FEATURE

Buyat Mengingat, Buyat Menghargai

Sebuah Kata Penghargaan di Tengah Rintik dan Harapan

Catatan: Matt Rey Kartorejo

SABTU pagi, 23 Agustus 2025. Langit Desa Buyat Bersatu bermuram wajah. Awan-awan kelabu menggantung berat di angkasa, meneteskan rintik-rintik hujan seolah menyanyikan lagu-lagu lama tentang perjuangan dan pengorbanan. Namun justru di bawah payung langit yang bersedih itu, semangat kemerdekaan menjelma cahaya yang tak bisa dipadamkan.

Di hamparan tanah basah yang menyimpan jejak langkah para leluhur, Buyat Bersatu menggelar perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia. Tak ada yang memedulikan hujan yang menetes, karena semangat yang membuncah di dada jauh lebih hangat dari cahaya mentari. Warga, tua-muda, bersatu dalam satu langkah: melangkah untuk Indonesia yang terus mereka cinta.

Parade panjang membelah jalan desa seperti arak-arakan harapan. Drum band dari berbagai sekolah memukul waktu dengan irama keberanian. Kostum-kostum warna-warni, mulai berkelebat seperti pelangi yang lahir dari air mata langit dan tanah. Anak-anak kecil menari tanpa takut terpeleset, seolah bumi sendiri sedang tersenyum menyaksikan kegembiraan yang tulus.

Trophy-trophy sederhana diserahkan oleh masyarakat. Tapi lebih dari itu, mereka menyerahkan kebanggaan. Sebab siapa pun yang berdiri di sana hari itu adalah pemenang: pemenang atas kelelahan, atas keraguan, dan atas lupa bahwa merdeka adalah rasa yang harus dijaga bersama.

Drum band dari berbagai sekolah memukul waktu dengan irama keberanian./Foto: Istimewa

Langkah-langkah kecil menuju panggung utama membawa pula nama-nama besar. Bupati Oskar Manoppo hadir dengan tatapan hangat, Wakil Gubernur Sulut Victor Mailangkay menyambut dengan senyum penuh makna. Ketua DPRD Boltim Samsudin Dama, serta Ichsan Pakaya dari DPRD Boltim, turut menyatu dalam barisan semangat rakyat. Namun satu nama muda mencuri perhatian: Firji Beeg, wajah muda dari timur yang mengguncang panggung nasional. Seorang siswa SMAN 1 Kotabunan, yang baru pulang dari ibu kota usai mengibarkan Sang Merah Putih di langit nasional. Ia berdiri di tengah-tengah Buyat Bersatu, bukan sekadar sebagai Paskibraka, tetapi sebagai cermin dari mimpi desa yang berhasil menembus cakrawala.

Dan dari tengah masyarakat, suara pemimpin lokal mengalun, menyentuh hati. Candra Modeong, Sangadi Buyat Satu, mengucapkan kata-kata yang membekas seperti ukiran pada dinding waktu.

“Terima kasih dan apresiasi tinggi patut diberikan kepada seluruh elemen masyarakat, guru, dan tenaga pengajar, lebih khusus kepada seluruh siswa dan siswi yang telah berkontribusi dalam menyukseskan acara ini. Semoga semangat kemerdekaan ini terus menyala dan membawa kemajuan bagi Desa Buyat Bersatu.”

Bukan panggung megah, bukan pula sorotan kamera nasional yang menjadikan perayaan ini istimewa. Tapi karena di tengah hujan, semangat tak pernah redup. Karena di dalam basah, nyala tetap hangat. Dan karena di Buyat Bersatu, merdeka bukan sekadar kata dalam buku sejarah, melainkan denyut nadi yang masih terasa hingga hari ini.

Hari itu, langit boleh menangis. Tapi rakyat Buyat Bersatu menari dalam hujan, mengangkat harapan setinggi bendera yang mereka cintai: Merah dan Putih, selamanya. (*)

BERITA TERKAIT

Back to top button