Di Balik Senyum Elisa, Ada Luka dari Puncak Kelapa
Dari Karung Pasir, Elisa Berkisah tentang Luka dan Syukur

Elisa Pandaa./Foto: Istimewa
Oleh: Matt Rey Kartorejo
MINGGU sore, 17 Mei 2026, langit Kotabunan mulai merunduk dengan warna jingga lembut. Elisa Pandaa duduk di atas karung pasir, tubuhnya tegap namun mata memancarkan kelelahan yang tak dapat disembunyikan. Dengan suara yang serak namun tegas, ia mulai merangkai kisahnya, kisah seorang remaja Talaud yang meniti hidup dengan tangannya sendiri.
“Waktu aku kelas tiga SMA, aku mulai bekerja,” ujarnya, menunduk seolah menimbang kata-kata. “Aku tidak mau membebani orang tua. Satu pohon kelapa aku panjat, digaji delapan ribu rupiah. Kadang, bisa sampai tujuh puluh pohon dalam sehari.”
Pria yang akrab disapa Imba itu menatap jauh ke arah cakrawala, mungkin mengingat pohon-pohon tinggi yang dulu menjadi medan perjuangannya. “Suatu hari,” katanya sambil menekuk lutut, “aku jatuh dari pohon yang sangat tinggi. Sore itu baru habis hujan. Pohonnya licin, tapi aku tetap memanjat. Saat sampai di pucuk, tangga-tangga di atas masih basah, dan aku terpeleset. Untung aku sempat memegang batang kelapa, wajahku menghadap ke tanah, kalau tidak…” Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum getir.
Luka-luka di wajahnya cukup dalam, kuku kakinya copot, dan tubuhnya harus beristirahat selama satu minggu penuh.
“Jatuh dari pohon itu, kaki aku sakit, kuku copot. Tapi satu minggu saja aku sudah sehat,” ujar remaja 19 tahun itu sambil tersenyum, mata yang semula sendu kini bercahaya sedikit bangga.

Meski peristiwa itu menyisakan trauma, Imba tetap bersyukur.
“Tuhan masih sayang sama aku. Sampai hari ini, aku masih diberi kesempatan untuk bekerja,” ucap anak ketiga dari empat bersaudara itu.
Kata-katanya sederhana, tapi terasa berat dan tulus, seperti doa yang dihembuskan melalui napas yang panjang.
Kejadian di tahun 2025 telah mengukir pelajaran abadi: berhati-hati adalah harga yang harus dibayar untuk bertahan hidup. Imba kini menapaki hari-harinya dengan kesadaran baru, dengan tangan yang kuat namun penuh kehati-hatian. Setiap langkahnya, setiap sentuhan pada batang kelapa, adalah penghormatan pada nyawa yang pernah nyaris hilang.
Di sore itu, di atas karung pasir, di tengah warna jingga yang perlahan memudar, Imba bukan hanya bercerita tentang jatuh dan luka, tetapi tentang keberanian, ketekunan, dan syukur yang diam-diam mengalir dalam hidupnya.
Sampai hari ini, anak ketiga dari empat bersaudara itu masih terus bekerja. Dengan tangan yang tetap kuat dan hati yang lebih waspada, ia menjalani hidup sambil memelihara satu keyakinan sederhana: Tuhan masih menjaganya. (*)



