Air Mata Empati: Kapolres Boltim Terharu Lihat Kondisi Azam
Kunjungan Singkat yang Mengubah Makna Harapan

Catatan: Matt Rey Kartorejo
TIMUR TIMES BOLTIM —
PADA Rabu yang lembab di awal Desember 2025, udara di Timur Totabuan seolah menahan napas ketika langkah Kapolres Boltim, AKBP Golfried Hasiholan Pakpahan, S.H., M.Si., tiba di rumah sederhana tempat Adik Azam berteduh bersama keluarganya. Bocah itu, yang selama ini bertarung dengan hari-hari tanpa kepastian makanan, hidup dalam kepolosan yang tak selaras dengan beratnya beban yang harus dipikul ayahnya seorang buruh pemetik kelapa yang bekerja dari fajar hingga senja demi sesuap harapan.
Melihat langsung keadaan Azam, Kapolres dan Ketua Bhayangkari Cabang Boltim, Ny. Joice Golfried, tak kuasa menyembunyikan getaran haru di mata mereka. Ada sesuatu yang sunyi namun kuat dalam pertemuan itu sejenis benang halus yang menjahit empati, tanggung jawab, dan kemanusiaan.
Di hadapan bocah kecil itu, Kapolres menundukkan wajah, lalu mengucapkan doa yang mengalir lirih namun tegas, seakan ingin menitipkan masa depan yang lebih lapang kepada semesta.
“Semoga kelak Adik Azam menjadi anak yang sukses dan berguna bagi bangsa, negara, serta keluarga,” tuturnya, penuh ketulusan yang menggugah.

Tak berhenti pada ungkapan simpati, Kapolres menyerukan ajakan bagi masyarakat Boltim yang tengah dirundung kesulitan agar tak ragu meminta pertolongan. Polres Boltim, bersama Pemerintah Daerah, dikatakannya membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang memerlukan uluran tangan.
“Polres Boltim dan Pemda Kabupaten Boltim selalu membuka pintu bagi masyarakat yang sedang mengalami kesulitan,” ucap pria kelahiran Jakarta Pusat, 6 Oktober 1976, itu sebuah pernyataan yang meluruhkan jarak antara aparat dan rakyat, menghadirkan harapan bagi mereka yang nyaris kehabisan cahaya.

Di sana, keheningan berubah menjadi janji tanpa suara: bahwa setiap langkah kecil menuju kebaikan akan menemukan jalannya. Azam tersenyum tipis, seolah memahami bahwa hari esok, betapapun samar, tetap layak diperjuangkan. Dan di balik matanya, tumbuh harapan kecil yang perlahan menyala, menunggu uluran kasih dunia yang belum sepenuhnya pudar. (*)



