Kopi Susu, Tawa, dan Tanda Tanya tentang Sebuah Konsultasi Publik

Kamis, 18 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kopi susu buatan Dio Djubair/Foto: Momais

Oleh: Matt Rey Kartorejo

KAMIS malam, 18 Juni 2026. Jarum jam perlahan mendekati pukul 23.00 WITA. Di teras rumah yang sederhana, aku dan Dio duduk berdampingan menikmati secangkir kopi susu hangat. Malam itu terasa begitu lengang. Tak ada suara yang tergesa, tak ada hiruk-pikuk yang mengganggu. Hanya desir angin yang berembus pelan, menyusuri halaman dan sela-sela pepohonan, seolah turut menikmati aroma kopi racikan Dio Djubair.

Dalam keheningan yang akrab itu, percakapan kami mengalir ringan. Kami berbincang tentang berbagai ramuan dan obat tradisional yang konon dapat menurunkan berat badan. Dio tersenyum kecil sebelum berkata dengan logat khas yang selalu mengundang tawa.

“Biar mo minum apa, mar kalu makang-makang trus, sama deng yanda.”

Kami pun tertawa bersama. Sebuah kalimat sederhana yang menyimpan kebenaran yang sulit dibantah.

Waktu bergerak perlahan. Udara malam Desa Bulawan semakin terasa dingin. Dio kemudian sibuk menelusuri layar ponselnya, melihat-lihat beberapa model sepatu. Perhatiannya tertuju pada sebuah sepatu Adidas yang tampak menarik.

“Kalau ada waktu, tong dua ka Tomohon mo ba bli spatu impor,” kataku.

Dio mengangguk pelan. Ia lalu menyeruput kopi susunya yang mulai kehilangan hangatnya.
Obrolan kami kemudian beralih pada hal yang lebih serius. Kami membicarakan aktivitas perusahaan tambang emas yang beroperasi di wilayah Kotabunan, khususnya mengenai kegiatan Konsultasi Publik AMDAL yang dilakukan PT ASA.

“Tadi ada hadir di acara PT ASA?” tanyaku.

Dio menjawab bahwa dirinya sempat menghadiri kegiatan tersebut, meski tidak sampai selesai.

“Blum riki dudu tamang dari PT ASA datang kong bilang pa kita kalu somo duluan, duluan jo,” ujarnya. Nada bicaranya menyiratkan kebingungan yang belum terjawab. Menurutnya, kejadian itu menimbulkan tanda tanya. Mengapa ia diminta pulang lebih awal, padahal kegiatan yang berlangsung adalah konsultasi publik tentang AMDAL yang seharusnya terbuka bagi masyarakat.

Dio (kiri) Matt Rey Kartorejo (kanan)./Foto Momais

Percakapan kami sempat terhenti. Aku kembali menyeruput kopi yang masih menyisakan kehangatan. Malam semakin larut, sementara angin terus berkelana membawa dingin yang lembut.
Tanpa terasa, waktu telah menunjukkan pukul 23.53 WITA. Suasana kembali hening. Aku menggenggam telepon genggamku, sementara Dio menatap layar ponselnya. Tak lama kemudian, ia menghabiskan sisa kopi susunya dan berpamitan pulang.

Malam itu mungkin hanya diisi oleh percakapan-percakapan sederhana, ditemani secangkir kopi susu dan udara yang tenang. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan kehangatan yang sulit diukur. Sebab persahabatan tidak selalu dirawat dengan peristiwa besar; kadang ia tumbuh melalui obrolan ringan di teras rumah, melalui tawa kecil, dan melalui kesediaan untuk saling meluangkan waktu.

Semoga silaturahmi ini tetap terjaga, sebagaimana malam yang dengan setia menyimpan cerita-cerita sederhana kami. Sebab pertemanan yang baik adalah ikatan yang tak lekang oleh waktu, dan semoga hubungan ini tak pernah terputus oleh jarak maupun kesibukan hidup. (*)

Berita Terkait

Kebaikan Rahman Salehe, Sederhana Namun Membekas di Hati
Hadirnya Dokter Spesialis Adalah Sebuah Kelegaan. Winta: Terima Kasih PT ASA
Pagi yang Penuh Haru di Sam Ratulangi, Samsudin Dama Titipkan Doa Untuk 15 Jemaah
Pesona Pohon Cinta Marisa, Pantai Sederhana dengan Laut Indah yang Bikin Betah
Di Tanah Dodap Bersatu, Syukur Menjadi Doa dan Kebersamaan Menjadi Berkat
Memikul Keranda, Menguatkan yang Berduka: Potret Kepemimpinan Humanis Kapolres Boltim
Selamat Jalan Amin Musa, Pengabdianmu Akan Selalu Hidup dalam Kenangan
Di Balik Riuh Bandara, Doa dan Persaudaraan Mengantar Langkah ke Tanah Suci
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:37 WITA

Kebaikan Rahman Salehe, Sederhana Namun Membekas di Hati

Rabu, 23 September 2026 - 20:04 WITA

Hadirnya Dokter Spesialis Adalah Sebuah Kelegaan. Winta: Terima Kasih PT ASA

Selasa, 22 September 2026 - 19:17 WITA

Pagi yang Penuh Haru di Sam Ratulangi, Samsudin Dama Titipkan Doa Untuk 15 Jemaah

Selasa, 15 September 2026 - 12:47 WITA

Pesona Pohon Cinta Marisa, Pantai Sederhana dengan Laut Indah yang Bikin Betah

Minggu, 13 September 2026 - 23:08 WITA

Di Tanah Dodap Bersatu, Syukur Menjadi Doa dan Kebersamaan Menjadi Berkat

Berita Terbaru