Samsudin Dama foto bersama jemaah umroh dan kekuarga./Foto: Istimewa
Oleh: Matt Rey Kartoredjo
PAGI di Bandara Sam Ratulangi Manado, Jumat, 18 September 2026, terasa begitu teduh. Langit membentang biru. Embun masih menggantung di ujung-ujung dedaunan, seolah pagi sengaja memperlambat waktu untuk menyaksikan sebuah perjalanan suci.
Sekira pukul 07.00 Wita, Ketua DPRD Bolaang Mongondow Timur, Samsudin Dama, tiba di bandara. Ia datang bersama sang istri, Rohani Mamonto. Bukan untuk sebuah agenda politik, bukan pula untuk sebuah seremoni, melainkan untuk melepas para jemaah umroh yang akan berangkat menuju Tanah Suci.
Ada 15 jemaah yang pagi itu bersiap terbang menuju Surabaya, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Makkah. Di antara kesibukan koper, pelukan keluarga, dan doa-doa yang lirih, Samsudin hadir membawa pesan sederhana: agar setiap langkah mereka senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT.
“Papa Chaca” begitu ia akrab disapa, memberikan motivasi dan penguatan kepada para jemaah. Ia mengingatkan agar perjalanan ibadah itu dijalani dengan hati yang ikhlas, penuh kesabaran, dan keyakinan.

Sesekali ia berfoto bersama keluarga jemaah. Senyum mengembang, tetapi di balik senyum itu terselip harapan yang panjang.
Sebelum meninggalkan bandara, Samsudin menyempatkan diri menemui keluarga para jemaah. Satu per satu ia menyampaikan ucapan selamat dan doa.
“Mudah-mudahan semua jemaah umroh yang berangkat ke Tanah Suci diberikan kesehatan oleh Allah SWT dan dilancarkan seluruh aktivitas saat berada di Makkah,” ujarnya.
Waktu keberangkatan akhirnya tiba.
Samsudin bersama Rohani berdiri, memandang langkah para jemaah yang perlahan menjauh menuju pintu keberangkatan. Di titik itu, suasana seakan berubah. Percakapan menjadi lebih sunyi. Lambaian tangan menjadi lebih bermakna.
Ada haru yang perlahan memenuhi dada. Air mata yang jatuh bukanlah tanda kesedihan. Ia adalah air mata syukur, syukur karena menyaksikan orang-orang yang dicintai memperoleh kesempatan memenuhi panggilan ke Tanah Suci.
Dalam keheningan itu, Samsudin menitipkan sebuah doa:
“Ya Allah, terimalah setiap langkah umroh mereka. Jadikanlah ibadah mereka mabrur, ampuni segala khilafnya, serta berikanlah kesehatan dan kemudahan di Tanah Suci. Kembalikanlah mereka ke rumah dalam keadaan selamat, dengan hati yang semakin bersih dan penuh cinta kepada-Mu.”

Pagi terus berjalan. Pesawat-pesawat datang dan pergi. Namun bagi Samsudin, pagi itu meninggalkan sesuatu yang lebih panjang dari sekadar perpisahan: doa yang terbang bersama mereka, menuju langit yang sama, menuju rumah-Nya. (*)












