FEATURE

Menggagas Masa Depan Tambang di Ruang Sederhana

"Kami Bukan Sekadar Pengurus, Kami Saudara"

Pengurus DPC APRI Kabupaten Boltim./Foto: Istimewa

Catatan: Matt Rey Kartorejo

MINGGU malam, tanggal dua belas Oktober tahun dua ribu dua puluh lima, waktu merambat pelan di sebuah sudut sunyi Desa Bulawan, Bolaang Mongondow Timur. Di dapur yang sederhana, berdinding batako kasar dan berlantai semen dingin, sekelompok orang duduk melingkar di sekitar meja kayu yang mulai mengusang oleh waktu. Mereka adalah pengurus DPC APRI, berkumpul bukan hanya untuk berembuk, tetapi juga merawat tali silaturahmi yang mulai tumbuh menjadi saudara.

Di atas meja, belum banyak yang tersaji selain gelak tawa dan obrolan ringan. Sebuah speaker aktif tampak di pojok ruangan, menyalurkan lagu-lagu lawas yang menggantung di udara malam, menyelinap di antara dengung lampu dari luar jendela. Malam itu, bukan gedung mewah atau hotel berpendingin udara yang menjadi saksi, melainkan dapur, tempat segala rasa dimulai.

Dio membuka suasana dengan lagu kesukaannya, suaranya mengalun hangat, seperti secangkir kopi pahit yang disantap perlahan. Hendra Abarang menyusul, menyanyikan beberapa tembang manis yang membawa senyum di wajah-wajah yang telah lama akrab. Tak mau kalah, Adelira dan Firdaus Kumontoy pun turut mendendangkan lagu—lagu sederhana yang tak butuh tepuk tangan megah untuk terasa dalam.

Lalu, giliran Yahman. Ia memilih lagu daerah, tembang tua dari tanah Hulandalo. Suaranya menggetarkan ruang, mengalir pelan seperti sungai yang menyusuri kenangan akan kampung halaman. Ketika bait terakhir usai, tepuk tangan pun pecah, bukan karena meriah, tapi karena tersentuh.

Yaman, saat membawakan lagu daerah./Foto: Istimewa

Sebelum masuk pada inti pertemuan, aroma ikan asap mulai menyebar di ruangan. Kami memasak bersama. Tak ada koki, hanya niat baik dan semangat berbagi. Ikan Fufu disandingkan dengan Dabu-Dabu Lemong buatan Firdaus. Rasanya sederhana, tapi kebersamaan membuatnya lebih dari sekadar lezat. Kami makan bersama, saling menyuap tawa dan meneguk keakraban.

Menu sederhana, ikan Fufu dabu-dabu Lemong./Foto: Istimewa

Pukul setengah sebelas malam, rapat dimulai. Suasana tetap hangat meski obrolan menjadi lebih serius. Satu per satu saran dilontarkan, ide ditampung. Pembahasan malam itu berpusar pada rencana besar: peluncuran RMC dan langkah konkret menata tambang rakyat. Hendra Abarang, selaku pimpinan APRI, menyampaikan apresiasi mendalam kepada semua yang hadir. Wajahnya lelah, tapi penuh semangat.

Suasana sebelum rapat DPC APRI Boltim dimulai./Foto: Istimewa

Ia berbicara tentang koperasi, tentang desa yang akan menjadi titik awal, dan tentang harapan yang tumbuh dari tanah yang sering diabaikan. Tak lama kemudian, Cindi Limo, sang Sekretaris, menutup rapat dengan kalimat penutup yang bersahaja tapi sarat makna.

“Syukur moanto, rapat malam ini sukses. Wabilahi Taufik walhidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Malam itu, di dapur yang tak lebih besar dari harapan kami, sebuah pertemuan berlangsung. Bukan hanya soal tambang, bukan semata rencana, tapi tentang persaudaraan, tentang tanah, dan tentang mimpi-mimpi yang tetap hangat meski malam kian larut. (*)

BERITA TERKAIT

Back to top button