FEATURE

Langkah Pertama yang Ditulis dengan Tinta Nurani

Catatan: Matt Rey Kartorejo

DALAM senyap yang hangat di hari Sabtu, 19 April 2025, sebuah lembar sejarah baru dibuka oleh Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Di bawah langit Kotabunan yang bersahaja, Rakercab I bergulir. Bukan sekadar rapat, melainkan ruang temu gagasan dan bara harapan.

Di sebuah ruang sederhana yang sarat makna, para pemangku niat berkumpul. Suasana mengalir tenang, namun penuh detak tekad. Agenda demi agenda digelar tak semata untuk melengkapi waktu, melainkan untuk menjahit masa depan yang lebih legal, lebih lestari, dan lebih manusiawi bagi para penambang kecil yang kerap berdiri di antara garis hukum dan nafkah.

Rapat kerja ini bukan hanya menyusun program. Namun merumuskan jalan. Langkah-langkah konkret disusun bak batu pijakan menuju tambang yang tak hanya menghasilkan emas bumi, tetapi juga martabat bagi rakyat penggali harapan.

Ketua Dewan Pengurus Cabang APRI Boltim, Rudolf Alwi Tubagus, berdiri di hadapan forum. Dengan suara yang tenang namun tegas, ia mengundang semua hati untuk bersuara. “Sampaikanlah gagasanmu,” katanya, “agar kita temukan mufakat yang tak hanya adil, tapi juga bijak.” Ia mengajak mereka bersatu, bukan hanya dalam rapat, melainkan dalam niat dan semangat.

Ketua DPC APRI, Rudolf Alwi Tubagus saat sambutan pada acara Rakercab 1 Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sabtu 19 April 2025./Foto: Istimewa

Dalam napas yang sama, ia mengingatkan pentingnya etika. “Mari kita jaga sikap, saling menghargai, dan menjalin suasana yang damai,” tambahnya, seperti seorang penggembala yang merawat kawanan dengan kelembutan dan kehati-hatian.

Dewan Penasehat APRI, Faruk Langaru, menegaskan: rencana yang telah lahir dari Rakercab ini bukanlah untuk ditinggal di lembar notulen. Ia harus tumbuh, dijalankan, dan menjadi tonggak yang menuntun APRI Boltim menuju masa depan yang terang dan menyejahterakan.

Ketika Rakercab I usai, ia tak sekadar berakhir. Ia menjadi awal dari pergerakan yang lebih dalam. APRI Boltim tak hanya berbicara tentang tambang, tetapi tentang hidup, tanah, dan harga diri rakyat yang menambang bukan untuk rakus, melainkan untuk bertahan.

Dan dengan itu, APRI Boltim kembali menegaskan dirinya: sebagai garda terdepan, sebagai suara yang tak akan diam, dan sebagai pelita kecil di tengah gelapnya tambang yang perlahan ingin menjadi terang.

(*)

BERITA TERKAIT

Back to top button