Selamat Jalan Amin Musa, Pengabdianmu Akan Selalu Hidup dalam Kenangan
Samsudin Dama Kenang Amin Musa, Guru Kehidupan yang Kini Berpulang

Foto: Istimewa
Oleh: Matt Rey Kartoredjo
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
KALIMAT itu meluncur lirih, namun mengandung kesedihan yang begitu dalam. Dari bibir Ketua DPRD Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Samsudin Dama, doa itu mengalir sebagai penghormatan terakhir bagi sosok yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk negeri yang dicintainya, Almarhum Bapak Amin Musa, SH., MH.
Kepergian memang selalu datang tanpa mampu ditawar. Ia mengetuk pintu kehidupan pada waktu yang telah ditentukan Sang Pencipta, meninggalkan ruang-ruang sunyi yang tak mudah diisi kembali. Namun, bagi mereka yang semasa hidupnya menanam begitu banyak kebaikan, kepergian bukanlah akhir dari segalanya. Ia berubah menjadi jejak, menjadi kenangan, dan menjadi teladan yang terus hidup di hati orang-orang yang pernah mengenalnya.
Bagi Samsudin Dama, Almarhum Amin Musa bukan sekadar seorang mantan pejabat Pemerintah Kabupaten Boltim. Ia adalah guru kehidupan, sahabat berdiskusi, sekaligus sosok yang telah mewarnai perjalanan panjang daerah sejak masa-masa awal Kabupaten Bolaang Mongondow Timur berdiri. Sebagai Asisten I yang mengemban amanah dalam waktu yang panjang, Almarhum dikenal sebagai birokrat yang bekerja dengan hati, menjunjung tinggi integritas, serta mengabdikan dirinya tanpa pamrih.
Kenangan itu semakin terasa hangat ketika Samsudin mengingat masa-masa kedekatan mereka di Desa Bulawan.
Tinggal di lorong yang sama membuat hubungan keduanya tumbuh lebih dari sekadar rekan kerja. Mereka menjadi seperti keluarga, saling mengenal dalam keseharian, berbagi cerita, dan saling menguatkan.
Di sela kesibukan sebagai abdi negara, Almarhum selalu membuka ruang bagi siapa pun yang ingin belajar. Bekal ilmu hukumnya yang luas tak pernah disimpan untuk dirinya sendiri. Dengan kesabaran yang menenangkan, ia membimbing, menjelaskan, dan memberikan pandangan kepada mereka yang membutuhkan. Bagi Samsudin, banyak pelajaran hidup yang lahir dari percakapan-percakapan sederhana bersama sosok yang rendah hati itu.
Kini, suara yang dahulu penuh nasihat telah terdiam. Langkah yang dulu mengisi lorong-lorong pengabdian telah berhenti. Namun nilai-nilai yang ditinggalkannya akan terus berjalan, hidup dalam ingatan, dalam pengabdian generasi penerus, dan dalam setiap doa yang dipanjatkan.
Samsudin Dama pun memohon agar Allah SWT menerima seluruh amal ibadah Almarhum, mengampuni segala khilafnya, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik dalam husnul khatimah. Ia juga berharap seluruh dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan selama hidup menjadi amal jariyah yang tak pernah terputus pahalanya.
Untuk keluarga yang ditinggalkan, doa terbaik turut dipanjatkan. Semoga Allah SWT melimpahkan ketabahan, kekuatan, dan kesabaran dalam menghadapi kehilangan ini. Sebab sesungguhnya, orang-orang baik tidak pernah benar-benar pergi. Mereka tetap hidup dalam doa, dalam kenangan, dan dalam setiap kebaikan yang pernah mereka wariskan kepada sesama. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (*)



