FEATURE

Menguak Isu Terkini dan Diskusi Ringan Tiga Pengabdi Berita

Catatan: Mikdat Ligawa

Di BAWAH langit senja yang perlahan berubah jingga, tiga jurnalis berkumpul di depan sebuah rumah sederhana di Desa Kotabunan, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara. Mereka adalah Muhammat Rey Kartoredjo, Gazali Ligawa dan saya. (Mikdat Ligawa).

Rekan-rekan satu profesi yang sering berbagi cerita di sela-sela kesibukan liputan. Hari ini, mereka menyempatkan diri untuk duduk santai di kursi kayu yang terletak di teras rumah Gazali Ligawa, sambil menikmati segelas kopi hangat.

Meskipun mereka berasal dari media yang berbeda, obrolan sore itu mengalir dengan lancar, penuh canda dan tawa, namun juga diwarnai perbincangan serius mengenai dunia jurnalistik yang mereka geluti.

Gambar: Para jurnalis saat berbincang ringan di kediaman Mikdat Ligawa. (Foto Momais)

Muhammat Rey Kartoredjo yang sudah berpengalaman lebih dari 7 tahun sebagai reporter, membuka percakapan dengan mengenang bagaimana profesi jurnalis telah berubah dari masa ke masa.

“Zaman sekarang, tantangannya makin besar. Informasi bergerak cepat, apalagi dengan sosial media. Kita harus berpacu dengan waktu untuk menyajikan berita yang akurat dan berkualitas,” ujar Rey sambil menyeruput kopi.

Gazali, yang baru beberapa tahun terjun ke dunia jurnalistik, setuju. “Benar, kadang yang lebih menantang justru bukan hanya cepatnya informasi, tapi bagaimana menjaga integritas. Kita harus tetap teguh pada prinsip jurnalistik, meskipun tekanan datang dari berbagai pihak,” tambahnya.

Gambar: Para jurnalis sedang berbincang ringan di teras rumah tepatnya di Desa Kotabunan, Kabupaten Boltim, Provinsi Sulawesi Utara. (Foto Momais)

Setelah mendengar percakapan mereka, saya tersenyum kecil sebelum ikut angkat bicara. Sebagai jurnalis yang sering meliput isu-isu sosial, saya berbagi pengalaman tentang tantangan meliput di lapangan.

“Ketika kita berbicara tentang masyarakat, apalagi di daerah-daerah terpencil, cerita yang kita tulis sering kali menjadi satu-satunya suara mereka yang bisa didengar oleh dunia luar. Jadi, ada beban moral yang besar di sana.”

Obrolan semakin dalam ketika mereka berdua mulai membahas masa depan media lokal. Gazali mengutarakan kekhawatirannya tentang masa depan media cetak yang semakin tergeser oleh platform digital.

“Kita lihat sendiri, banyak koran lokal yang mulai gulung tikar. Bagaimana kita bisa terus bertahan di tengah arus digitalisasi ini?” tanya Gazali, menatap saya dan Rey. Rey dengan pengalaman panjangnya, merespon dengan bijak.

“Menurut saya, media lokal punya kekuatan yang unik, yaitu kedekatan dengan komunitas. Itu yang harus kita manfaatkan. Digital memang penting, tapi konten yang relevan dan mendalam tetap jadi kunci.” Ucap Rey.

Sejenak, keheningan menyelimuti. Angin sore meniup lembut dedaunan pohon mangga di depan rumah. Namun, keheningan itu tidak lama. Saya, dengan senyum optimis, berkata, “Menurutku, kita harus melihat ini sebagai peluang. Digitalisasi membuka ruang lebih luas untuk jurnalisme warga. Kita bisa lebih terhubung dengan pembaca, dan itu kesempatan untuk membangun kepercayaan yang lebih erat dengan komunitas.”

Gambar: Pohon mangga di depan rumah Mikdat Ligawa. (Foto Matt Rey Kartorejo)

Percakapan sore itu berakhir dengan canda tawa ringan, namun meninggalkan kesan mendalam bagi ketiganya. Meski profesi jurnalis penuh tantangan, baik dari segi teknologi, tekanan politik, maupun ekonomi, mereka sepakat bahwa jurnalistik adalah panggilan hati. Di tengah segala perubahan, mereka tetap berkomitmen untuk menyuarakan kebenaran dan menjaga integritas profesi.

Matahari mulai tenggelam, dan cahaya lampu-lampu rumah perlahan menyala. Tiga jurnalis itu akhirnya bangkit dari kursi, siap kembali ke rutinitas mereka esok hari. Namun, sore itu akan terus diingat, sebagai momen mereka tidak hanya berbincang tentang profesi, tetapi juga saling menguatkan dalam semangat yang sama: menulis untuk perubahan. (*)

 

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Back to top button