CERPEN/PUISI

Di Antara Langit dan Awan

Pendakian gunung/ Foto: Pixabay

TIMURTIMES.COM – Pagi itu, embun masih menempel di dedaunan ketika Raka memulai langkah pertamanya di kaki Gunung Merbabu. Sepasang sepatu hiking yang usang menjadi saksi perjalanan panjang yang akan dia tempuh. Ini bukan pertama kalinya Raka mendaki gunung, tetapi kali ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang dia cari, sesuatu yang tak kasatmata namun begitu mendesak di dalam dirinya.

Ia ingat betul kata-kata terakhir ayahnya sebelum berpulang dua tahun lalu. “Jika kau merasa hilang arah, naiklah ke gunung. Di puncak, kau akan menemukan jawaban.” Kata-kata itu selalu terngiang, namun Raka tak pernah benar-benar mengerti maksudnya. Sampai hari ini, dia memutuskan untuk mencobanya.

Jalur pendakian semakin terjal, dan udara dingin mulai menusuk kulit. Namun, tekad Raka tak goyah. Di tengah perjalanan, ia bertemu seorang pendaki lain, perempuan bernama Nara, yang baru pertama kali mendaki. “Sendirian juga?” tanya Nara. Raka hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. Mereka akhirnya berjalan bersama, saling berbagi cerita untuk mengusir lelah.

Di malam terakhir sebelum mencapai puncak, Raka dan Nara duduk di depan api unggun. “Apa alasanmu mendaki gunung ini?” tanya Nara sambil menghangatkan tangan di dekat api.
Raka terdiam sejenak, lalu menjawab, “Aku mencari sesuatu. Jawaban. Atau mungkin… diriku sendiri.”
Nara tersenyum samar. “Mungkin di puncak kau akan menemukannya.”

Ketika matahari mulai terbit, mereka berdua tiba di puncak. Langit cerah, dan lautan awan terbentang sejauh mata memandang. Raka memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam. Saat itu, ia merasa seolah semua beban di pundaknya menghilang.

Ia tersadar, jawaban yang ia cari bukan tentang menemukan sesuatu di luar dirinya. Tapi, perjalanan mendaki ini telah mengajarkannya untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Keberanian untuk melangkah, kesabaran menghadapi rintangan, dan keindahan berbagi perjalanan dengan orang lain.

Raka membuka matanya, menoleh ke arah Nara yang tersenyum kepadanya. Dalam hatinya, ia tahu satu hal pasti: perjalanan ini bukanlah akhir, melainkan awal yang baru. (*)

 

BERITA TERKAIT

Back to top button