FEATURETerkini

Kebersamaan Hangat di Kafe Kotsel Bersama Sahabat

Oleh: Matt Rey Kartorejo

MINGGU 18 Februari 2024, langit Kotabunan cerah. Di bawah sinar bulan yang lembut, sekelompok teman berkumpul di sebuah kafe kecil di pinggir pantai Desa Kotabunan, Bolaang Mongondow Timur. Cahaya bulan yang lembut memantul di air laut menciptakan pemandangan yang begitu elok.

Suasana malam itu tenang, hanya terdengar bunyi ombak di samping kafe. Lampu-lampu kafe yang menyala memberikan cahaya lembut yang menambah romantis suasana. Kami memesan makanan dan minuman untuk menemani obrolan malam itu. Dari camilan khas kafe: seperti pisang goreng stik, mie instan, kopi hitam, kopi susu, dan minuman dingin yang langsung disajikan pemilik kafe.

Kami duduk mengelilingi meja yang dikelilingi pohon ketapang, sambil menikmati kopi panas dan gorengan. Tawa dan cerita mengalir bebas mengisi malam dengan keakraban. Salah satu dari kami, Adit, membuka cerita tentang sejarah Raja Bolaang Mongondow, Loloda Mokoagow. Teman-teman mendengarkan dengan antusias. Rikson yang duduk tepat di depan saya, menyambung cerita Adit. Ia kemudian memaparkan sedikit kisah Raja Bolaang Mongondow. Meski ia berdarah Minahasa, namun ia tahu sejarah sebab kawan yang satu ini memiliki pengetahuan yang mumpuni soal ilmu sejarah.

oplus_1026

Aku terus menyimak pemaparan Bung Rikson. Mataku seakan tak berkedip melihatnya. Benar-benar kagum dengan rangkaian kata penjelasan
Director Komunitas Penulis Mapatik
yang juga wartawan senior asal Kota Tomohon ini.

Sekira 3 jam berlalu, cerita sejarah Bolmong terus berlanjut. Teman-teman masih terus mendengarkan cerita Bung Rikson.
Pada pukul 24.00 Wita, angin mulai menusuk tulang. Sambil menikmati semilir angin laut, Kopi di atas meja mulai habis. Kami pun kembali memesan. Aku meminta mie ceplok, sementara teman-teman yang lain kembali memesan kopi hangat. Setiap tegukan kopi seolah menambah kehangatan pada malam itu.

Gafur yang duduk di pojok kiri mengambil mikrofon. Pria yang kerap membawa keceriaan ini mulai melantunkan lagu-lagu pop kesukaannya, menambah suasana kafe semakin asyik. Sekira enam lagu ia nyanyikan. Saat menyanyikan lagu bertajuk “Putri iklan” yang dipopulerkan oleh ST 12, Jufry Rondonuwu sepertinya sangat menikmati. Sesekali bibirnya bergerak mengikuti ritme. Bukan hanya Jufry, tapi teman-teman yang lain sangat terpukau mendengar suara emas pria yang akrab disapa Apung ini. Usai menghibur dengan beberapa lagu, mikrofon berpindah ke Rikson.

Terhanyut Dalam Suasana Nostalgia

Malam semakin larut. Di bawah sinar bulan yang menenangkan, kopi dan kebersamaan menjadi saksi bisu kebahagiaan kami di kafe pinggir pantai Desa Kotabunan Selatan.

Malam itu, Rikson menyanyikan lagu lama yang penuh kenangan. Teman-teman yang duduk di sampingnya mendadak terhanyut dalam suasana nostalgia. Pria yang akrab disapa Icon ini membawakan lagu dari Black Sweet berjudul ‘Akhir Sebua Kisah’. Ia bernyanyi dengan begitu penuh perasaan. Sepertinya ia bukan hanya ahli dalam bidang sejarah, tapi pintar juga dalam dunia tarik suara.

Usai mendendangkan beberapa lagu,
tiba-tiba datang teman sedari kecil. Namanya Ajak. Aku biasa menyapanya dengan panggilan Jaevs. Kehadiran Jaevs pada malam itu membuat suasana jadi hidup. Ia kemudian mendendangkan lagu dangdut. Mata pengunjung kafe tertuju kepadanya sembari tersenyum lebar. Suaranya amat merdu dan mendayu. Malam itu Jaevs sangat menghibur hati.

Selang beberapa jam, Riski, Ago, dan Jufri Rondonuwu (Upi), sepertinya sudah mengantuk dan akan pamit pulang. Akhirnya kami berdiri. Usai membayar semua pesanan, kamipun siap-siap meninggalkan kafe milik Ibu Mila itu.

oplus_1026

Momen malam itu berakhir dengan tawa dan kehangatan. Persahabatan membuat kami merasa lebih dekat satu sama lain. Sebelum kembali ke rumah, kami sepakat untuk mampir lagi ke tempat itu, menikmati keindahan pantai dan kebersamaan yang jarang bisa dirasakan di tengah kesibukan sehari-hari.

“Nanti jo ada waktu torang datang di sini ulang biar cuman ngopi-ngopi. Makase samua ne,” tutur Rikson Karundeng.

Malam itu kami seperti menemukan keajaiban dalam hal yang sederhana. Apa yang belum kami ketahui tentang sejarah Bolaang Mongondow, akhirnya boleh tahu. Dan ternyata suara Rikson sangat bagus dalam bernyanyi.
Terima kasih, Salut buat Bung Rikson. (*)

 

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Back to top button