
Dewi Athena Tri Manjadda bersama keluarga./Foto: Istimewa
Catatan: Matt Rey Kartorejo
LANGIT Timur Totabuan pagi itu bersih dan bening, seolah semesta tengah memberi restu. Kamis, 9 Oktober 2025, menjadi saksi bisu sebuah peristiwa yang tak hanya menggetarkan ruang kantor Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim), tapi juga menggugah hati mereka yang menyaksikan. Hari itu, bukan sekadar seremonial pelepasan seorang pelajar, melainkan momen ketika mimpi dan harapan bangsa menggenggam tangan kecil seorang anak negeri.
Dewi Athena Tri Manjadda, siswi kelas VI SDN 1 Buyat, Kecamatan Kotabunan, berdiri tegak dalam balutan seragam sederhana, namun sinar matanya memancarkan cahaya yang bahkan matahari pagi enggan menandingi. Ia bukan sekadar murid, ia adalah simbol dari kecerdasan, keberanian, dan ketekunan yang tumbuh dari tanah Totabuan Timur yang subur.
Dalam balutan suasana haru dan bangga, Bupati Boltim, Oskar Manoppo, menyampaikan kata-kata yang tak hanya bersifat administratif, melainkan keluar dari hati seorang ayah yang melepas anaknya ke medan juang:
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, saya menyampaikan apresiasi dan rasa bangga yang sebesar-besarnya. Ini adalah bukti nyata bahwa generasi muda kita memiliki potensi luar biasa di bidang ilmu pengetahuan, khususnya Matematika dan Sains, dua bidang yang menjadi fondasi utama kemajuan bangsa.”

Ucapan itu bukan hanya penghormatan, tetapi juga harapan yang bergema jauh ke pelosok desa-desa, agar anak-anak Boltim lainnya berani memandang bintang dan melangkah ke arah cahaya.
IMSCC (International Mathematical Science Creativity Competition), bukanlah ajang biasa. Di Suwon, Korea Selatan, ratusan anak dari penjuru dunia akan bertarung gagasan, menyusun logika, dan menampilkan kreativitas dalam sains dan matematika. Di antara mereka, Dewi Athena akan membawa nama Indonesia, Sulawesi Utara, dan Boltim, sebuah kabupaten kecil yang kini menyusup ke peta dunia lewat kecemerlangan pikir seorang siswi.
Ketua TP-PKK Boltim, Ny. Rosita Manoppo-Pobela, hadir dengan senyum hangat, menatap Dewi dengan mata seorang ibu. Ia berkata lembut namun penuh tekad, “Anak-anak adalah aset berharga bangsa. Kami dari TP-PKK Boltim ingin selalu hadir memberikan semangat dan dukungan agar mereka berani bermimpi besar serta membawa nama daerah di level internasional.”

Dari tangan perempuan itu, secarik kain harapan dibentangkan, bahwa setiap anak Boltim layak bermimpi, bahkan jika mimpinya melampaui batas cakrawala.
Hari itu, langit Totabuan seakan membuka jalan. Di bawahnya, seorang gadis kecil dari Buyat membawa nama Boltim, bukan hanya dalam paspor, tetapi dalam semangat, dalam kerja keras, dalam mimpi yang tak pernah kecil.
Karena dari ujung Timur, langkah-langkah kecil bisa mengguncang dunia. (*)



