Ketua DPRD Boltim Hadiri Peluncuran Buku “Watu Toitou” Karya Rikson Childwan Karundeng

Foto: Istimewa
TOMOHON, TIMUR TIMES – Ketua Dewan Perwakikan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Samsudin Dama, hadir langsung dalam acara peluncuran buku berjudul “Watu Toitou” yang digagas oleh Rikson Childwan Karundeng. Acara yang digelar di Kedai Kelung, Kelurahan Matani, Kota Tomohon itu, berlangsung hangat, akrab, dan penuh diskursus intelektual.
Kehadiran Samsudin Dama di tengah para budayawan dan akademisi menunjukkan komitmen nyata unsur legislatif terhadap penguatan kebudayaan daerah. Ia memberikan apresiasi terhadap inisiatif peluncuran buku tersebut. Menurutnya, kajian, bedah buku, dan ruang diskusi seperti ini sangat krusial untuk memperluas pemahaman masyarakat sekaligus memperkuat kepedulian terhadap warisan budaya yang ada di Sulawesi Utara.
“Kebudayaan adalah fondasi dan akar identitas kita berbangsa dan bermasyarakat. Buku seperti ‘Watu Toitou’ membuka mata kita bahwa sejarah serta warisan masa lalu bukan sekadar artefak kuno atau cerita masa lampau, melainkan kompas moral dan pedoman hidup bagi generasi hari ini dan masa depan. Kita di Sulawesi Utara dianugerahi kekayaan tradisi yang luar biasa, dan sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk merawat serta mewariskannya dengan bangga,” ungkap Samsudin Dama, Jumat (2/10/2026).

Acara peluncuran ini semakin berbobot dengan kehadiran barisan tokoh lintas sektor, mulai dari unsur pemerintahan, lembaga pelestarian kebudayaan, akademisi, hingga para penjaga tradisi akar rumput.
Beberapa pejabat tinggi dan tokoh yang tampak hadir di lokasi acara antara lain: Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Sulawesi Utara, Anton Hariyanto, S.Kom., M.M.S.I. Staf Khusus Gubernur Sulut Bidang Kebudayaan, Eric Dajoh, Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulut, Yorry Rommy Lesawengan, M.Tr.AP., Kepala UPTD Taman Budaya dan Museum Sulut, Rini Flora Marpaung, SS., M.Hum., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tomohon, Dr. Juliana Dolvin Karwur, M.Kes., M.Si.
Dari kalangan akademisi dan peneliti, turut hadir memberikan pandangan: Faiz Muhammad Anis Kaba, S.S., M.Hum. (Arkeolog BPK Sulut), Dr. Denni H. R. Pinontoan, M.Teol., serta Dr. Ivan R. B. Kaunang, M.Hum.
Suasana diskusi juga diperkaya dengan kehadiran para tokoh adat dan perwakilan komunitas budaya, seperti Piet Pungus, Rinto Taroreh, Pdt. Ruth Ketsia Wangkai, M.Th., serta puluhan perwakilan komunitas budaya dan pemuda adat yang antusias mengikuti rangkaian acara hingga selesai.

Sulawesi Utara dikenal sebagai daerah yang kaya akan mozaik kultural. Dari dataran Minahasa, Bolaang Mongondow, Kepulauan Sangihe, Talaud, Sitaro, hingga berbagai etnis yang hidup berdampingan secara harmonis, wilayah Nyiur Melambai ini menyimpan nilai-nilai filosofis yang sangat luhur.
Memahami adat dan kebudayaan Sulawesi Utara tidak sekadar menghafal bentuk ritual atau tradisi fisik semata. Lebih dari itu, kebudayaan mengajarkan kita tentang cara pandang hidup yang menjunjung tinggi kebersamaan, penghormatan terhadap alam, serta falsafah hidup yang humanis seperti semangat si Tou Timou Tumou Tou (manusia hidup untuk menghidupkan orang lain).
Buku “Watu Toitou” hadir sebagai salah satu medium literasi yang menjembatani masa lalu dan masa kini. Melalui penelusuran sejarah dan situs-situs bernilai budaya, karya ini mengajak masyarakat untuk kembali mengenali jejak peradaban leluhur yang sarat akan kearifan lokal.
Sinergi positif yang terjalin antara pemerintah, DPRD, akademisi, dan para aktivis budaya dalam kegiatan ini membuktikan bahwa pelestarian warisan leluhur bukanlah tugas sepihak, melainkan kerja kolektif. Dengan merawat memori kolektif dan tradisi, Sulawesi Utara tidak hanya menjaga masa lalunya, tetapi juga membangun masa depan yang berakar kuat pada kepribadian bangsa. (*/Rey)



