FEATURE

Sebuah Malam di Bulawan

Ketika Waktu Berhenti Sejenak Untuk Mendengarkan Suara Persahabatan

Oleh: Matt Rey Kartorejo

SELASA, 11 November 2025, pukul 21.56 WITA, di depan teras rumah milik Ayax Vay Lasambu, malam berlabuh dengan lembut, seolah tahu bahwa di bawah sinar lampu temaram itu ada sekelompok sahabat yang sedang menambatkan kenangan. Meja plastik berwarna putih menjadi saksi bisu. Di atasnya, uap kopi susu mengepul pelan, berpadu dengan aroma tembakau yang menari-nari di udara. Aku, Jumadi, Dio, dan Ayax Vay duduk melingkar, membentuk semacam lingkar kata yang hangat.

Cuaca di Desa Bulawan malam itu begitu bersahabat angin bertiup pelan, menggerakkan dedaunan mangga di depan rumah. Satu ketel kopi susu buatan Ayax Vay seolah tak ada habisnya; setiap tegukannya menyulut percakapan, membuat malam menjadi lebih panjang dari seharusnya. Kami berbicara ringan, namun tak jarang terselip nada duka, sebab topik malam itu tentang wafatnya almarhumah, istri mantan Wakil Bupati Boltim. Setiap kata yang keluar terasa hati-hati, seperti langkah seseorang di atas tanah basah.

Tak lama, datanglah Agung Lapajawa, teman lama, pemuda cerdas yang selalu membawa angin baru di setiap pertemuan. Ia datang dengan senyum yang khas, duduk di samping kami, lalu dengan segera melontarkan cerita tentang masa depan Boltim. Cara bicaranya tenang, namun sarat keyakinan. Kami menatapnya penuh perhatian. Sesekali ia terkekeh, menatap satu per satu wajah di hadapannya. Jumadi, yang duduk tepat di depannya, kerap menyahut, membuat suasana menjadi renyah dan ringan.

Ayax Vay, sang tuan rumah, tak kalah memikat. Dengan gaya santainya, ia sesekali menimpali. Kalimatnya pendek, tapi penuh makna, seolah setiap kata yang keluar telah disaring dari pengalaman panjang. Di antara kami berlima, ia yang paling tenang seperti sungai kecil yang mengalir tanpa suara, tapi memberi kesejukan bagi siapa pun yang meneguknya.

Kopi susu buatan Ayax Vay./Foto: Momais

Waktu berjalan tanpa terasa. Jarum jam telah menunjuk pukul 23.33 WITA. Kopi di cangkir tinggal ampas, tapi percakapan masih saja mengalir, mengisi ruang-ruang kosong di antara tawa dan keheningan. Agung Lapajawa kembali berbicara. Kali ini tentang cita-cita, tentang Boltim yang lebih maju. Tentang pemuda-pemuda yang tak hanya pandai menulis berita, tapi juga mampu menulis masa depan. Di matanya, aku melihat cahaya kecil sebuah keyakinan yang jarang dimiliki orang seusianya.

Kami mendengarkan dengan takzim, seolah di malam itu, setiap kata adalah pelita yang menuntun langkah. Kadang kami tertawa, kadang terdiam. Dan dalam diam itu, ada sesuatu yang tak terucap: semacam rasa syukur telah diberi kesempatan berbagi pikiran dan rasa di bawah langit Bulawan yang biru kelam.

Teman-teman jurnalis foto bersama Agung Lapajawa./Foto: Momais

Pukul dua belas tepat, malam akhirnya mengajukan perpisahan. Agung berpamitan. Kami pun berdiri. Udara mulai dingin, namun dada kami hangat oleh percakapan yang baru saja terjadi.

“Marijo mo pulang, so jam dua belas ini. Nanti besok Jo torang mo ka bawah,” kataku sambil tersenyum.

Kami berjalan meninggalkan teras itu perlahan, masing-masing membawa pulang sepotong kenangan. Malam itu, meski sederhana, penuh makna. Seolah waktu berhenti sejenak, memberi ruang bagi kami untuk menyadari bahwa dalam secangkir kopi dan obrolan ringan, terkadang tersimpan hikmah tentang persahabatan, kehidupan, dan harapan. (*)

BERITA TERKAIT

Back to top button