
Bupati Boltim, Oskar Manoppo turun langsung melihat kondisi rumah warga Buyandi yang terbakar./Foto: Istimewa
Catatan: Matt Rey Kartorejo
MALAM itu, udara di Desa Buyandi, Kecamatan Modayag, seakan menahan napas. Angin yang biasanya membawa harum dan wangi tanah basah, kini menyelipkan aroma getir, bau asap dan kayu terbakar. Dari kejauhan, cahaya merah menari di langit, bukan lentera, bukan pula api unggun yang menghangatkan, melainkan bara amarah yang melahap rumah milik Wisnu Sugeha dan Rafikaduri Kawulusan.
Dalam sekejap, rumah yang dulu penuh tawa dan doa berubah menjadi abu dan kenangan. Dinding kayu yang pernah melindungi kini rebah, atap seng tergolek seperti sayap burung patah. Di antara kepulan asap yang mulai menipis, hanya tersisa mata yang memerah, tangan yang gemetar, dan hati yang tak berhenti bertanya: mengapa secepat itu segalanya pergi?
Keesokan harinya, Minggu, 26 Oktober 2025, langkah-langkah kaki terdengar menyusuri jalan desa. Bupati Bolaang Mongondow Timur, Oskar Manoppo, datang bersama rombongan: Tenaga Ahli Bupati, aparat Kecamatan Modayag, dan Pemerintah Desa Buyandi. Mereka bukan datang membawa janji manis, melainkan menghadirkan kehadiran yang nyata, hadir di tengah abu, di antara serpihan harapan yang masih hangat.
Bupati Oskar dengan suara yang tenang namun bergetar, menatap sisa arang yang masih mengepulkan asap tipis.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, saya menyampaikan duka yang mendalam. Semoga keluarga diberi kekuatan untuk bangkit kembali. Kami akan berusaha membantu sesuai kemampuan daerah.”
Kalimat itu sederhana, tapi di mata keluarga yang kehilangan segalanya, terasa seperti air hujan pertama setelah kemarau panjang. Warga pun menatap dengan rasa haru. Seorang lelaki paruh baya, mengucap lirih, “Salut buat Bupati Oskar. Semoga selalu diberi kekuatan dan perlindungan Allah SWT.” Kata-katanya meluncur seperti doa yang menembus langit kelabu.

Dari cerita yang beredar, api bermula dari ledakan tabung gas LPG, kecelakaan kecil yang berubah jadi malapetaka besar. Dalam hitungan menit, api menjalar, menjilat tirai, kayu, dan semua yang tersimpan di rumah itu. Tak ada yang sempat diselamatkan, kecuali nyawa yang berlari di antara kobaran tak terelakkan.
Namun dari abu, selalu ada bara kecil yang menolak padam. Bara itu adalah kepedulian. Di tengah musibah, tangan-tangan tetangga bergerak cepat, membawa air, menyelimutkan kain, memeluk yang kehilangan. Dan di antara semua kesedihan, hadirnya pemimpin di tengah rakyat menjadi simbol: bahwa pemerintahan bukan hanya urusan kantor dan rapat, tetapi juga tentang hati yang ikut terbakar saat warganya dilanda duka.
Kini, di tanah yang masih menghitam itu, anak-anak kembali berlarian, menapaki sisa arang dengan langkah kecil penuh harapan. Mungkin esok rumah itu akan berdiri lagi, mungkin lebih kokoh, mungkin lebih hangat karena dibangun dari sesuatu yang tak bisa dilalap api: semangat dan kepedulian sesama.
Buyandi memang pernah terbakar. Tapi dari puing-puingnya, cahaya kemanusiaan justru menyala lebih terang. (*)



