Bandara Sam Ratulangi./Foto: Momais
Ajakan Sederhana Rahman Salehe yang Menjadi Kenangan Berharga
Oleh: Matt Rey Kartorejo
SELASA, 6 Oktober 2026. Jarum jam telah menunjuk pukul 19.00 Wita. Langit Manado masih cerah, sementara malam perlahan menurunkan tirainya. Di antara riuh kendaraan dan cahaya lampu kota, puluhan warga Kotabunan-Bulawan berbondong-bondong menuju Bandara Sam Ratulangi.
Perjalanan panjang menyisakan lelah. Setibanya di bandara, kami berhenti sejenak. Duduk, menarik napas, melepas penat yang sejak tadi menempel di tubuh.
Di tengah suasana itu, tiba-tiba seseorang yang tak asing di mata datang menghampiri. Senyumnya ramah, suaranya lembut, seolah membawa kehangatan dari rumah sendiri.
“Marijo makang torang. Mana yang laeng dang?” tanya Rahman Salehe.

Kami sempat menolak dengan halus. Namun Rahman kembali mengajak.
“Marijo, pangge yang laeng. Mo makang dulu torang.”
Ada ketulusan dalam ajakan itu. Bukan sekadar menawarkan makanan, tetapi seperti sedang mengajak berbagi waktu, cerita, dan rasa persaudaraan.
Akhirnya kami mengikuti langkahnya.
Mobil-mobil yang baru saja terparkir kembali bergerak meninggalkan halaman bandara. Beriringan menuju sebuah rumah makan bernama Bakar Rica. Malam semakin pekat, tetapi perjalanan singkat itu terasa ringan karena canda yang sesekali mengalir di antara kami.
Sesampainya di rumah makan, ikan telah lebih dahulu dipesan. Tak lama kemudian, hidangan tersaji di atas meja. Beragam minuman dipesan sesuai selera.

Aku, Dio, dan Dat duduk satu meja bersama Rahman Salehe. Percakapan kecil mengalir tanpa sekat. Sesekali tawa pecah, sederhana, tetapi terasa begitu akrab.
Di tengah santap malam itu, sebuah pertanyaan terlontar kepadanya.
“Pak Rahman datang ke bandara ini sebenarnya untuk apa?”
Ia menjawab dengan keyakinan yang sederhana.
“Aku datang untuk menemui langsung para jamaah umrah. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka,” ujarnya.
Jawaban itu terdengar singkat, tetapi menyimpan sesuatu yang dalam. Ada kerinduan untuk bertemu, ada kepedulian yang tak perlu banyak kata.
Percakapan terus berjalan sembari makanan perlahan habis. Hingga malam membawa kami pada penghujung kebersamaan.
Usai makan, Rahman kembali berdiri. Dengan senyum yang sama, ia berkata,
“Bapesan. Apa yang mo suka, ba pesan.”
Kalimat sederhana itu terasa lebih mahal daripada hidangan yang memenuhi meja. Sebab di dalamnya ada ketulusan seorang manusia yang ingin berbagi tanpa banyak perhitungan.

Tak lama kemudian, Rahman berpamitan. Ia meninggalkan puluhan warga Bulawan-Kotabunan dengan senyum yang masih melekat di wajahnya.
Malam itu, kami pulang bukan hanya dengan perut yang kenyang. Ada sesuatu yang lebih berharga ikut kami bawa: keakraban, persaudaraan, dan kenangan tentang seorang lelaki yang memilih berbagi di tengah kesibukan malam.
“Itu tu bekeng rezeki Amang nae. Dia depe jiwa sosial tinggi skali,” kata seorang bapak.
Benar. Barangkali rezeki bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang apa yang mampu kita bagi kepada sesama.
Semoga rezeki Rahman Salehe terus mengalir seperti air yang tak mengenal henti. Semoga kesehatan selalu menyertainya, langkahnya dilapangkan, dan setiap urusannya dimudahkan.
Sebab kebaikan, sekecil apa pun bentuknya, selalu menemukan jalannya untuk kembali kepada pemiliknya. (*)










