Minahasa RayaPEMERINTAHAN

PSD GMM Gelar Seminar Bertajuk “Dinamika dan Tantangan Politik 2022 Menuju Pemilu 2024”

Manado, Timurtimes.com – Tahapan kontestasi politik elektoral serentak 2024 akan dimulai pada tahun 2022 ini, sehingga tahun ini maneuver politik mulai dirasakan. Ritual eskalasi suhu politik merayakan pesta kedaulatan rakyat mulai dirasakan intesitasnya melalui media sosial.

Hal tersebut membawa Pusat Studi Demokrasi-Gerakan Minahasa Muda (PSD-GMM) mengadakan seminar bertajuk “Dinamika dan Tantangan Politik 2022 Menuju Pemilu 2024”, Jumat, (04/2/2022) secara virtual melalui platform zoom meeting, dibuka oleh Pembina PSD-GMM, Dr. Ferry Daud Liando.

Dengan menghadirkan para narasumber yang berkompeten dibidangnya, Prof Firman Noor, P.Hd, Meidy Tinangon, S.Si., M.Si, Junior Rawis, S.IP.

Dalam materinya, Firman membeberkan bahwa tahun 2022 ini akan ada pergerakan atau manuver politik terkait dengan pendirian partai-partai baru dan pendaftaran partai.

“Partai akan berkonsentrasi pada penguatan soliditas internal. Beberapa ketua umum partai akan semakin intensif membangun komunikasi dengan tokoh-tokoh potensial, sesama ketua umum, maupun mendekati tokoh-tokoh nasional dan ormas-ormas penting,” Katanya.

Firman juga menjelaskan tahun 2022-2023 Oligarki tidak akan banyak bersentuhan dalam pertarungan elektoral, namun kekuatan oligarki akan fokus pada turut serta membangun kekuatan partai-partai dan para kandidat potensial untuk membangun political proxy.

“Sebagian oligarki akan tetap memainkan peran vetorkrasi dalam mendukung kehendak presiden. Di daerah para oligark bisa jadi akan melakukan pendekatan dengan Plt. Kepala daerah, dna kondisi masyarakat akan terus terbelah,” ujar peneliti BRIN.

Sebagai narasumber perwakilan penyelenggara pemilu, Meidy Tinangon menuturkan bahwa dinamika politik adalah sebuah proses normal dan wajar.

“Yang patut diwaspadai adalah dinamika yang berpotensi menghadirkan risiko dan masalah atau problematika,” ujar komisioner divisi hokum dan pengawasan KPU Sulut.

Menurutnya, bagi penyelenggara pemilu, hal tersebut merupakan tantangan kepemiluan (electoral challenge).

“Dimana akan sangat bergangtung pada bagaiman mengelolah dinamika politik, mengantisipasi risiko, menyelesaikan masalah agar supaya pemilu dapat berjalan sesuai kerangka hokum dan mencapai tujuannya,” jelasnya.

Di lain sisi, Direktur PSD-GMM, Junior Rawis S.IP menyampaikan gagasannya sebagai kaum milenial, bahwa dia melihat ada tiga hal utama yang menjadi tantangan politik 2022 menuju pemilu 2024.

“Pertama, terkait dengan kesiapan penyelengara pemilu, yang dimana tahun ini merupakan sirkulasi penggantian penyelenggara pemilu, setelah dilantik penyelenggara sudah harus mempersiapkan tahapan pemilu,” tutur pegiat pemilu milenial.

Hal kedua, menurutnya adalah terkait dengan anggaran, yang dimana negara kita masih dalam pemulihan ekonomi karena pandemi Covid-19, namun negara kita sudah fokus pada Pemindahan Ibu Kota Negara yang membawa pengaruh pada stabilitas politik negara.

“Hal ketiga, soal partisipasi politik. Bukan pesimis namun perlu diantisipasi karena pemungutan suara dilaksanakan pada 14 Februari 2024 bersamaan dengan momentum Hari Valentine, jadi perlu adanya cara untuk menstimulus untuk meningkatkan partisipasi pemilih terutama pemilih milenial dan pemula,” jelas Rawis.

Hadir dalam kegiatan ini, dari kalangan akademisi baik dosen maupun mahasiswa, pegiat kepemiluan, penyelenggara pemilu, dan dari beberapa media. Kegiatan berlangsung secara interaktif dipandu oleh moderator Mineshia Lesawengen. (Etzar Frangky Tulung)

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Back to top button