Titian Doa dari Masjid Nur Jannah ke Ka’bah

Catatan Matt Rey Kartorejo
ANGIN hangat menyelinap di antara tiang-tiang Masjid Nur Jannah, Tutuyan. Di bawah kubah yang menggantung sunyi dan sakral, gema doa mulai bergaung, seperti alunan harapan yang bersiap mengantar 28 jiwa menuju panggilan tertinggi dari langit: ibadah haji.
Hari itu, Minggu 18 Mei 2025, menjadi hari istimewa bagi Bolaang Mongondow Timur. Masjid itu tak hanya menjadi tempat sujud, tapi juga tempat pelepasan harapan, tempat berkumpulnya cinta dan keikhlasan. Bupati Boltim, Oskar Manoppo, S.E., M.M., berdiri di tengah lautan sanubari yang khusyuk. Dengan mata teduh dan suara penuh harap, ia melepas para tamu Allah yang telah dipilih oleh takdir untuk menapaki jejak Ibrahim dan Muhammad.
Turut mendampingi, sang istri yang juga Ketua TP-PKK Boltim, Ny. Rosita Manoppo-Pobela, S.E., M.Si., berdiri di sampingnya, bersama Penjabat Sekda Moh. Iksan Pangalima, S.Pi., M.A.P., para asisten, para pemimpin OPD, dan sosok yang senantiasa hadir dalam laku ibadah masyarakat Boltim: Kepala Kantor Kemenag Boltim, Dr. H. Aswin Kiay Demak, S.Ag., M.Pd.I., bersama jajaran yang selama ini membimbing dan menguatkan langkah.
Dalam sambutannya, Oskar memohon maaf atas keterlambatan acara. Pelepasan yang semula dijadwalkan pada hari Jumat harus bergeser karena himpitan agenda penting. Namun baginya, bisa hadir dan melepas secara langsung para jemaah adalah berkah tersendiri, lebih dari sekadar kewajiban seremonial. Itu adalah bagian dari doa yang dilafazkan dalam diam: semoga para peziarah Allah kembali membawa cahaya.
“Kesempatan ini adalah anugerah, kehormatan yang hanya diberikan kepada mereka yang terpilih,” ucapnya.

Wajah-wajah yang duduk bersila di hadapannya memancarkan sinar keyakinan, meski sebagian dari mereka menyimpan gelisah dalam dada: meninggalkan tanah kelahiran, keluarga, dan kenyamanan demi memenuhi rukun kelima, demi menyempurnakan keislaman.
Oskar mengingatkan, haji bukanlah kewajiban bagi semua, hanya bagi mereka yang benar-benar mampu, bukan hanya dari harta, tapi juga tubuh dan jiwa. Karena Tanah Suci bukanlah tempat wisata spiritual, melainkan gelanggang ujian keikhlasan, kesabaran, dan kerendahan hati.
“Di balik kelelahan, tersembunyi kekuatan ruhani. Di balik panasnya padang, terdapat kesejukan iman,” katanya.
Tahun ini, kuota jemaah Boltim meningkat. Ada rasa syukur yang diam-diam menyeruak, bahwa lebih banyak lagi yang bisa menjawab panggilan. Pemerintah pun turun tangan: memastikan perjalanan dari Tutuyan ke Asrama Haji di Tuminting, Manado, berjalan tanpa hambatan. Sebab ini bukan sekadar perjalanan biasa, ini adalah perjalanan menuju pemurnian jiwa.

Bupati kemudian menyampaikan lima pesan penting. Ia menyusunnya bukan seperti pejabat membaca naskah, tapi seperti ayah menasihati anaknya sebelum berlayar jauh:
Pertama, luruskan niat. Jangan bawa urusan dunia. Biarkan Tanah Suci menjadi tempat pengosongan diri.
Kedua, jaga tubuh. Haji adalah laku fisik yang melelahkan. Makanlah yang cukup, tidurlah dengan bijak.
Ketiga, penuhi waktu dengan dzikir dan doa. Terutama di tempat-tempat mustajab, di mana langit terbuka dan rahmat turun tanpa tirai.
Keempat, jaga nama baik daerah. Jaga ucapan, jaga perilaku. Jadilah duta Boltim yang membawa damai di antara jutaan umat Islam dari penjuru dunia.
Kelima, doakan Indonesia, doakan Boltim. Di tengah lautan manusia itu, sematkan satu doa untuk tanah yang membesarkan.
Sebelum mengakhiri, Oskar menyampaikan terima kasih kepada semua pihak, khususnya Kemenag Boltim yang telah membimbing dari manasik hingga keberangkatan. Ia tahu, di balik lancarnya sebuah perjalanan, ada tangan-tangan tak terlihat yang bekerja dalam diam.
Masjid Nur Jannah pun menjadi saksi perpisahan itu. Sebagian menitikkan air mata, bukan karena sedih, tapi karena bahagia yang terlalu dalam. Mereka tahu, yang pergi akan kembali dalam bentuk yang berbeda: lebih bening, lebih sabar, lebih hening dalam menghadapi dunia.
Sebelum meninggalkan halaman masjid, seluruh doa menggantung di langit Tutuyan, menemani 28 jiwa menuju Tanah Suci, menuju pelukan Tuhan. (*)



