
Bupati Boltim, Oskar Manoppo, saat melakukan peletakan batu pertama pembangunan rumah bagi korban kebakaran di Desa Kotabunan Barat./Foto: Istimewa
TIMUR TIMES BOLTIM
Catatan: Matt Rey Kartorejo
DALAM hangatnya pagi di awal November, cahaya mentari menembus lembut kabut tipis yang masih menggantung di Desa Kotabunan. Di sanalah, di tanah yang pernah diselimuti bara dan abu, sebuah harapan baru mulai ditanam. Bupati Bolaang Mongondow Timur, Oskar Manoppo, menundukkan kepala sejenak, lalu menempatkan batu pertama di tanah yang kini akan menjadi rumah bagi Bapak Arhap Asinang, korban kebakaran yang kehilangan tempat bernaung, namun tidak kehilangan semangat.

Tangan-tangan yang bekerja hari itu bukan sekadar membangun dinding dan atap, melainkan menata kembali asa yang sempat runtuh. Di sisi Bupati, Camat Kotabunan, Idrus Paputungan, berdiri mendampingi dengan senyum hangat. Sementara itu, suara lirih doa dan ucapan syukur warga mengalun, menyatu dengan desir angin yang membawa pesan kemanusiaan.
“Semoga proses pembangunan ini berjalan lancar dan membawa semangat baru bagi keluarga yang terdampak,” ucap Bupati Oskar, suaranya bergetar antara haru dan tekad. Kata-kata itu seakan menjadi jembatan antara luka dan penyembuhan, antara kehilangan dan kebangkitan.

Warga Kotabunan menyambut kepedulian itu dengan mata yang berbinar. “Terima kasih kami sampaikan kepada pemerintah atas perhatian dan dukungan ini. Semoga setiap kebaikan dibalas dengan keberkahan Allah SWT,” tutur seorang warga dengan suara yang mengandung keikhlasan.
Hari itu, di bawah langit Kotabunan yang biru kembali, batu pertama bukan hanya penanda pembangunan rumah, tetapi simbol kasih, bukti bahwa pemerintah dan rakyat masih berpegang tangan dalam duka dan bahagia. Semoga langkah kecil ini menjadi rahmat besar bagi Bolaang Mongondow Timur, dan menumbuhkan inspirasi kebaikan di setiap hati yang menyaksikannya. (*)



