
Catatan: Matt Rey Kartorejo
Di SEBUAH aula yang tak terlalu megah, di Goba Molunow, desa sunyi di pelipir Kecamatan Mooat, sebuah babak baru digoreskan oleh tinta sejarah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Bolaang Mongondow Timur. Udara sore terasa sarat makna; bukan hanya karena kursi-kursi yang tertata rapi, tapi karena semangat yang tak terlihat namun jelas terasa: semangat untuk bangkit.
Kepengurusan lama telah rampung, seperti daun tua yang luruh dari rantingnya. Kini, DPC PKB Boltim menanam tunas baru. Ia bernama Uan Lahati, lelaki yang kini resmi menjadi nahkoda, dipercaya menakhodai kapal partai menuju samudra pemilu 2029 yang bergelombang.
Penetapan ini bukan dilakukan diam-diam, melainkan melalui rapat koordinasi yang dipimpin oleh para tokoh besar DPW PKB Sulawesi Utara:
Ada Yusra Alhabsyi, sang Ketua DPW, yang juga menjabat sebagai Bupati Bolaang Mongondow.
Ada Sarhan Antili, Sekretaris DPW dan Staf Ahli Gubernur.
Ada pula dr. Wenny Gaib, Walikota Kotamobagu, yang membawa keteduhan dalam ketegasan.
Dan Yusran Debby Mokolanut, Wakil Ketua DPRD Kota Kotamobagu, yang mengiringi langkah dengan kebijakan dan keteguhan.
Struktur baru pun dikukuhkan:
Ketua: Uan Lahati
Sekretaris: Maryam Batalipu
Bendahara: Azkabul Agow
Namun ini lebih dari sekadar struktur. PKB tak sedang sekadar menyusun jabatan. Mereka tengah membangun ulang sebuah kekuatan yang sempat tertidur, memupuk akar yang akan tumbuh menembus tanah politik Boltim yang keras namun subur.
“PKB bukan kalah. Kita hanya sedang mengatur napas,” ujar Yusra Alhabsyi, suaranya tegas tapi penuh harap. “Sejak Boltim berdiri di tahun 2008, PKB telah punya tempat. Tak dapat kursi di 2024 bukan kiamat, melainkan jeda. Kini waktunya evaluasi, lalu bangkit dengan semangat yang tak tergoyahkan.”
Wenny Gaib menambahkan, “Kerja partai itu seperti musik. Harus kolektif, harmonis, dan terarah. Prinsip kami tetap: santai, serius, dan sukses. Kami ada untuk mendukung penuh PKB Boltim.”
Susunan kepengurusan juga mengandung aroma lokal.
Di Dewan Mustasyar, berdiri tegak nama-nama seperti Kiyai Kusdi Ismail dan Ismail Janu, tokoh-tokoh yang menjejak dalam dan lama.
Di Dewan Syura, terdapat Sofyan Alhabsy dan Meyske Kansil, pejuang tani dan penjaga suara akar rumput.
Sementara Dewan Tanfidz diisi oleh wajah-wajah yang membumi:
Ahmad Ishak (Mat Jabrik) sang wartawan dan aktivis,
Faisal Antili pengusaha muda yang haus perubahan,
Soesanto Mamonto, eks anggota Bawaslu yang tak lupa jalan ke rakyat,
dan nama-nama seperti Hendra Mamonto dan Zulkifli Malangi, suara-suara dari tanah yang selama ini mendiamkan harap.
Dalam pidato perdananya, Uan Lahati berbicara bukan dengan gegap gempita, tapi dengan hati yang terbuka:
“Ini bukan sekadar jabatan. Ini amanah. Kami ingin PKB benar-benar hadir bukan sekadar terlihat. Kami ingin memperjuangkan, bukan sekadar menyuarakan. Kami ingin membangun politik yang bersih, santun, dan progresif.”
Langkah pertama yang akan diambil: konsolidasi hingga ke akar rumput. Dari pusat hingga desa, dari ruang rapat hingga warung kopi. Lalu pelatihan kader: bukan hanya untuk menang, tapi untuk mengabdi.
DPW PKB Sulut memberikan restu sepenuhnya. Visi mereka jelas: PKB bukan lagi partai pelengkap, tapi akan menjadi mesin perubahan di Boltim.
“Kita hadapi 2029 bukan dengan doa semata, tapi dengan strategi, kader tangguh, dan jaringan yang nyata,” tandas Yusra.
Restrukturisasi ini tak ubahnya ladang baru yang siap ditanami. PKB Boltim bukan sedang membangun gedung kosong, tapi merancang rumah besar yang akan menaungi suara-suara yang selama ini tersembunyi.
Bagi mereka, politik bukan hanya kursi di dewan, tapi kerja tak terlihat untuk masyarakat. Konsistensi, Kesabaran, dan harapan yang tak lekang oleh waktu. (*)



