Ketika Anak-Anak Mengajarkan Arti Peduli

Siswa SDN 2 Kotabunan didampingi Kepala Sekolah dan para guru memberikan bantuan kepada bapak Arhap Asinang di Desa Kotabunan Barat./Foto: Istimewa
Catatan: Matt Rey Kartorejo
MUSIBAH itu datang tanpa mengetuk, membakar malam dan meninggalkan abu di antara doa. Rumah sang Imam Masjid Al-Ikhlas Kotabunan, Arhap Asinang, luluh dalam jilatan api yang tak mengenal belas kasihan. Dinding yang dulu bersuara ayat-ayat suci kini hanya menyisakan arang, sementara langit Kotabunan berduka dalam diam.
Namun di tengah kepedihan itu, muncul seberkas cahaya, bukan dari lampu, bukan pula dari api, melainkan dari hati kecil yang masih bening. Anak-anak Sekolah Dasar Negeri 2 Kotabunan, dengan langkah ringan dan mata penuh iba, datang membawa sebungkus kasih yang mereka kumpulkan.
Senin pagi, 27 Oktober 2025, udara di Kotabunan Barat terasa lebih hangat dari biasanya. Di bawah bimbingan Kepala Sekolah, Irsad Modeong, para siswa berjalan menuju rumah sang imam, membawa bantuan sederhana namun sarat makna. Mereka datang bukan dengan tangan kosong, melainkan dengan niat yang murni, niat untuk berbagi, untuk menghapus sedikit duka yang menetes dari mata seorang hamba yang teruji.
“Ini hasil dari siswa SD Negeri 2 Kotabunan Peduli,” ucap Irsad dengan suara bergetar halus, di hadapan rumah yang telah menjadi saksi api. “Terima kasih untuk anak-anak dan para guru yang telah menggalang dana demi membantu keluarga yang tertimpa musibah. Inilah wujud kepedulian terhadap sesama.”
Kata-kata itu menggema lembut, seakan menenun harapan baru dari abu yang tersisa. Sang kepala sekolah menatap murid-muridnya dengan kebanggaan yang sulit disembunyikan. Di balik seragam putih-putih yang sederhana, ia melihat generasi yang tak hanya cerdas otaknya, tapi juga lembut hatinya.
“Semoga kalian tumbuh menjadi generasi yang cerdas, peduli, dan peka terhadap sesama,” lanjutnya, dengan senyum yang menyimpan doa. “Kelak, kesuksesan bukan hanya tentang nilai dan prestasi, tapi tentang bagaimana kalian menyalakan cahaya di hati orang lain.”
Hari itu, langit Kotabunan kembali biru. Di antara abu yang berserak, tumbuhlah benih kebaikan dari tangan-tangan kecil yang belajar tentang arti empati. Dan dari reruntuhan rumah seorang imam, lahirlah pelajaran tentang kasih, bahwa dalam setiap bencana, selalu ada cinta yang menyala lebih terang dari api. (*)



