Kebaikan Rahman Salehe, Sederhana Namun Membekas di Hati

Rabu, 7 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandara Sam Ratulangi./Foto: Momais

Ajakan Sederhana Rahman Salehe yang Menjadi Kenangan Berharga

Oleh: Matt Rey Kartorejo

SELASA, 6 Oktober 2026. Jarum jam telah menunjuk pukul 19.00 Wita. Langit Manado masih cerah, sementara malam perlahan menurunkan tirainya. Di antara riuh kendaraan dan cahaya lampu kota, puluhan warga Kotabunan-Bulawan berbondong-bondong menuju Bandara Sam Ratulangi.

Perjalanan panjang menyisakan lelah. Setibanya di bandara, kami berhenti sejenak. Duduk, menarik napas, melepas penat yang sejak tadi menempel di tubuh.

Di tengah suasana itu, tiba-tiba seseorang yang tak asing di mata datang menghampiri. Senyumnya ramah, suaranya lembut, seolah membawa kehangatan dari rumah sendiri.

“Marijo makang torang. Mana yang laeng dang?” tanya Rahman Salehe.

Dua orang jurnalis, Dio dan Dat saat duduk berhadapan dengan Rahman Salehe di RM Bakar Rica./Foto: Momais

Kami sempat menolak dengan halus. Namun Rahman kembali mengajak.

“Marijo, pangge yang laeng. Mo makang dulu torang.”

Ada ketulusan dalam ajakan itu. Bukan sekadar menawarkan makanan, tetapi seperti sedang mengajak berbagi waktu, cerita, dan rasa persaudaraan.

Akhirnya kami mengikuti langkahnya.

Mobil-mobil yang baru saja terparkir kembali bergerak meninggalkan halaman bandara. Beriringan menuju sebuah rumah makan bernama Bakar Rica. Malam semakin pekat, tetapi perjalanan singkat itu terasa ringan karena canda yang sesekali mengalir di antara kami.

Sesampainya di rumah makan, ikan telah lebih dahulu dipesan. Tak lama kemudian, hidangan tersaji di atas meja. Beragam minuman dipesan sesuai selera.

Foto: Dio Djubair

Aku, Dio, dan Dat duduk satu meja bersama Rahman Salehe. Percakapan kecil mengalir tanpa sekat. Sesekali tawa pecah, sederhana, tetapi terasa begitu akrab.

Di tengah santap malam itu, sebuah pertanyaan terlontar kepadanya.

“Pak Rahman datang ke bandara ini sebenarnya untuk apa?”

Ia menjawab dengan keyakinan yang sederhana.

“Aku datang untuk menemui langsung para jamaah umrah. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka,” ujarnya.

Jawaban itu terdengar singkat, tetapi menyimpan sesuatu yang dalam. Ada kerinduan untuk bertemu, ada kepedulian yang tak perlu banyak kata.

Percakapan terus berjalan sembari makanan perlahan habis. Hingga malam membawa kami pada penghujung kebersamaan.

Usai makan, Rahman kembali berdiri. Dengan senyum yang sama, ia berkata,

“Bapesan. Apa yang mo suka, ba pesan.”

Kalimat sederhana itu terasa lebih mahal daripada hidangan yang memenuhi meja. Sebab di dalamnya ada ketulusan seorang manusia yang ingin berbagi tanpa banyak perhitungan.

Rahman Salehe (kiri) foto bersama temannya./Foto: Isdris Dama

Tak lama kemudian, Rahman berpamitan. Ia meninggalkan puluhan warga Bulawan-Kotabunan dengan senyum yang masih melekat di wajahnya.

Malam itu, kami pulang bukan hanya dengan perut yang kenyang. Ada sesuatu yang lebih berharga ikut kami bawa: keakraban, persaudaraan, dan kenangan tentang seorang lelaki yang memilih berbagi di tengah kesibukan malam.

“Itu tu bekeng rezeki Amang nae. Dia depe jiwa sosial tinggi skali,” kata seorang bapak.

Benar. Barangkali rezeki bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang apa yang mampu kita bagi kepada sesama.

Semoga rezeki Rahman Salehe terus mengalir seperti air yang tak mengenal henti. Semoga kesehatan selalu menyertainya, langkahnya dilapangkan, dan setiap urusannya dimudahkan.

Sebab kebaikan, sekecil apa pun bentuknya, selalu menemukan jalannya untuk kembali kepada pemiliknya. (*)

Berita Terkait

Hadirnya Dokter Spesialis Adalah Sebuah Kelegaan. Winta: Terima Kasih PT ASA
Pagi yang Penuh Haru di Sam Ratulangi, Samsudin Dama Titipkan Doa Untuk 15 Jemaah
Pesona Pohon Cinta Marisa, Pantai Sederhana dengan Laut Indah yang Bikin Betah
Di Tanah Dodap Bersatu, Syukur Menjadi Doa dan Kebersamaan Menjadi Berkat
Memikul Keranda, Menguatkan yang Berduka: Potret Kepemimpinan Humanis Kapolres Boltim
Selamat Jalan Amin Musa, Pengabdianmu Akan Selalu Hidup dalam Kenangan
Di Balik Riuh Bandara, Doa dan Persaudaraan Mengantar Langkah ke Tanah Suci
Menembus Puncak Prestasi: Misel Kartoredjo Ukir Capaian Membanggakan di SMP
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:37 WITA

Kebaikan Rahman Salehe, Sederhana Namun Membekas di Hati

Rabu, 23 September 2026 - 20:04 WITA

Hadirnya Dokter Spesialis Adalah Sebuah Kelegaan. Winta: Terima Kasih PT ASA

Selasa, 22 September 2026 - 19:17 WITA

Pagi yang Penuh Haru di Sam Ratulangi, Samsudin Dama Titipkan Doa Untuk 15 Jemaah

Selasa, 15 September 2026 - 12:47 WITA

Pesona Pohon Cinta Marisa, Pantai Sederhana dengan Laut Indah yang Bikin Betah

Minggu, 13 September 2026 - 23:08 WITA

Di Tanah Dodap Bersatu, Syukur Menjadi Doa dan Kebersamaan Menjadi Berkat

Berita Terbaru

Bolmong Raya

Layanan Air Tersendat, Warga Bulawan Pertanyakan Keseriusan PDAM

Sabtu, 3 Okt 2026 - 22:56 WITA