FEATURE

Rahman Salehe dan Harapan Para Pedagang Ikan

Doa Tibo-Tibo untuk Seorang Dermawan

Oleh: Matt Rey Kartorejo

PAGI ITU, suasana Pasar Tradisional Kotabunan berdenyut seperti nadi kehidupan yang tak pernah berhenti. Langit Bolaang Mongondow Timur terbentang cerah, seakan ikut memberkati hiruk-pikuk manusia yang berkumpul di bawahnya. Aroma laut yang menempel pada ikan-ikan segar bercampur dengan suara tawar-menawar, tawa kecil, serta langkah kaki yang bersahutan di lorong-lorong pasar.

Di setiap sudut, kehidupan berjalan apa adanya sederhana namun penuh cerita.

Para pedagang ikan, yang akrab disebut tibo-tibo, tampak sibuk melayani pembeli. Tangan-tangan mereka lincah menimbang ikan, membungkus dagangan, dan sesekali mengusap keringat yang jatuh dari dahi. Bagi mereka, pagi di pasar adalah harapan yang selalu diperjuangkan harapan agar dagangan habis terjual, agar dapur tetap mengepul, agar anak-anak di rumah bisa tersenyum.

Namun pagi itu, sesuatu yang tak biasa terjadi. Wajah para tibo-tibo yang semula lelah mendadak sumringah. Di tengah keramaian pasar, hadir seorang lelaki yang dikenal banyak orang. Ia adalah Rahman Salehe, seorang pengusaha sukses asal Desa Bulawan Dua yang juga mengemban amanah sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Kehadirannya tidak datang dengan gegap gempita, tetapi cukup untuk membuat orang-orang di pasar menoleh dengan rasa hormat.

Satu per satu, ia menghampiri para pedagang ikan. Dengan senyum yang tulus, pria yang akrab disapa Amang ini menyerahkan bantuan berupa uang kepada mereka. Nilainya mungkin sederhana bagi sebagian orang, lima ratus ribu rupiah untuk setiap pedagang, namun bagi para tibo-tibo, itu adalah secercah harapan yang turun di tengah kerasnya perjuangan hidup.

Ratusan pasang mata menyaksikan peristiwa itu. Bisik-bisik kagum terdengar di antara kerumunan.

“Luar biasa Amang. Samua tibo-tibo ikang dia kase akang doi lima ratus ribu. Amang memang bae depe orang,” ujar seorang pedagang dengan mata yang masih dipenuhi rasa haru.

Setelah bantuan itu diberikan, doa-doa pun mengalir dengan tulus. Seorang perempuan paruh baya mengangkat tangannya, seolah menitipkan harapan kepada langit.

“Semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan semoga Amang sukses selalu.”

Pedagang lain menimpali dengan keyakinan yang hangat,

“Pantasan Amang pe rezeki nae trus. Kuat skali ba berbagi katu. Dari dulu Amang banyak membantu masyarakat, jadi memang depe rezeki bukang takurang, malah ta tambah.”

Hari itu mungkin akan berlalu seperti hari-hari lainnya, namun cerita tentang kebaikan akan terus tinggal dalam ingatan mereka. Sebab kebaikan, sekecil apa pun, selalu memiliki gema yang panjang.

Karena sesungguhnya, kebaikan yang Rahman  beri hari ini mungkin terasa kecil bagi dirinya, tetapi bagi orang lain bisa menjadi harapan yang besar. Maka teruslah memberi bukan karena kita berlebih, melainkan karena kita peduli.

Bagi para tibo-tibo ikan, bantuan itu bukan sekadar uang. Ia adalah tambahan modal, penguat semangat, dan bukti bahwa kebaikan masih hidup di tengah masyarakat. (*)

BERITA TERKAIT

Back to top button