FEATURE

Dewi Athena, Cahaya Kecil dari Timur yang Menyalakan Dunia

Dewi Athena Tri Manjadda, Bersama Ketua TP-PKK Boltim, Rosita Manoppo-Pobela./Foto: Istimewa

Catatan: Matt Rey Kartorejo

DARI sebuah sudut kecil di bumi Clebes Utara tepatnya di tanah Totabuan Timur atau yang akrab disapa Boltim,  lahir cahaya kecil yang kini memantul terang ke langit dunia. Namanya: Dewi Athena Tri Manjadda, siswi sederhana dari SDN 2 Buyat 2, Kecamatan Kotabunan, yang diam-diam menyimpan bara semangat dan ketekunan yang jarang disadari oleh dunia luar.

Sabtu, 18 Oktober 2025. Angin musim gugur menyapu kota Suwon, Korea Selatan. Di balik gemerlap teknologi dan gedung-gedung tinggi, terselenggara sebuah panggung ilmu dan kreativitas bertajuk International Mathematical Science Creativity Competition (IMSCC), sebuah ajang tempat para benak muda dari berbagai penjuru bumi saling unjuk daya dan imajinasi.

Dari 13 negara, 25 peserta hadir, membawa serta mimpi, harapan, dan nama bangsa mereka. Namun siapa sangka, dari semua bintang yang bersinar di sana, satu cahaya datang dari Timur Indonesia. Dewi Athena, nama yang seolah memang ditakdirkan menjadi simbol kebijaksanaan dan perjuangan, tampil tak sekadar mewakili sekolahnya, atau kabupatennya, bahkan bukan hanya negerinya. Ia datang membawa semangat seluruh anak-anak desa yang kerap dipinggirkan oleh peta dan pemberitaan.

Dalam kategori Mechatronics I, Dewi menyuguhkan karya dan pemikiran yang memukau para juri internasional. Dan ketika nama “Indonesia” disebut bersanding dengan kata “Gold Medal”, sejenak waktu berhenti di Suwon. Tepuk tangan bergema, dan dalam gemuruh itu, satu nama dari Buyat 2 menancap dalam sejarah.

Ketua TP-PKK Kabupaten Boltim, Ny. Rosita Manoppo-Pobela, yang turut hadir mendampingi, tak kuasa menahan haru. Dengan mata berkaca, ia berkata, “Dewi Athena telah membuktikan bahwa dengan semangat dan kerja keras, anak-anak Boltim mampu mengharumkan nama daerah, bahkan bangsa, di kancah internasional.”

Dan sesungguhnya, apa yang dilakukan Dewi lebih dari sekadar memenangkan lomba. Ia menyalakan harapan. Bahwa dari lorong-lorong sekolah di pelosok negeri, bisa lahir benak cemerlang yang sanggup menembus batas-batas geografis dan mengalahkan keraguan.

Prestasi ini bukan akhir, melainkan awal. Awal dari sebuah perjalanan panjang anak-anak Boltim untuk terus bermimpi besar. Semoga kisah Dewi Athena menjadi nyala dalam dada generasi muda di timur sana, bahwa mereka pun bisa, bahwa mereka pun layak.

Di antara barisan bendera yang berkibar di Suwon, satu merah putih berdiri lebih tinggi hari itu. Dan dari tanah Boltim, kita semua mengangguk bangga, menyadari bahwa cahaya kecil dari timur itu kini telah menerangi dunia. (*)

BERITA TERKAIT

Back to top button