatan, relawan, hingga masyarakat umum, memiliki pemahaman yang sama tentang pentingnya kesiapsiagaan,” kata bupati.
Sebagai daerah yang berada di wilayah rawan bencana, Kabupaten Boltim kerap menghadapi tantangan besar. Setiap musim penghujan, banjir dan tanah longsor hampir selalu mengancam sejumlah kecamatan. Kondisi geografis dengan perbukitan serta aliran sungai utama membuat daerah ini harus selalu waspada.
Dalam situasi bencana, persoalan gizi masyarakat sering kali terabaikan. Padahal, pemenuhan kebutuhan gizi yang tepat menjadi kunci utama untuk menjaga daya tahan tubuh korban, terutama kelompok rentan. Kekurangan gizi pada masa darurat dapat memperburuk keadaan, memicu penyakit, hingga menghambat proses pemulihan.
Melalui pelatihan ini, tenaga kesehatan Boltim dibekali keterampilan agar lebih responsif. Mereka diharapkan mampu menyusun rencana kontinjensi gizi, mendata kelompok rentan dengan cepat, serta menyalurkan bantuan gizi sesuai kebutuhan. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah pusat yang terus mendorong daerah agar lebih sigap dalam penanganan bencana berbasis kesehatan.
Dengan berakhirnya pelatihan ini, diharapkan para peserta menjadi pionir di wilayah kerja masing-masing. Mereka tidak hanya membawa pulang pengetahuan, tetapi juga menularkannya kepada rekan sejawat serta masyarakat. Efek berantai dari pelatihan ini diharapkan mampu menciptakan jaringan kesiapsiagaan gizi yang lebih luas dan solid.
“Ilmu yang didapat harus dibagikan. Semakin banyak tenaga kesehatan yang memahami penanganan gizi bencana, semakin kuat pula ketahanan masyarakat Boltim dalam menghadapi bencana,” ujar salah satu peserta pelatihan.
Penutupan pelatihan ini sekaligus menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk memperkuat koordinasi dengan pihak provinsi maupun pusat, terutama dalam hal dukungan anggaran, fasilitas, dan logistik. (Rey)



