FEATURE

Di Antara Lumpur dan Kesedihan, Kepedulian Salsabila Menjadi Cahaya

Bukan Sekadar Bantuan, Tetapi Pelukan Moral bagi Korban Banjir

Catatan: Matt Rey Kartorejo

DI BAWAH langit yang masih menyisakan mendung dan jejak luka, Desa Solimandungan Dua di Kecamatan Bolaang, Kabupaten Bolaang Mongondow, perlahan berusaha bangkit dari amukan banjir bandang yang datang tanpa aba-aba. Hujan yang turun deras pada malam hari seakan menumpahkan seluruh kesedihannya ke bumi, merendam rumah-rumah warga, menggenangi halaman yang selama ini menjadi tempat tumbuh harapan, serta memaksa banyak keluarga menyelamatkan apa saja yang masih bisa dipertahankan.

Di tengah suasana yang dipenuhi kecemasan dan kelelahan itu, hadir secercah cahaya yang menghangatkan hati masyarakat. Sosok tersebut adalah Salsabilah Mamonto, istri Anggota DPRD Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Rahman Salehe. Dengan langkah sederhana namun sarat makna, perempuan yang akrab disapa Salsa itu datang menjumpai warga yang tengah berjuang menata kembali kehidupan mereka.

Ia tidak datang dengan kemewahan atau seremonial yang berlebihan. Ia hadir membawa sembako dan kasur, kebutuhan yang begitu berarti bagi mereka yang sedang menghadapi masa sulit. Namun lebih dari sekadar bantuan fisik, kehadirannya membawa sesuatu yang tak kalah berharga: rasa peduli, empati, dan keyakinan bahwa mereka tidak sedang berjalan sendirian melewati cobaan ini.

Salsa menyapa warga satu per satu. Di setiap jabat tangan dan senyum yang ia berikan, terselip pesan bahwa kemanusiaan masih hidup dan tumbuh di tengah masyarakat. Di antara rumah-rumah yang masih basah oleh sisa banjir dan tumpukan barang yang belum sempat dirapikan, kehadirannya menjadi pengingat bahwa harapan selalu menemukan jalan untuk datang, bahkan setelah bencana meninggalkan luka yang dalam.

“Semoga bantuan ini dapat sedikit meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak banjir. Kami berharap kondisi segera membaik dan masyarakat bisa kembali menjalani kehidupan dengan normal,” ucapnya penuh ketulusan.

Foto: Istimewa

Bagi warga, bantuan yang diterima bukan hanya sebungkus sembako atau sebuah kasur untuk beristirahat. Bantuan itu menjelma menjadi simbol perhatian dan kasih sayang sesama manusia. Di saat mereka masih membersihkan rumah, mengangkat lumpur, dan merangkai kembali mimpi-mimpi yang sempat terhanyut arus, uluran tangan seperti inilah yang menjadi penguat langkah.

Tak heran jika aksi sosial tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat setempat. Sebab di tengah musibah yang melanda, Salsabilah Mamonto tidak sekadar datang membawa bantuan. Ia menghadirkan harapan, menyalakan semangat, dan mengingatkan bahwa di balik setiap bencana selalu ada hati-hati tulus yang siap membantu, menguatkan, serta menemani perjuangan menuju hari yang lebih baik. (*)

BERITA TERKAIT

Back to top button

badak88

dazbet

rajajp88

hokigacor

slot88

slot777

slot gacor

idnslot