FEATURE

Di Bawah Terpal Pasar, Babinsa dan Warga Menyatu dalam Cerita Kemanusiaan

Saat Tugas Negara Berubah Menjadi Pelukan Kemanusiaan di Dumoga Tengah

Catatan: Matt Rey Kartorejo

DI BAWAH naungan terpal sederhana yang melindungi wajah-wajah pekerja dari sengatan matahari Dumoga Tengah, pagi berjalan dengan caranya sendiri. Aroma tanah, suara langkah kaki, dan riuh kecil obrolan warga Desa Ibolian berpadu menjadi irama keseharian. Di tempat itulah kebersamaan menemukan wujudnya. Tanpa podium, tanpa jarak, tanpa sekat pangkat.

Seorang Babinsa berdiri di antara mereka. Bukan sebagai sosok yang menggurui, melainkan sebagai bagian dari denyut hidup desa. Senyumnya mengalir alami, sapanya ringan, dan telinganya terbuka bagi setiap cerita. Pagi itu, Rabu (21/01/2026), tugas negara menjelma menjadi perjumpaan kemanusiaan yang hangat.

Dialah Koptu Irman Sagoba, Babinsa Koramil 1303-07/Dumoga, yang melaksanakan komunikasi sosial bersama warga. Lokasinya bukan ruang resmi, melainkan area pasar desa, tempat peluh bercampur harapan, tempat nafkah diperjuangkan dengan kesungguhan. Di sanalah dialog tumbuh secara jujur, tanpa formalitas yang kaku.

Dengan bahasa sederhana, Koptu Irman mengingatkan warga akan pentingnya keselamatan dalam bekerja. Setiap aktivitas ekonomi, sekecil apa pun, menyimpan risiko yang tak boleh diabaikan. Imbauan itu tak terdengar seperti perintah, melainkan kepedulian seorang saudara yang ingin melihat saudaranya pulang dengan selamat.

Lebih dari itu, ia mengajak masyarakat menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan. Baginya, desa yang aman adalah fondasi kehidupan yang sejahtera.

Ketenteraman bukan sekadar kondisi, melainkan hasil gotong royong, kesadaran bersama, dan saling menjaga satu sama lain.

“Babinsa harus hadir di mana saja, kapan saja, dan diterima oleh masyarakat,” ucapnya lirih namun penuh keyakinan.

Dalam komunikasi yang terjalin baik, persoalan tak perlu menunggu membesar; ia bisa dicegah sejak masih berupa bisik kegelisahan.

Warga menyambut kehadiran itu dengan tawa dan canda ringan. Tak ada kecanggungan. Cerita mengalir, keluh kesah dibagi, dan harapan disematkan pada obrolan sederhana. Kedekatan emosional yang terbangun hari itu menjadi bukti bahwa keamanan tak selalu dimulai dari senjata, melainkan dari senyum dan kesediaan untuk mendengar.

Di bawah terpal pasar Desa Ibolian, kebersamaan menemukan maknanya. TNI dan rakyat berdiri sejajar, saling menguatkan, menjaga desa sebagai rumah bersama. Sebuah potret kecil tentang Indonesia yang hangat, manusiawi, dan penuh harapan. (*)

BERITA TERKAIT

Back to top button