Ketika Rezeki Dijemput dengan Cinta pada Semesta

Seorang petani./Foto: Pixabay
TIMUR TIMES – Embun masih menggantung di pucuk daun,
Mentari mengintip malu dari balik perbukitan,
Angin pagi membawa harum tanah basah,
Desa terjaga, hidup pun dimulai perlahan.
Langkah kaki menyusur pematang sawah,
Dengan cangkul, harapan, dan doa yang ramah,
Ibu menimba air di sumur tua,
Ayah menyiapkan bajak dan ternak setia.
Anak-anak berlari dengan tawa riang,
Menuju sekolah, mimpi mereka gemilang,
Sementara langit bersih tak berawan,
Petani menabur benih dengan tangan harapan.
Lonceng sapi, kokok ayam, dan denting lesung,
Adalah simfoni pagi yang tak pernah usang,
Tak ada hiruk pikuk kota yang bising,
Hanya damai, dan kerja keras yang mengalir hening.
Rezeki dijemput bukan dengan tergesa,
Tapi dengan sabar dan cinta pada semesta,
Karena di desa, tiap pagi adalah anugerah,
Dan tiap keringat adalah doa yang tak pernah lelah. (*Rey)



